Program Terbaru: DLH Banyumas kembangkan TPST BLE tekan beban pengolahan sampah
DLH Banyumas Perluas Kapasitas TPST BLE untuk Atasi Penumpukan Sampah
Upaya pengurangan beban pengolahan sampah di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tengah digarap oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melalui pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE). Proyek ini ditempatkan di Desa Wlahar Wetan dan dirancang untuk menampung sekitar 40 ton sampah per hari. Namun, volume sampah yang masuk ke fasilitas tersebut justru terus meningkat signifikan, bahkan bisa mencapai 160 ton per hari untuk sampah organik yang terpisah serta 60 ton untuk bahan RDF.
KSM Berperan dalam Pengelolaan Sampah di Tingkat Desa
Kepala DLH Banyumas, Widodo Sugiri, di Purwokerto, Banyumas, Selasa, mengungkapkan bahwa peningkatan sampah tidak terlepas dari keberadaan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Saat ini, ada sekitar 70 KSM di Banyumas, dengan 40-50 di antaranya telah membangun infrastruktur pengolahan. Secara keseluruhan, kontribusi KSM mampu menangani 500 ton sampah rumah tangga setiap hari dari total timbulan sampah sekitar 700-800 ton per hari.
“Kami tidak menargetkan terlalu tinggi, tetapi yang penting ada peningkatan layanan dan tekanan terhadap TPST bisa berkurang,” kata Sugiri.
Kapasitas TPST BLE Diperluas Hingga 2026
Untuk mengejar peningkatan kapasitas, DLH Banyumas sedang memperluas TPST BLE dengan luas sekitar 1,5 hektare. Proses tender pengembangan ini dijalankan oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui satuan kerja provinsi. Targetnya, konstruksi bisa dimulai dan selesai pada tahun 2026. Dengan perluasan tersebut, cakupan layanan pengelolaan sampah di Banyumas diharapkan meningkat dari 75 persen menjadi 78-80 persen.
Penguatan Infrastruktur dan Sumber Daya Manusia
Selain memperluas TPST BLE, DLH juga menekankan penguatan kelembagaan dan kesiapan tenaga kerja. Standar operasional prosedur (SOP) serta dana operasional menjadi fokus dalam upaya memastikan fasilitas berfungsi secara optimal. “Pendekatan ini dianggap penting agar infrastruktur bukan hanya selesai secara fisik, tetapi juga dimanfaatkan berkelanjutan dan memberikan dampak nyata,” jelas Sugiri.
Bank Sampah Diharapkan Bantu Manajemen Limbah
DLH juga mendorong pengembangan bank sampah di seluruh desa dan kelurahan, yang totalnya 331 wilayah. Saat ini, hanya sekitar 40-an unit bank sampah yang aktif. Fasilitas ini dinilai bisa menyelaraskan kegiatan dengan KSM, termasuk dalam pengumpulan minyak jelantah. Peningkatan jumlah bank sampah bertujuan mengoptimalkan pengelolaan sampah, terutama jenis yang bernilai rendah seperti plastik kresek.
Investasi dari Malaysia untuk Pengolahan Plastik
Pemerintah Banyumas membuka peluang kerja sama dengan investor asing, khususnya dari Malaysia, dalam pengolahan bijih plastik dari limbah. Upaya ini sejalan dengan strategi pengurangan beban sampah, yang mencakup penguatan kapasitas TPST BLE serta diversifikasi pengelolaan limbah. Sugiri menekankan bahwa pengembangan infrastruktur ini melibatkan lebih dari sekadar konstruksi, tetapi juga pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.