Sepertiga Remaja Alami Masalah Kesehatan Mental, Skrining Tanpa Pendampingan Tak Berarti

Share: X Facebook
47660-ilustrasi-anak-mengalami-gangguan-kesehatan-mental

Remaja Indonesia Hadapi Tantangan Kesehatan Mental: Skrining Perlu Pendampingan Efektif

Pondokkebaikan.com – Indonesia menghadapi situasi yang perlu mendapat perhatian khusus terkait kesehatan mental generasi mudanya. Berdasarkan hasil survei terbaru, tercatat bahwa hampir satu dari tiga remaja di negeri ini pernah mengalami gangguan kesehatan mental. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah psikologis pada kalangan remaja bukan lagi hal yang jarang terjadi, melainkan fenomena yang semakin signifikan.

Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 mencatat angka yang cukup mencengangkan. Sebanyak 15,5 juta remaja atau setara dengan 34,9 persen dari total populasi remaja Indonesia pernah mengalami masalah kesehatan mental. Data ini memberikan gambaran jelas tentang skala permasalahan yang dihadapi.

Konteks Global dan Makna Angka Tersebut

Angka tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan temuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Organisasi internasional tersebut menyebutkan bahwa satu dari tujuh remaja berusia antara 10 hingga 19 tahun di seluruh dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental. Perbandingan ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki proporsi yang cukup tinggi dibandingkan rata-rata global.

Rahmat Hidayat, yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, memberikan penjelasan penting mengenai interpretasi angka tersebut. Menurutnya, data yang dirilis merupakan lifetime prevalence, yaitu indikator yang menunjukkan seseorang pernah mengalami masalah kesehatan mental setidaknya satu kali sepanjang masa remajanya. Ini berarti banyak remaja mungkin pernah mengalami episode gangguan, namun belum tentu mengalaminya secara terus-menerus.

“Tetapi kalau ini berlanjut menjadi kesedihan tanpa habis, depresi, nah itu sudah menjadi masalah kesehatan jiwa,” kata Rahmat, Kamis (30/7/2026).

Membedakan Gejolak Normal dari Gangguan Nyata

Penting untuk dipahami bahwa tidak semua perubahan emosi pada remaja dapat langsung dianggap sebagai gangguan kesehatan mental. Rahmat menjelaskan bahwa krisis identitas, kebingungan, hingga penurunan rasa percaya diri merupakan bagian alami dari proses pertumbuhan menuju kedewasaan. Namun, ketika kondisi tersebut berlangsung lama dan semakin parah, maka perlu diwaspadai sebagai masalah kesehatan jiwa yang serius.

Menurut pakar tersebut, stres bukanlah sesuatu yang selalu negatif. Stres yang moderat justru dapat mendorong perkembangan. Yang menjadi masalah adalah ketika stres menjadi berlebihan dan berkepanjangan, sehingga melampaui kemampuan tubuh fisik maupun psikologis untuk menahannya. Tanpa adanya stres, manusia sebenarnya tidak akan pernah berkembang optimal.

“Stres itu tidak masalah yang menjadi masalah adalah stres yang berlebihan dan berkepanjangan sehingga melewati daya tahan tubuh fisik kita maupun psikologis kita. Kalau tanpa stres, orang tidak akan pernah berkembang,” ungkapnya.

Peran Lingkungan dan Dukungan Sosial

Tumpukan persoalan psikososial yang tidak terselesaikan dapat menjadi beban berat bagi remaja. Kehadiran keluarga, teman sebaya, serta lingkungan sekolah dan kampus yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi sangat berperan dalam mengurangi tekanan psikologis. Orang tua khususnya diminta untuk mampu membedakan antara memberi ruang bagi anak memproses emosi versus membiarkan anak menghadapi masalah sendirian.

Menurut Rahmat, membiarkan anak berbeda dengan memberi kesempatan. Orang tua yang ideal adalah yang memberikan ruang bagi anak untuk mengalami berbagai perasaan, namun juga menunjukkan kesiapan untuk mendukung kapan pun diperlukan tanpa menghakimi.

“Membiarkan berbeda dengan memberi kesempatan, memberi ruang, memberi space. Orang tua yang tepat adalah memberikan ruang bagi anak untuk mengalami, tetapi juga menunjukkan bahwa anytime kalau diperlukan siap mendukung dan tidak menghakimi,” paparnya.

Skrining dan Tindak Lanjut yang Efektif

Selain faktor keluarga, rendahnya literasi kesehatan mental masih menjadi penghambat dalam deteksi dini. Meskipun kesadaran masyarakat mulai meningkat, akses terhadap layanan psikologis tetap perlu diperkuat. Pemerintah didorong untuk terus menindaklanjuti kebijakan skrining kesehatan mental yang diterapkan di sekolah maupun perguruan tinggi.

Rahmat menekankan bahwa skrining tidak boleh berhenti hanya pada proses pendataan. Proses identifikasi harus diikuti dengan langkah konkret untuk membantu mereka yang terdeteksi memiliki masalah. Skrining yang efektif harus mampu tidak hanya mengenali adanya gangguan, tetapi juga menyediakan solusi pengobatan yang sesuai.

“Screening efektif, tetapi tidak cukup. Hanya mengenali sakitnya tanpa menyediakan cara mengobatinya itu seperti PHP saja,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rahmat juga mengajak remaja untuk tidak takut mencari bantuan ketika mulai merasakan gangguan kesehatan mental. Keberanian meminta pertolongan bukan merupakan tanda kelemahan, melainkan langkah penting agar masalah tidak berkembang menjadi lebih serius. Dari masalah kesehatan mental yang diatasi dengan baik, justru akan menjadi proses pertumbuhan pribadi menjadi sosok yang matang.

“Tidak perlu malu untuk meminta bantuan. Dari masalah kesehatan mental yang diatasi dengan baik, justru akan menjadi proses pertumbuhan pribadi menjadi sosok yang matang,” pungkasnya.

Frequently Asked Questions

What is Sepertiga Remaja Alami Masalah Kesehatan Mental?

Sepertiga Remaja Alami Masalah Kesehatan Mental is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sepertiga Remaja Alami Masalah Kesehatan Mental matter?

Sepertiga Remaja Alami Masalah Kesehatan Mental matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *