Peneliti USK: Banjir dan longsor tekan produksi kopi Gayo

Peneliti USK: Banjir dan longsor tekan produksi kopi Gayo

Peneliti USK – Peneliti dari Pusat Riset Kopi dan Kakao Universitas Syiah Kuala (USK), Abu Bakar, menyatakan bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor, memberikan tekanan tambahan pada sektor pertanian kopi Gayo. Menurutnya, sektor ini sudah terkena dampak perubahan iklim, sehingga kemungkinan besar akan mengalami penurunan produktivitas di dataran tinggi Aceh. “Lahan yang rusak akibat tanah longsor berpotensi menghilangkan lapisan tanah permukaan vital bagi pertumbuhan kopi Gayo,” jelas Abu Bakar dalam pernyataannya pada Rabu.

Pertanian kopi Gayo, yang merupakan salah satu komoditas utama Aceh, kini dihadapkan pada tantangan lebih besar setelah mengalami serangkaian bencana alam di akhir 2025. Wilayah dataran tinggi Gayo, termasuk Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, menjadi daerah yang paling terkena dampak. Abu Bakar menegaskan bahwa perubahan pola curah hujan dalam jangka panjang semakin memperburuk kondisi, karena hujan intensif yang terjadi dalam waktu singkat meningkatkan risiko longsor di daerah perbukitan.

Menurut Abu Bakar, dampak bencana tersebut bukan hanya merusak tanaman kopi, tetapi juga mengganggu kelembapan tanah dan kesuburan lahan. “Hujan deras yang menggenang dapat menyebabkan stres pada tanaman, sehingga memengaruhi pembentukan buah,” terangnya. Selain itu, banjir yang disertai material longsor juga menghambat akses ke kebun, memperparah kerugian ekonomi petani, dan memperlambat proses pemulihan.

“Pagi setelah kejadian, kebun sudah tertutup tanah dan banyak tanaman rusak,” kata Zubaidah, seorang petani kopi di Desa Wih Delung, Kecamatan Bale Redelong, Kabupaten Bener Meriah. Ia menambahkan bahwa dari total 20 rante kebun kopi yang dimilikinya, sekitar delapan rante mengalami kerusakan serius. Material longsor yang menutup permukaan tanah tidak hanya mengancam produktivitas, tetapi juga berpotensi mengurangi kualitas hasil panen.

Zubaidah menjelaskan bahwa banjir yang melanda daerahnya tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga mengganggu proses pertumbuhan dan kelembapan tanah. Kebun yang tertutup material longsor memerlukan waktu lama untuk dibersihkan dan diperbaiki. “Kami harus menunggu beberapa minggu sebelum bisa kembali menanam kembali,” katanya. Selain itu, akses jalan yang sempat terputus selama beberapa hari juga memperlambat distribusi hasil panen, serta pasokan bahan-bahan pertanian yang dibutuhkan.

Lihat Juga :   Latest Program: Pemerintah perkuat intervensi jaga harga pangan di produsen-konsumen

Abu Bakar menekankan bahwa perubahan iklim memperparah efek bencana alam. “Data menunjukkan peningkatan curah hujan tahunan, tetapi distribusinya tidak merata. Hal ini membuat wilayah perbukitan lebih rentan terhadap longsor dan banjir,” katanya. Di sisi lain, kondisi ekstrem ini juga meningkatkan serangan hama dan penyakit, seperti karat daun dan penggerek buah. “Kerusakan akibat hama bisa memperparah kerugian, terutama bagi petani yang sudah mengalami kerusakan fisik pada kebun,” jelas Abu Bakar.

Kopi Gayo sebagai penopang ekonomi utama

Kopi Gayo memegang peran penting dalam perekonomian masyarakat di dataran tinggi Aceh. Dengan produksi yang konsisten, komoditas ini tidak hanya menjamin pendapatan petani, tetapi juga mendukung industri kopi dan ekonomi lokal. Namun, Abu Bakar mengingatkan bahwa jika bencana hidrometeorologi terus berlanjut dan pemulihan tidak dilakukan secara cepat, dampaknya akan berdampak signifikan pada produksi regional dalam jangka menengah.

Petani seperti Zubaidah mulai mengambil langkah adaptasi untuk meminimalkan risiko kerusakan di masa depan. Salah satu strategi yang diterapkan adalah penggunaan tanaman naungan, yang membantu menjaga kelembapan tanah dan mencegah erosi. “Kami juga mencoba sistem tumpang sari untuk memperkuat ketahanan tanaman,” tutur Zubaidah. Ia menjelaskan bahwa metode ini memerlukan investasi tambahan, tetapi berpotensi mengurangi kerugian akibat cuaca ekstrem.

Menurut Abu Bakar, kopi Gayo tidak hanya mengandalkan kondisi alam, tetapi juga sangat bergantung pada tata kelola pertanian yang baik. “Kerusakan infrastruktur, seperti jalan yang terputus, memperparah kesulitan petani dalam mengakses pasar dan bahan pertanian,” katanya. Hal ini memperlihatkan betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi oleh komunitas penghasil kopi Gayo. Selain merusak tanaman, banjir dan longsor juga mengganggu kegiatan pertanian secara keseluruhan.

Lihat Juga :   New Policy: Kementerian ESDM dan BMKG integrasikan data perkuat ketahanan energi

Langkah-langkah pemulihan dan harapan masa depan

Sejumlah petani telah melakukan upaya pemulihan, seperti membersihkan lahan yang tertimbun material longsor dan menanam ulang tanaman yang rusak. Namun, proses ini membutuhkan biaya serta waktu yang cukup lama. “Kami harus menunggu hingga tanah kembali stabil sebelum menanam kembali,” kata Zubaidah. Proses ini dianggap sebagai bagian penting dari upaya menjaga kelangsungan produksi kopi Gayo meski menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Abu Bakar berharap pemerintah dan lembaga terkait dapat memberikan bantuan teknis dan finansial untuk mempercepat pemulihan. “Dengan dukungan yang tepat, petani bisa mengembalikan produktivitas secara lebih cepat,” imbuhnya. Ia menekankan bahwa perubahan iklim dan bencana alam harus dianggap sebagai bagian dari kesadaran bersama, sehingga langkah adaptasi yang diambil oleh petani bisa menjadi contoh untuk masyarakat lain.

Di sisi lain, beberapa petani mulai mengevaluasi pola penanaman mereka. “Kami mulai mengadaptasi sistem pertanian agar lebih tahan terhadap cuaca ekstrem,” kata Zubaidah. Dengan menggabungkan teknik tumpang sari dan penggunaan tanaman naungan, petani berharap bisa mengurangi kerentanan mereka terhadap bencana alam. Namun, Abu Bakar menegaskan bahwa langkah-langkah ini belum cukup untuk mengatasi semua masalah, terutama jika bencana terus berlanjut.

Pengelolaan sumber daya air dan peningkatan infrastruktur jalan juga dianggap penting untuk mencegah kerusakan serius di masa depan. “Pembangunan saluran drainase dan perbaikan jalan dapat mengurangi risiko banjir dan longsor,” jelas Abu Bakar. Ia berharap pihak berwenang memperhatikan kebutuhan petani dalam menghadapi perubahan iklim, karena kopi Gayo tidak hanya menjadi bagian dari budaya Aceh, tetapi juga menjadi simbol ekonomi yang berkelanjutan.

Kopi Gayo, yang dikenal dengan rasa khas dan kualitas tinggi, menjadi salah satu produk unggulan Aceh. Namun, dengan meningkatnya frekuensi bencana, produktivitasnya terancam. “Jika tidak ada intervensi yang tepat, produksi kopi Gayo bisa berkurang signifikan,” kata Abu Bakar. Dengan ini, ia mengingatkan bahwa perlu kerja sama antara pemerintah, peneliti, dan petani untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian ini.

Lihat Juga :   Yang Dibahas: BPJPH-LPS perkuat sinergi pengembangan ekosistem jaminan produk halal

Menurut data jangka panjang, tren curah hujan yang meningkat namun tidak merata menjadi tantangan utama. “Curah hujan yang terlalu tinggi di waktu tertentu membuat tanah lebih mudah tererosi, sehingga memengaruhi hasil panen,” terang Abu Bakar. Dengan kopi Gayo sebagai bagian dari ekonomi lokal, dampak dari perubahan