Balita Tewas Terjatuh ke Lubang Galian di Manggarai, DPRD Desak Standar Pengamanan Diperketat

Share: X Facebook
89576-ketua-komisi-d-dprd-dki-yuke-yurike

Balita Tewas Terjatuh ke Lubang Galian di Manggarai, DPRD DKI Minta Standar Keamanan Diperketat

Pondokkebaikan.com – Seorang balita berusia empat tahun, Izra (Ocha), meninggal setelah terjatuh ke dalam lubang galian yang sedang digunakan untuk proyek konstruksi di Manggarai, Jakarta Selatan. Kejadian ini terjadi pada hari Sabtu, 27 Juni 2026, sekitar pukul 23.40 WIB, saat anak tersebut bermain bersama temannya di sekitar area proyek. Lubang yang memiliki kedalaman sekitar 3,5 hingga 4 meter dan diameter hanya 30×30 sentimeter menjadi tempat kecelakaan mematikan yang menggemparkan warga setempat.

Petugas gabungan berusaha menyelamatkan korban pada hari Minggu dini hari, namun upaya tersebut tidak berhasil menyelamatkan nyawa Izra. Setelah dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit, anak kecil itu dinyatakan meninggal dunia tidak lama kemudian. Evakuasi manual awalnya dilakukan dengan mencari personel yang berbadan kecil untuk masuk ke dalam lubang, tetapi prosesnya terhambat karena ukuran lubang yang sempit serta kondisi korban yang mengalami trauma.

Koordinasi Pihak Terkait untuk Mempercepat Proses Penyelamatan

Menyusul kejadian tersebut, Polsek Tebet bekerja sama dengan Dinas Pemadam Kebakaran, Puskesmas Tebet, dan RSUD Tebet mengambil langkah-langkah lebih lanjut. Dua unit ekskavator dipinjam dari lokasi terdekat untuk membantu penggalian. Sebelum operasi dimulai, petugas melakukan konsolidasi untuk membuka jalur aman di samping lubang, menghindari risiko longsor. Police line juga dipasang guna melindungi tempat kejadian perkara (TKP) dari kerumunan warga yang menonton, terkadang mengganggu proses penyelamatan.

“Kemarin itu harusnya ada antisipasi pengamanannya. Barrier-kah, terus juga lebih kelihatan, lebih eye-catchy gitu,” kata Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, Senin (29/6/2026). Ia menegaskan bahwa pengamanan di area galian perlu diperketat untuk mencegah kejadian serupa terulang, khususnya di malam hari.

Yuke juga menyoroti pentingnya pemasangan tanda dan rambu-rambu yang lebih jelas, termasuk penggunaan lampu untuk meningkatkan visibilitas. “Kalau perlu dikasih lampu juga, nggak cuma tulisan dikasih gambar gitu. Jadi yang bisa mengantisipasi tidak terjadi hal-hal seperti kemarin,” ujarnya dalam wawancara di gedung DPRD DKI Jakarta.

DPRD DKI Jakarta berharap seluruh kontraktor proyek di kota ini mematuhi peraturan dan meningkatkan tanggung jawab dalam pengawasan lokasi. Yuke mengingatkan bahwa area galian di Jakarta terus berkembang, baik proyek pemerintah maupun swasta, sehingga standar keamanan harus ditingkatkan agar mencegah risiko serupa. “Memang saat ini banyak pembangunan, banyak proyek. Mau non-Pemprov atau apa, pokoknya mohon dengan kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Jadi, untuk pengawasan dan antisipasi, tanda, rambu-rambu, atau apa, yang untuk pengamanannya itu harus lebih ditingkatkan lagi,” tutup Yuke.

Proyek Galian yang Marak di Jakarta

Menurut Yuke, Jakarta kini sedang mengalami peningkatan proyek galian, baik untuk pembangunan infrastruktur maupun kebutuhan lain. Kondisi ini memperbesar risiko kecelakaan, terutama di area yang belum diawasi secara ketat. “Berbagai wilayah Jakarta memang sedang marak proyek galian. Mau itu proyek pemerintah atau bukan, mereka yang bertanggung jawab atas pengerjaannya harus meningkatkan standar keamanan,” jelasnya.

Kecelakaan Izra menjadi peringatan keras terhadap pentingnya kesadaran kontraktor dan pengawasan pemerintah. Menurut Yuke, pengamanan di lokasi kerja tidak hanya menjadi tanggung jawab kontraktor, tetapi juga pihak yang mengawasi proyek. Ia menekankan bahwa rambu-rambu dan tanda peringatan harus lebih menonjol, terutama di waktu malam hari ketika pengawasan sering kali kurang intensif.

Penyelamatan Berhasil, Tapi Nyawa Korban Tak Tertolong

Korban akhirnya berhasil dievakuasi pada hari Minggu, 28 Juni 2026, pukul 03.55 WIB. Proses penyelamatan yang memakan waktu lama mengakibatkan korban mengalami trauma serius. Meski anak tersebut langsung dibawa ke RSCM untuk penanganan medis, nyawanya tidak tertolong. Kematian Izra menimbulkan kekecewaan yang mendalam di tengah upaya penyelamatan yang sempurna.

Menurut sumber di Polsek Tebet, kejadian ini terjadi karena kurangnya pengawasan di lokasi galian. Meski telah diambil langkah-langkah darurat, seperti pemasangan police line dan penggunaan ekskavator, kondisi lubang yang sempit dan kurangnya pencahayaan menjadi kendala utama. “Lubang yang terlalu sempit dan kondisi korban yang mengalami trauma membuat evakuasi manual sulit dilakukan,” tutur sumber tersebut.

Kecelakaan Izra juga memicu diskusi di DPRD DKI Jakarta tentang kebijakan pengamanan di area proyek. Para anggota dewan menyetujui bahwa pihak kontraktor harus lebih teliti, terutama dalam memastikan lokasi galian tidak terbuka bagi masyarakat umum. “Selain itu, pemerintah perlu memperketat regulasi untuk memastikan setiap proyek memiliki pengamanan yang memadai,” tambah salah satu anggota dewan.

Penyebab utama kejadian tersebut disebutkan sebagai kurangnya rambu-rambu pengamanan. Menurut warga sekitar, area galian sering kali tidak diawasi secara intensif, terutama di waktu malam hari. “Kita tidak tahu lubang itu bisa digunakan sebagai tempat bermain anak-anak. Jadi, tanda pengamanan harus lebih terlihat, jelas, dan mudah dipahami,” ungkap salah seorang warga yang tinggal di sekitar proyek.

Kejadian Izra menjadi bahan evaluasi untuk semua proyek konstruksi di Jakarta. DPRD DKI menginginkan revisi terhadap kebijakan pengamanan, termasuk penerapan standar minimal untuk setiap lokasi galian. “Sekitar empat meter kedalaman lubang dan diameter sempit itu bisa menjadi ancaman bagi anak-anak yang tidak mengetahui bahaya,” ujar Yuke dalam diskusi terpisah.

Ketua Komisi D juga meminta penggunaan teknologi modern dalam pengawasan, seperti kamera pemantau dan sistem peringatan dini. “Dengan alat ini, kita bisa memastikan bahwa setiap lokasi galian diawasi 24 jam, terutama saat area itu terbuka untuk publik,” katanya. Hal ini diharapkan bisa mencegah kejadian serupa terjadi di masa depan.

Di sisi lain, masyarakat menyambut baik inisiatif DPRD DKI untuk meningkatkan keamanan. Banyak orang mengharapkan bahwa setiap proyek konstruksi, terlepas dari ukuran dan jenisnya, harus memiliki pengamanan yang memadai. “Anak-anak adalah korban yang paling rentan. Jadi, kita harus melindungi mereka dengan lebih baik,” tambah warga Manggarai yang turut merasakan damp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *