Laut Itu Terlalu Luas, Ketika Anak-anak Firdaus Wajidi Menatap Titik Terakhir Sang Ayah Berkarya

81327-istri-dan-anak-firdaus-wajidi-menabur-bunga

Laut Itu Terlalu Luas Ketika Keluarga Firdaus Mengenang

Pondokkebaikan.com – Laut Itu Terlalu Luas Ketika keluarga Firdaus Wajidi kembali menatap Selat Sunda, perairan yang menjadi titik terakhir sang fotografer menjalankan tugas jurnalistiknya. Astrid Puspita, istri Firdaus, bersama keluarga dan kerabat menggelar tabur bunga untuk mengenang suami, ayah, serta rekan yang belum pulang sejak 7 September 2026.

Firdaus Wajidi adalah fotografer Anadolu Agency yang bertugas dalam perjalanan peliputan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Ia termasuk delapan orang yang hilang setelah kapal cepat Arupadhatu I lenyap di perairan Selat Sunda saat rombongan menuju Pulau Sebesi, Lampung.

Bagi keluarga, perjalanan ke laut itu bukan sekadar prosesi penghormatan. Mereka datang untuk mendekat dengan lokasi terakhir Firdaus bekerja, di tengah penantian yang masih menyisakan ketidakpastian.

Pesan Terakhir Menjelang Penyeberangan

Astrid mengenang percakapan singkat dengan Firdaus menjelang pukul 14.00 WIB pada hari keberangkatannya. Dalam pesan tersebut, Firdaus memberi kabar bahwa ia sedang bersiap menyeberang menuju Pulau Sebesi.

Balasan Astrid dikirim pada pukul 14.38 WIB. Namun, pesan itu tidak pernah diterima Firdaus dan hanya menunjukkan satu tanda centang. Sejak saat itu, Astrid tidak lagi mendapat jawaban dari suaminya.

Dalam cerita Laut Itu Terlalu Luas Ketika ini, pesan singkat tersebut menjadi kenangan yang sangat personal bagi Astrid. Kabar terakhir itu mengingatkannya pada pekerjaan Firdaus sekaligus awal dari penantian panjang keluarga.

Firdaus, Ayah yang Berbagi Peran di Rumah

Kehilangan Firdaus tidak hanya dirasakan sebagai hilangnya seorang suami. Astrid mengenangnya sebagai ayah yang aktif mendampingi anak-anak dan berbagi tanggung jawab dalam keseharian keluarga.

“Dia benar-benar membantu saya mengasuh anak-anak. Kita benar-benar ngasuh berdua,” kata Astrid.

Menurut Astrid, mereka menjalani pengasuhan bersama, menemani anak-anak, dan saling menopang dalam urusan rumah. Kehadiran Firdaus membuat kehidupan keluarga dijalankan sebagai kemitraan yang erat.

Astrid juga mengenang Firdaus sebagai pribadi yang berusaha memenuhi kebahagiaan keluarganya.

“Tidak ada kata tidak, apa pun yang kami inginkan hampir semua diiyakan sama dia,” ujarnya.

Kenangan kecil tentang perhatian dan keterlibatan Firdaus kini terasa semakin berarti. Kehilangannya hadir dalam banyak ruang sehari-hari, dari pengasuhan anak hingga kebiasaan keluarga yang sebelumnya dijalani bersama.

Tabur Bunga untuk Delapan Orang yang Hilang

Gagasan tabur bunga di Selat Sunda datang dari Astrid. Ia ingin memberi penghormatan kepada Firdaus, sekaligus mengenang tujuh orang lain yang hilang bersama Arupadhatu I.

Rencana itu dibicarakan terlebih dahulu dengan keluarga Astrid, termasuk ibu, ayah, dan kakak-kakaknya. Setelah mendapat persetujuan, Astrid menghubungi keluarga Firdaus dan memperoleh sambutan baik. Citra, sahabat Firdaus, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Prosesi Laut Itu Terlalu Luas Ketika menjadi ruang bagi keluarga dan sahabat untuk berkumpul dalam duka yang sama. Tabur bunga menjadi simbol penghormatan kepada orang-orang yang hilang, masing-masing dengan keluarga, pekerjaan, dan kehidupan yang mendadak terputus.

Perjalanan Liputan yang Berubah Menjadi Penantian

Keberangkatan Firdaus ke kawasan Gunung Anak Krakatau merupakan bagian dari tugas peliputannya sebagai fotografer. Namun, perjalanan pada 7 September 2026 itu berakhir dengan hilangnya kapal cepat Arupadhatu I di Selat Sunda.

Selat Sunda, yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatra, kini memiliki arti mendalam bagi keluarga Firdaus. Perairan tersebut menjadi lokasi terakhir seorang ayah, suami, sahabat, dan fotografer menjalankan pekerjaannya.

Tabur bunga tidak menghapus duka dan penantian keluarga. Namun, prosesi itu memberi mereka kesempatan untuk menyampaikan penghormatan serta menjaga kenangan Firdaus Wajidi tetap hidup.

FAQ

Siapa Firdaus Wajidi?

Firdaus Wajidi adalah fotografer Anadolu Agency yang hilang dalam perjalanan peliputan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026.

Di mana kapal Arupadhatu I hilang?

Kapal cepat Arupadhatu I hilang di perairan Selat Sunda saat rombongan dalam perjalanan menuju Pulau Sebesi, Lampung.

Mengapa keluarga mengadakan tabur bunga?

Keluarga mengadakan tabur bunga untuk mengenang Firdaus Wajidi dan tujuh orang lain yang hilang bersama kapal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *