AI dan Generasi Muda: Tren Curhat yang Perlu Diwaspadai
Kehati-hatian dalam Berbagi Data Pribadi
Tren Curhat ke AI Meningkat Pakar – Di era digital yang semakin maju, fenomena generasi muda yang mencurahkan perasaan dan pengalaman pribadi kepada artificial intelligence (AI) mengalami peningkatan signifikan. Meskipun kesadaran akan potensi kebocoran data pribadi terus tumbuh, masih banyak kalangan muda yang tidak ragu untuk berbagi cerita intim dengan chatbot.
Menurut hasil survei terbaru dari Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI), sebanyak 63,2 persen responden menyatakan bahwa mereka tetap membagikan cerita pribadi kepada AI. Angka ini cukup mencengangkan mengingat sebagian besar dari mereka juga menyadari adanya risiko terhadap keamanan data yang mereka berikan.
Statistik yang Menunjukkan Kekhawatiran Pengguna
Temuan riset tersebut mengungkap beberapa angka penting lainnya. Sebanyak 88,7 persen responden meyakini bahwa AI kemungkinan besar menyimpan data percakapan mereka. Selain itu, 90,9 persen menilai bahwa kebijakan privasi yang diterapkan platform AI saat ini belum cukup jelas bagi pengguna awam.
Yang lebih mengkhawatirkan, 75,1 persen responden menyatakan kekhawatiran bahwa data pribadi mereka dapat disalahgunakan oleh pihak tertentu. Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar mengingat semakin banyaknya kasus penyalahgunaan data di era digital.
Pandangan Ahli tentang Penggunaan AI
Nix Hadid Alonzo Permadi, sebagai founder Sobat Literasi Indonesia, memberikan penekanan penting mengenai sikap kritis yang harus dimiliki pengguna AI. Menurutnya, masyarakat perlu selalu mempertanyakan kebenaran informasi yang diterima dari AI.
> “Yang perlu terus kita tanyakan setiap kali pakai AI itu sederhana. Informasi ini benar atau tidak, dari mana sumbernya, apakah ada bias, apakah data saya aman, dan informasi apa yang sebaiknya tidak saya bagikan ke AI,” ujar Nix dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).
Informasi yang Sebaiknya Tidak Dibagikan
Berdasarkan temuan riset serta prinsip-prinsip perlindungan data pribadi, terdapat sejumlah kategori informasi yang sebaiknya tidak dibagikan kepada AI. Kategori-kategori ini meliputi:
– Nomor identitas pribadi seperti NIK, paspor, atau SIM – Kata sandi (password) dan kode OTP – Nomor rekening maupun data kartu pembayaran – Dokumen pribadi yang bersifat rahasia – Informasi sensitif mengenai kondisi kesehatan, keluarga, maupun persoalan pribadi yang dapat mengungkap identitas
Meskipun AI dapat menjadi teman diskusi yang nyaman, psikolog sosial Syurawasti Muhiddin memberikan peringatan penting. Ia menegaskan bahwa chatbot tidak memiliki kapasitas untuk menggantikan peran konselor atau psikolog profesional.
> “AI dapat menjadi alat bantu, tapi jika seseorang membutuhkan diagnosis medis atau psikologis yang akurat, AI tidak memiliki kapasitas untuk menyediakannya,” jelas Syura.
Menurut Syurawasti, AI sebaiknya diposisikan sebagai sistem pendukung, bukan pengganti bantuan profesional ketika seseorang menghadapi persoalan psikologis yang serius.
Kesimpulan
Tren curhat ke AI memang semakin meningkat, namun pengguna perlu tetap berhati-hati. Menjaga kerahasiaan identitas dan data sensitif merupakan langkah penting agar tidak disalahgunakan oleh platform teknologi AI tersebut. AI hanya berfungsi sebagai alat bantu dan tidak dapat menggantikan peran konselor profesional sepenuhnya.
—
8 Wilayah Nikmati Blanket Coverage, Jaringan 5G XLSmart Kini Jangkau Jawa Timur



