PLN Sebut Bukan Karena Batu Bara, DPRD Minta Penyebab Pemadaman Listrik di Kalbar Dibuka ke Publik
New Policy – Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang belakangan ini mengalami pemadaman listrik bergilir akibat gangguan teknis pada sistem pembangkit PLN. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat serta pelaku usaha yang merasakan dampak langsung dari interupsi pasokan energi. Dalam beberapa hari terakhir, PLN dituntut untuk memberikan penjelasan lebih rinci terkait penyebab gangguan dan upaya pemulihan yang dilakukan, agar kepercayaan publik tetap terjaga.
Permintaan Transparansi dari DPRD dan Bisnis Lokal
Banyak pihak, termasuk anggota DPRD dan pengusaha di wilayah Kalimantan Barat, menganggap PLN harus lebih transparan dalam menyampaikan informasi terkait pemadaman listrik. Mereka berharap pihak perusahaan listrik negara tersebut membagi detail penyebab gangguan, jadwal pemadaman, serta langkah-langkah untuk memperbaiki sistem kelistrikan. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan kerugian ekonomi yang ditimbulkan.
PLN sendiri menegaskan bahwa pemadaman tidak disebabkan oleh kelangkaan batu bara. Mereka menjelaskan bahwa interupsi ini lebih terkait dengan upaya manajemen beban listrik demi memulihkan keandalan sistem kelistrikan di wilayah Kalbar. Meski demikian, tuntutan transparansi tetap menjadi fokus utama dari para pelaku usaha yang merasa terganggu akibat ketidakpastian jadwal pemadaman.
Di Kota Singkawang, anggota DPRD mengatakan bahwa pemadaman listrik telah mengganggu berbagai aktivitas masyarakat. Ini meliputi kebutuhan rumah tangga, operasional usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), layanan publik, serta proses pendidikan. Perwakilan DPRD setempat, Sumberanto Tjitra, menyampaikan bahwa keadaan ini sangat berdampak pada kehidupan sehari-hari warga.
“Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Kota Singkawang menghadapi pemadaman listrik yang mencakup hampir seluruh area kelurahan. Kondisi seperti ini tentu menyebabkan gangguan signifikan pada aktivitas kehidupan sehari-hari,” ujarnya di Singkawang, Jumat.
Sumberanto menambahkan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap pasokan listrik PLN membuat setiap gangguan menjadi lebih berdampak. Ia menekankan bahwa informasi jelas tentang penyebab gangguan dan tindakan yang diambil sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik. Menurutnya, transparansi juga menjadi bagian dari tanggung jawab PLN sebagai penyedia layanan publik.
“Pemadaman dengan skala luas seperti ini cukup langka, bahkan bisa dikatakan belum pernah terjadi dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir,” ujarnya.
Permintaan transparansi ini bukan bermaksud menyalahkan PLN. Sumberanto menyebut bahwa sebelumnya layanan listrik di Kota Singkawang sudah cukup baik, termasuk respons cepat dari petugas ketika ada laporan gangguan. Namun, dalam skenario saat ini, ia menilai komunikasi dengan masyarakat harus lebih intensif.
Di sisi lain, pemadaman listrik juga berdampak signifikan pada operasional bisnis lokal. Di Kabupaten Bengkayang, Yanti, pemilik rumah laundry, mengakui bahwa gangguan energi menyebabkan kerugian finansial. Menurutnya, pemadaman yang terjadi tanpa pemberitahuan lebih dulu membuat bisnisnya sulit beradaptasi.
“Ketika pemadaman berlangsung dalam waktu lama tanpa pengumuman sebelumnya, operasional kita terganggu. Kami biasanya menerima pesanan cucian ekspres yang diantar pagi dan selesai sore. Tapi karena tidak tahu ada pemadaman, kami menerima pesanan namun tidak bisa memenuhi janji kepada pelanggan,” katanya.
Yanti memperkirakan bahwa kehilangan pendapatan mencapai sekitar Rp300 ribu per hari dari layanan cucian ekspres. Selain itu, keterlambatan penyelesaian cucian reguler memaksa pihaknya memberlakukan lembur bagi karyawan. Hal ini menyebabkan kenaikan biaya operasional. Menurutnya, penyelesaian pesanan yang terlambat bisa memicu ketidakpuasan pelanggan dan potensi kerusakan reputasi bisnis.
Di samping itu, Yanti berharap PLN bisa memberi informasi jadwal pemadaman setidaknya satu atau dua hari sebelumnya. Dengan begitu, bisnis lokal bisa lebih siap mengatur operasional dan mengurangi kerugian. Permintaan ini sejalan dengan harapan masyarakat bahwa PLN harus lebih proaktif dalam menyampaikan informasi terkait penyebab dan solusi pemadaman listrik.
Gangguan Energi dan Kesiapan Infrastruktur
Pemadaman listrik bergilir di Kalbar menunjukkan tantangan yang dihadapi PLN dalam mengelola sistem kelistrikan. Meski stok batu bara di daerah tersebut dianggap normal, pihak PLN tetap mengakui bahwa manajemen beban menjadi faktor utama dalam penyebab gangguan. Menurut informasi yang diberikan, upaya ini dilakukan untuk memastikan stabilitas jangka panjang dari pasokan energi.
Kondisi ini memicu pertanyaan terkait kesiapan infrastruktur listrik di Kalbar. Apakah sistem pembangkit dan distribusi energi sudah cukup memadai untuk menghadapi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat? Pertanyaan ini menjadi bahan diskusi dalam forum diskusi antara anggota DPRD dan perwakilan PLN.
Sumberanto Tjitra menekankan bahwa masyarakat berhak memperoleh penjelasan jelas terkait penyebab gangguan. Menurutnya, transparansi informasi tidak hanya penting untuk mengurangi kekhawatiran, tetapi juga membangun kepercayaan. Ia berharap PLN bisa memberikan penjelasan terperinci, termasuk kendala teknis yang dihadapi, jadwal normalisasi, dan langkah-langkah pencegahan di masa depan.
“Keterbukaan informasi adalah bagian penting dari pelayanan publik. Dengan adanya penjelasan yang jelas, masyarakat tidak perlu berspekulasi tentang penyebab gangguan,” ujarnya.
Permintaan transparansi ini juga dianggap penting dalam menciptakan hubungan yang lebih baik antara PLN dan masyarakat. Sumberanto mengungkapkan bahwa meski pemadaman listrik terjadi, PLN tetap memperlihatkan komitmen untuk memperbaiki kinerja. Namun, keterlibatan pihak publik dalam proses pengambilan keputusan diharapkan bisa meningkatkan efektivitas upaya pemulihan.
Di sisi lain, Yanti menyoroti kebutuhan bisnis lokal untuk memperoleh notifikasi jadwal pemadaman lebih awal. Pemadaman yang terjadi tanpa pemberitahuan H-1 menyebabkan ketidakpastian dalam pengelolaan operasional, terutama bagi usaha yang bergantung pada waktu tertentu untuk melayani pelanggan. Dengan informasi lebih dini, usaha kecil dan menengah bisa mengurangi kerugian dan mempersiapkan cadangan energi.
Sebagai bagian dari evaluasi, PLN berharap bisa melakukan revisi dalam sistem distribusi listrik. Selain itu, pihaknya berkomitmen untuk meningkatkan komunikasi dengan masyarakat. Menurut pernyataan dari manajemen PLN, upaya memperbaiki infrastruktur dan memastikan stabilitas pasokan energi akan menjadi prioritas dalam beberapa bulan ke depan.
Ketika pemadaman listrik bergilir terjadi, masyarakat Kalbar harus menghadapi tantangan ekonomi dan kehidupan sehari-hari yang lebih besar. Permintaan transparansi dari DPRD dan pelaku usaha tidak hanya tentang penyebab sementara, tetapi juga tentang keberlan



