Minta Polisi Buka Barikade, Mahasiswa: Bapak Nggak Capek Lindungi Pejabat yang Enak di Istana?

Minta Polisi Buka Barikade: Mahasiswa UI vs Aparat

Pondokkebaikan.com – Peristiwa yang kini viral di media sosial bermula dari satu kalimat tegas seorang mahasiswa UI di depan barikade polisi: minta polisi buka barikade mahasiswa agar ribuan rekannya bisa melanjutkan pawai ke Bundaran HI. Insiden itu terjadi Selasa, 18 Agustus 2026, sehari setelah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Ribuan mahasiswa yang berkumpul di kawasan Jalan Sudirman, tepat di depan Gedung UOB Jakarta, mendapati akses menuju titik aksi mereka tertutup rapat oleh pagar penghalang aparat.

Bundaran HI telah lama menjadi simbol ruang ekspresi politik mahasiswa di ibu kota. Posisi strategisnya di persimpangan kawasan pemerintahan dan bisnis membuat setiap pesan yang disampaikan dari titik itu langsung terdengar luas. Ketika jalur menuju lokasi tersebut ditutup, ketegangan antara massa dan aparat menjadi nyaris tak terelakkan.

Adu Argumen di Garis Depan Barikade

Momen paling menentukan terjadi saat seorang mahasiswa melangkah maju dan berhadapan langsung dengan Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Reynold EP Hutagalung. Ia menuntut agar pagar penghalang segera dibuka sehingga ribuan mahasiswa dapat mencapai titik kumpul yang sudah mereka tentukan sejak perencanaan aksi.

Nada suaranya meninggi ketika ia mempertanyakan logika di balik keputusan aparat:

“Kami mau ke HI, pak. Daripada kita lama-lama di sini, kami menyampaikan aspirasi di HI. Dan pihak yang kami serang hari ini bukan kepolisian, pak. Tapi pejabat. Emang bapak enggak capek dengan anggota bapak hari ini melindungi pejabat yang enak-enak di Istana Negara.”

Mahasiswa itu juga mengungkapkan rasa iba terhadap anggota polisi yang menurutnya terpaksa berdiri berhadapan dengan masyarakat. Pernyataan tersebut menggarisbawahi inti persoalan: bukan sekadar jarak fisik antara massa dan tujuan, melainkan persepsi bahwa aparat lebih sibuk menjaga pejabat di Istana daripada menjamin hak warga menyampaikan pendapat di muka umum.

Jawaban Kepolisian: Satu Lajur di Sudirman

Kombes Reynold EP Hutagalung menegaskan bahwa aparat menghormati hak konstitusional mahasiswa. Namun, ia tidak memberikan izin bagi massa untuk bergerak ke Bundaran HI. Sebagai alternatif, polisi membuka satu lajur di Jalan Sudirman sebagai ruang bagi mahasiswa menyampaikan aspirasi mereka.

“Kami di sini menjaga keamanan dan ketertiban. Lakukan perjuangan aspirasi rekan-rekan tanpa mencederai apa pun perbuatan yang rekan-rekan lakukan,” ujar Reynold kepada massa.

Bagi aparat, satu lajur dianggap memadai untuk mengakomodasi ekspresi politik tanpa memicu kemacetan di kawasan yang padat lalu lintas. Massa mahasiswa menolak tawaran itu dan bertahan di depan barikade. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada pihak yang mengalah.

Delapan Tuntuan yang Membawa Aksi ke Jalanan

Aksi ini merupakan kelanjutan dari rencana yang telah disusun sebelumnya oleh ratusan mahasiswa UI. Mereka membawa delapan tuntutan yang mencakup spektrum isu politik, ekonomi, hukum, dan kesejahteraan:

1) Menghentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri. 2) Menghentikan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). 3) Mewujudkan reforma agraria sejati. 4) Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM. 5) Mengevaluasi total PSN serta menghentikan MBG dan KDMP. 6) Menghentikan pemusatan kekuasaan, pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), dan mengembalikan otonomi daerah. 7) Menetapkan status bencana nasional untuk wilayah Sumatra dan Flores serta mempercepat pemulihan daerah terdampak. 8) Menghentikan represivitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil serta membubarkan YON TP.

Poin-poin tersebut menyentuh persoalan struktural yang selama ini menjadi keluhan publik: dari praktik korupsi hingga beban harga bahan pokok. Poin keenam menyoroti ketimpangan fiskal pusat-daerah, poin ketujuh merujuk bencana alam di Sumatra dan Flores, sementara poin kedelapan menyentuh sensitivitas relasi sipil-militer yang kerap memicu perdebatan di ruang publik Indonesia.

Dampak pada Lalu Lintas dan Warga Sekitar

Kehadiran ribuan mahasiswa di kawasan Jalan Sudirman mengganggu operasional transportasi publik. Pengguna Transjakarta di Koridor 1 hingga Rute 9D mengalami keterlambatan dan pengalihan rute sementara. Warga sekitar yang beraktivitas di kawasan perkantoran juga merasakan efek domino berupa penumpukan kendaraan di jalur alternatif. Aparat berjanji akan membuka kembali arus lalu lintas secara bertahap setelah massa aksi bergerak.

FAQ: Hal yang Perlu Diketahui

Di mana tepatnya mahasiswa UI terjebak? Di depan Gedung UOB Jakarta, kawasan Jalan Sudirman, Selasa 18 Agustus 2026. Barikade polisi menutup akses menuju Bundaran HI yang menjadi titik tujuan aksi.

Apa yang diminta mahasiswa kepada aparat? Mereka menuntut agar barikade dibuka sehingga ribuan mahasiswa dapat melanjutkan pawai ke Bundaran HI dan menyampaikan aspirasi di titik yang telah ditentukan sejak awal perencanaan aksi.

Apa jawaban pihak kepolisian? Kombes Reynold EP Hutagalung, Kapolres Metro Jakarta Pusat, menyatakan menghormati hak konstitusional mahasiswa namun tidak mengizinkan pergerakan ke Bundaran HI. Polisi menyediakan satu lajur di Jalan Sudirman sebagai alternatif ruang ekspresi.

Berapa jumlah tuntutan yang dibawa mahasiswa? Delapan tuntutan, mencakup isu korupsi, reforma agraria, harga kebutuhan pokok, kebijakan PSN/MBG/KDMP, otonomi daerah, pemulihan bencana di Sumatra dan Flores, serta relasi sipil-militer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *