Key Strategy: Triana ke Mahasiswa: Jangan Lupakan Reformasi Agraria, Tanpa Itu Indonesia Tak Akan Berubah

Share: X Facebook
74767-sekretaris-jenderal-serikat-perempuan-indonesia-seruni-triana

Triana Ke Mahasiswa: Jangan Lupakan Reformasi Agraria, Tanpa Itu Indonesia Tak Akan Berubah

Key Strategy – Dalam aksi demonstrasi yang berlangsung di Jakarta, Sekretaris Jenderal Serikat Perempuan Indonesia (Seruni), Triana, mengajak generasi muda untuk memperkuat isu reformasi agraria. Menurutnya, kebijakan ini menjadi kunci utama untuk mengatasi masalah kemiskinan dan ketimpangan penggunaan lahan di Indonesia. Tanpa adopsi reformasi agraria, ia berpendapat, negara ini sulit mencapai perubahan besar yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat luas.

Triana menyoroti bahwa dominasi sumber daya alam oleh kelompok kecil menjadi penghambat utama bagi keberlanjutan pembangunan. “Sumber daya alam yang melimpah di Indonesia justru dipegang oleh segelintir pihak,” ujarnya. Dalam wawancara dengan Suara.com, ia menjelaskan bahwa keadaan ini memperparah ketidaksejahteraan dan mengurangi peluang kerja bagi masyarakat pedesaan. “Monopoli tanah adalah penyebab utama krisis ekonomi dan kemiskinan yang terus berlangsung,” tambahnya.

Reformasi Agraria Sebagai Solusi

Mengingat hal tersebut, Triana menekankan perlunya pemerintah melakukan distribusi tanah secara adil kepada petani. Ia menilai langkah ini adalah jalan untuk menciptakan perubahan nyata, terutama bagi komunitas yang selama ini terpinggirkan. “Jika tanah diberikan kepada rakyat, kita bisa mengubah struktur perekonomian dan mengurangi ketimpangan,” jelasnya.

“Kaum intelektual bertugas menaikkan isu agraria, kaum tani, dan reformasi agraria,” ujarnya tegas. Triana menyoroti bahwa isu-isu ini seringkali ditinggalkan oleh pihak-pihak yang berkuasa, sehingga memperkuat dominasi kelas borjuasi dan tuan tanah.

Dalam konteks ini, Triana juga mengkritik kebijakan pemerintah yang ia anggap tidak mampu mendorong perubahan. Misalnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dinilainya hanya penutup mulut, karena tidak menyelesaikan akar masalah. “Sistem pemerintahan kita sebagian terpengaruh oleh sistem jajahan, sebagian lagi berbentuk feodal,” lanjutnya. “Ini membuat banyak kebijakan justru memperkuat dominasi borjuasi besar dan tuan tanah, yang difasilitasi oleh kapitalis birokrat seperti Prabowo dan pemerintah saat ini.”

Keterlibatan Mahasiswa dalam Gerakan Sosial

Menurut Triana, mahasiswa tidak boleh hanya fokus pada isu-isu politik dan ekonomi perkotaan, tetapi juga harus terlibat dalam gerakan rakyat pedesaan. “Gerakan di perkotaan harus membantu kaum tani. Biar maju dulu (kaum tani)! Tanpa itu, enggak ada perubahan signifikan di Indonesia,” tegasnya seusai berorasi dalam aksi “Menuju Indonesia Gelap” di Jakarta.

Ia menambahkan bahwa reformasi agraria bukan hanya isu teknis, tetapi juga isu struktural yang menyangkut keadilan sosial. “Reformasi agraria adalah jalan untuk membangun bangsa yang lebih maju. Indonesia memiliki potensi besar, tetapi belum dimanfaatkan karena penguasaan sumber daya alam yang tidak merata,” jelasnya.

Isu Penguasaan Sumber Daya dan Pengangguran

Triana menjelaskan bahwa ketimpangan dalam penggunaan sumber daya alam memicu pengangguran di sektor pertanian. “Karena hanya satu persen orang yang menguasai 99 persen sumber daya alam, masyarakat pedesaan kesulitan mengakses lahan untuk berproduksi,” katanya. Dalam konteks ini, ia menilai bahwa kesejahteraan masyarakat hanya bisa tercapai jika lahan dialokasikan secara adil.

“Sistemnya aja sudah korup. Ini sudah serampangan. Itu mengapa kita menolak MBG dan Koperasi Desa Merah Putih karena tidak ada gunanya,” ungkapnya merujuk pada salah satu tuntutan aksi massa kali ini.

Menurut Triana, penciptaan 19 juta lapangan pekerjaan yang dijanjikan pemerintah tidak akan berdampak signifikan tanpa adanya reformasi agraria. “Dengan reformasi agraria, peluang kerja justru bisa tercipta secara alami. Petani yang diberi lahan akan bisa membangun usaha kecil, mengurangi ketergantungan pada korporasi, dan menciptakan ekonomi lokal,” tambahnya.

Kritiknya juga menyasar rencana pembangunan 750 Batalion Teritorial Pembangunan. Ia mengungkapkan bahwa program ini berpotensi digunakan sebagai alat untuk menghadang gerakan rakyat. “Sementara kita ingin bangkitkan gerakan rakyat kaum tani di pedesaan, batalion dibangun pasti kan fungsinya untuk meredam gerakan rakyat,” katanya.

Potensi Reformasi Agraria dalam Pembangunan Nasional

Dalam wawancara, Triana menekankan bahwa reformasi agraria bisa menjadi pendorong utama untuk Indonesia menjadi bangsa maju. “Kita memiliki syarat-syarat yang memadai, seperti jumlah penduduk besar dan sumber daya alam melimpah,” ujarnya. “Tapi kenapa belum bisa? Karena ada yang monopoli. Satu persen orang menguasai 99 persen sumber daya alam, sementara rakyat hanya diberi sebagian kecil,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa kebijakan yang tidak merata akan memperparah ketimpangan. “Jika sumber daya dibagi secara merata, maka tidak akan ada orang miskin,” ujarnya. “Namun, penguasaan sumber daya alam tetap berlangsung, sehingga perubahan belum tercapai meskipun ada berbagai program bantuan.”

Triana menilai bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam mendorong reformasi agraria. “Mereka adalah bagian dari massa aksi dan harus menjadi pelaku perubahan,” tegasnya. Ia berharap generasi muda tidak hanya fokus pada isu-isu seputar pendidikan dan politik, tetapi juga menyuarakan kebutuhan masyarakat pedesaan yang selama ini terabaikan.

Dengan demikian, Triana mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama mahasiswa, untuk bersatu memperjuangkan reformasi agraria. Menurutnya, ini adalah langkah kritis agar Indonesia benar-benar menjadi negara yang adil dan progresif. “Tanpa reformasi agraria, perubahan hanya akan bersifat permukaan dan tidak mampu mengatasi akar masalah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *