Studi: Krisis Air di Nusa Tenggara Barat Bebani Anak Perempuan

82845-sumber-antara-fotokornelis-kaha

Pondokkebaikan.com – Studi Plan Indonesia menunjukkan krisis air bersih akibat kekeringan di Nusa Tenggara Barat tidak hanya menyulitkan rumah tangga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Anak perempuan ikut menanggung beban besar karena sering mendapat tugas mengambil air untuk keluarga, yang pada akhirnya mengurangi waktu belajar, bermain, serta beristirahat.

Temuan dalam studi ini dimuat pada Jurnal Perempuan edisi 2026 melalui penelitian Novika Noerdiyanti dan Herning Tyas Ekaristi dari Plan Indonesia. Penelitian dilakukan pada 2024 dengan survei terhadap 260 rumah tangga di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, serta Kabupaten Manggarai dan Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Para peneliti juga melakukan wawancara mendalam dengan anak-anak untuk memahami pengalaman mereka secara langsung.

Studi Krisis Air dan Dampaknya bagi Anak Perempuan

Kekeringan menjadi ancaman iklim yang paling sering dilaporkan responden. Seluruh responden di Kupang atau 100 persen menyebut kekeringan sebagai ancaman, sementara persentasenya mencapai 87 persen di Sumbawa dan 83 persen di Manggarai.

Krisis air bersih rata-rata terjadi selama dua bulan dalam setahun, meski durasinya dapat berlangsung antara satu hingga 12 bulan. Puncak kesulitan air umumnya terjadi pada Juni sampai Desember. Dalam kondisi tertentu, rumah tangga perlu mengeluarkan sedikitnya Rp50.000 setiap minggu untuk membeli air.

Bagi anak perempuan, keterbatasan air bukan sekadar persoalan kebutuhan rumah tangga. Tugas mengambil air dapat mengubah rutinitas harian mereka, termasuk mengganggu jadwal sekolah dan waktu untuk memulihkan tenaga setelah belajar.

Seorang anak perempuan berusia 11 tahun di Kupang menceritakan bahwa ia dan kakak perempuannya harus mengambil air setiap pagi dan sore. Dalam satu kali kegiatan, ia dapat bolak-balik lima hingga enam kali sambil membawa ember.

"Bapak bilang sorenya boleh bermain setelah selesai mengambil air dulu," ujarnya dalam wawancara yang dikutip penelitian.

Tugas tersebut terkadang membuatnya terlambat ke sekolah. Waktu bermain pun baru tersedia setelah pekerjaan mengambil air selesai. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa dampak kekeringan dapat masuk langsung ke kehidupan anak-anak, bahkan ketika mereka tetap berusaha menjalani kegiatan sekolah seperti biasa.

Kelelahan Belajar hingga Risiko Keselamatan

Studi tersebut juga menemukan pengalaman serupa di Manggarai. Seorang anak berusia 10 tahun mengaku merasa lelah saat belajar karena harus mengambil air pada pagi hari. Anak lain yang berusia sembilan tahun mengatakan dirinya kerap berangkat tanpa mandi ketika air sedang langka.

Menurut para peneliti, pengaruh krisis air terhadap pendidikan tidak selalu terlihat sebagai ketidakhadiran di sekolah. Anak-anak masih dapat mengikuti pelajaran, tetapi mereka melakukannya dalam keadaan lelah atau tanpa akses yang memadai untuk menjaga kebersihan diri.

Risiko lain berkaitan dengan keselamatan. Seorang anak berusia 16 tahun dengan disabilitas di Manggarai mengaku khawatir terjatuh ke sumur karena alat untuk menimba air lebih berat daripada berat badannya. Survei juga mencatat 9 persen perempuan dan anak perempuan merasa malu atau tidak nyaman menggunakan jamban, terutama ketika menstruasi.

Partisipasi Anak dan Perempuan Muda Masih Rendah

Selain menanggung pekerjaan mengambil air, anak perempuan dan perempuan muda masih jarang dilibatkan dalam keputusan terkait air, sanitasi, dan kebersihan. Hanya sekitar 3 persen yang berpartisipasi dalam pertemuan mengenai isu tersebut.

Angka yang sama juga muncul dalam pandangan masyarakat mengenai kemampuan anak perempuan dan perempuan muda menjadi pemimpin dalam isu air, sanitasi, dan kebersihan. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara besarnya beban yang mereka alami dan kecilnya ruang mereka untuk menyampaikan kebutuhan maupun menentukan solusi.

Sebagai pembanding, laporan WHO dan UNICEF pada 2025 menyebut perempuan dan anak perempuan berusia 15 tahun ke atas bertanggung jawab mengambil air di tujuh dari 10 rumah tangga yang tidak memiliki akses air di dalam rumah.

Para peneliti mendorong penyediaan sumber air yang lebih dekat dengan rumah serta penguatan mekanisme konsultasi anak, termasuk melalui Forum Anak. Pendekatan tersebut dinilai penting agar kebijakan adaptasi iklim tidak hanya berfokus menangani kekeringan, tetapi juga memperhitungkan beban, keselamatan, pendidikan, dan kebutuhan khusus anak perempuan.

FAQ Krisis Air di Nusa Tenggara Barat

Apa dampak utama krisis air bagi anak perempuan?

Krisis air dapat membuat anak perempuan harus mengambil air untuk keluarga. Tugas ini berpotensi mengurangi waktu belajar, bermain, istirahat, dan dapat menyebabkan kelelahan saat mengikuti kegiatan sekolah.

Kapan krisis air biasanya paling terasa?

Berdasarkan penelitian, puncak krisis air terjadi pada Juni hingga Desember. Namun, durasinya dapat berbeda di setiap wilayah dan berlangsung antara satu sampai 12 bulan.

Mengapa anak perempuan perlu dilibatkan dalam keputusan pengelolaan air?

Pelibatan anak perempuan dan perempuan muda penting karena mereka mengalami dampak langsung dari keterbatasan air. Partisipasi mereka dapat membantu memastikan kebijakan air, sanitasi, dan kebersihan sesuai dengan kebutuhan warga yang paling terdampak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *