Isak Tangis Iringi Pemakaman 5 Korban Bom PD II di Biak – Maut yang Terpendam Puluhan Tahun

Share: X Facebook
3ed9735c-30f7-42df-8192-691f12bf618d-0

Pemakaman Korban Ledakan Bom Perang Dunia II di Biak Berlangsung dengan Isak Tangis Warga

Isak Tangis Iringi Pemakaman 5 Korban – Kota Biak, Papua, menjadi sorotan pada Senin (1/6/2026) saat lima jenazah korban ledakan bom Perang Dunia II dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Inggiri. Peristiwa maut ini, yang terjadi puluhan tahun silam, kembali menggemparkan masyarakat setelah empat puluh lima tahun berlalu sejak kejadian pertama. Meski terdengar janggal, ledakan tersebut ternyata masih menimbulkan dampak yang nyata, menewaskan lima orang dan mengakibatkan ratusan warga terpaksa berpindah tempat tinggal.

Kejadian Ledakan yang Mengguncang Kota Biak

Insiden memilukan terjadi di kawasan perikanan Jalan Wolter Monginsidi, Biak, pada Minggu (31/5) sekitar pukul 14.45 WIT. Bom yang merupakan peninggalan Perang Dunia II meledak secara tak terduga, menimbulkan gelombang kejutan yang menghancurkan bangunan sekitarnya. Letusan tersebut menyebabkan kerusakan serius pada tempat tinggal warga, hingga sembilan rumah rusak dan 55 orang terpaksa mengungsi. Masyarakat langsung terkejut, karena kejadian itu menyerupai kisah dari masa lalu yang sempat dianggap sudah tersimpan dalam sejarah.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Cahyo Sukarnito menjelaskan, kelima korban ledakan bom peninggalan PD II adalah Deflin Raubaba (41 tahun), Moris Raubaba (24 tahun), Karmila Ayorbaba (25 tahun), Israel Raubaba (7 tahun), dan Isril Raubaba (5 tahun). Selain mengakibatkan kematian, insiden itu juga membuat tiga orang hilang dan 19 warga lainnya terluka.

Pemakaman lima jenazah tersebut berlangsung sederhana tetapi penuh kesedihan. Warga setempat, termasuk keluarga korban, mengiringi prosesi dengan air mata yang mengalir deras. Sementara itu, pihak kepolisian dan pemerintah daerah terus berupaya mencari tiga warga yang masih dinyatakan hilang, yaitu Yulianus Raubaba (26 tahun), Lae Madura (45 tahun), dan Abis Marandof (27 tahun). Dalam pernyataannya, Sukarnito menekankan bahwa 55 orang yang rumahnya rusak saat ini ditampung di tempat penampungan yang disediakan oleh Pemda Biak Numfor.

Bayangan Masa Lalu yang Kembali Menghiasi Kehidupan Sekarang

Kecelakaan yang disebabkan oleh bom PD II ini menjadi pengingat keras tentang bagaimana perang yang berlangsung sejak 1940-an masih meninggalkan jejak-jejaknya hingga kini. Biak, yang pernah menjadi lokasi penting dalam Perang Dunia II, kembali dihiasi oleh ketakutan akibat penemuan bom yang tidak disangka-sangka. Sejumlah warga mengungkapkan bahwa mereka sempat berpikir bom itu adalah benda tak berbahaya, hingga meledak tanpa peringatan.

Menurut laporan, ledakan tersebut menimbulkan kepanikan di tengah warga, terutama karena lokasi kejadian berada di daerah padat penduduk. Banyak dari mereka yang berlarian ke tempat aman, sementara yang lain terluka dan harus dilarikan ke rumah sakit. Dampak ekonomi juga terasa, karena beberapa warga terpaksa menghentikan aktivitas sehari-hari untuk berupaya memperbaiki rumah yang rusak atau mencari tempat tinggal sementara.

“Memang sebanyak 55 orang dilaporkan mengungsi itu kini ditampung di penampungan yang disediakan Pemda Biak,” kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Cahyo Sukarnito sebagaimana dilansir Antara.

Dalam upaya memastikan keamanan, pihak kepolisian melakukan pemeriksaan terhadap area sekitar ledakan. Diketahui bom tersebut tergeletak di antara bangunan lama yang masih ada di kawasan perikanan. Warga setempat mengatakan bahwa mereka sebelumnya tidak mengetahui keberadaan bom itu, hingga kejadian tiba-tiba terjadi. “Kami hanya berpikir itu adalah barang bekas, bukan lagi ancaman,” ujar salah satu saksi mata, yang tidak ingin disebutkan namanya.

Insiden ini memicu perhatian warga dan pemerintah setempat untuk menyelidiki lebih lanjut apakah masih ada peninggalan perang lain yang berpotensi meledak. Sejumlah petugas dari dinas pemadam kebakaran dan tim pencari jejak mengambil langkah preventif dengan memeriksa bangunan-bangunan tua di kawasan tersebut. Mereka khawatir, terdapat bom lain yang belum ditemukan, sehingga bisa menimbulkan ancaman serupa di masa depan.

Korban dan Dampak Sosial yang Tersisa

Dari jumlah 55 orang yang mengungsi, sebagian besar adalah keluarga korban. Sementara itu, tiga warga yang hilang terus menjadi prioritas pencarian pihak berwenang. Kombes Sukarnito menegaskan bahwa tim penyelidik masih berupaya memastikan nasib mereka, meski prosesnya memakan waktu lama. “Kami tidak menyerah, meskipun sampai saat ini belum ditemukan keberadaan tiga korban yang hilang,” tambahnya.

Kondisi kota Biak saat ini sedang dipantau oleh pemerintah setempat, terutama dalam hal ketersediaan fasilitas pendukung untuk warga yang terdampak. Penampungan sementara yang disediakan oleh Pemda Biak Numfor terus diperluas, dengan harapan bisa menampung kebutuhan warga sebelum rumah-rumah rusak benar-benar diperbaiki. Selain itu, para korban yang masih hidup juga menerima bantuan kesehatan dan psikologis, sebagai bentuk dukungan dari pemerintah dan masyarakat.

Masyarakat Biak kini berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya benda-benda peninggalan perang. Mereka menilai, perlu dilakukan edukasi lebih masif tentang cara mengenali dan menghindari ancaman dari bangunan lama atau benda yang masih bisa berfungsi sebagai bom. “Kami ingin tidak ada lagi kejadian seperti ini di masa depan,” ujar warga setempat, mengakhiri pembicaraan dengan harapan.

Kembali ke Akar Sejarah: Biak sebagai Lokasi Strategis PD II

Biak, yang dikenal sebagai salah satu pulau strategis selama Perang Dunia II, menjadi lokasi penting bagi pasukan Sekutu dalam perang melawan Jerman Nazi. Banyak benda peninggalan perang masih terjaga di kawasan tersebut, termasuk senjata api, granat, dan bom yang tertinggal setelah perang usai. Ledakan pada Minggu (31/5) kemarin, yang berlangsung di komplek perikanan, menjadi bukti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *