Teringat Masa Lalu, Gubernur DKI Jakarta Terharu Saat Hadiri Open House Sekolah Rakyat

Share: X Facebook
65648-kemensos

Teringat Masa Lalu, Gubernur DKI Jakarta Terharu Saat Hadiri Open House Sekolah Rakyat

Pondokkebaikan.com – Acara open house yang diadakan di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Jakarta, Jumat (3/7/2026), berlangsung semarak. Yel-yel penuh energi menggema saat Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tiba di lokasi. Kehadiran dua tokoh nasional tersebut memicu antusiasme para siswa yang mengenakan seragam PDL hijau army, membuat suasana semakin hidup.

Dalam rangkaian acara, para orang tua siswa turut hadir untuk mendukung kegiatan yang diadakan. Kehadiran Gus Ipul dan Pramono menjadi sorotan utama, karena mereka tidak hanya menonton, tetapi juga aktif berinteraksi dengan peserta. Kombinasi antusiasme siswa dan kehadiran tokoh penting membuat suasana kian menyenangkan.

Kehadiran Siswa yang Tergolong Unik

Satu momen menarik terjadi sebelum acara dimulai. Pramono Anung berdialog singkat dengan Muhammad Sesa, salah satu siswa yang terlibat dalam atraksi baris variasi. Pertanyaan yang diajukan oleh Gubernur DKI Jakarta tersebut sempat memicu respons dari sang siswa.

“Sebelumnya sekolah di mana?” tanya Pramono.

“Saya putus sekolah, Pak,” jawab Sesa dengan ekspresi tulus.

Tak hanya terkesan oleh penampilan baris variasi, Pramono juga terharu mendengar cerita Sesa. Menurut keterangan tersebut, siswa yang telah meninggalkan pendidikan formal ini kini merasa lebih bersemangat dan berharapan. Pramono pun memberikan pesan yang penuh semangat.

“Wajahmu penuh harapan. Yang rajin ya sekolahnya,” pesannya.

Respons dari Sesa dan Gubernur menunjukkan peran penting Sekolah Rakyat dalam membuka peluang pendidikan bagi anak-anak yang sebelumnya mengalami kesulitan. Di sisi lain, kehadiran Gus Ipul memberikan dorongan tambahan dalam menyemangati peserta.

Program Sekolah Rakyat: Strategi Mengurangi Kemiskinan

Dalam sambutannya, Gus Ipul menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan bagian dari strategi besar Presiden Prabowo Subianto untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Ia menekankan kolaborasi antara Kemensos dan Pemda DKI Jakarta dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif.

“Ini konsepnya, anaknya sekolah, orang tuanya diberdayakan dengan program strategis bapak presiden. Kolaborasi dengan Pak Gubernur DKI. Nanti akan dibangun rumahnya, diperbaiki supaya lebih layak huni. Intinya, anaknya lulus, orang tuanya lebih mandiri, tidak bergantung pada bansos lagi,” ujarnya.

Pembukaan acara juga dihiasi oleh berbagai penampilan yang menarik. Dua siswa, Jasmia Kusuma Dewi dan Naira Intan Safitri, memandu rangkaian kegiatan. Mereka memperkenalkan program-program sekolah seperti tari tradisional Gadis Bersolek Betawi, karate, pidato dalam beberapa bahasa, paduan suara, serta pembacaan puisi. Tampilan yang beragam menunjukkan keberagaman minat dan bakat para siswa.

Bukan hanya menyambut tamu, para peserta juga menunjukkan rasa percaya diri mereka. Mereka memperlihatkan kemampuan yang luar biasa, baik dalam seni, olahraga, maupun keterampilan lain. Pemandangan ini menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Dalam pidato yang disampaikan, Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat dirancang untuk memberikan dua pilihan masa depan kepada lulusannya. Pertama, melanjutkan studi ke perguruan tinggi, dan kedua, menjadi tenaga kerja terampil sesuai minat. Hal ini menunjukkan komitmen program untuk menyiapkan generasi muda yang kompeten dalam berbagai bidang.

Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Jakarta telah memberikan dampak nyata di komunitas sekitar. Banyak siswa yang sebelumnya kesulitan mendapatkan akses pendidikan kini memiliki kesempatan untuk belajar secara intensif. Dengan kehadiran program ini, harapan untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak dari keluarga kurang mampu semakin terbuka.

Saat ini, Sekolah Rakyat telah melayani lebih dari 15 ribu siswa di 166 titik sepanjang Indonesia. Jumlah ini akan meningkat lebih dari 32 ribu siswa pada tahun ajaran 2026/2027, sehingga total peserta mencapai sekitar 45 ribu. Angka yang signifikan ini menunjukkan keterlibatan masyarakat yang luas dalam inisiatif pendidikan inklusif ini.

Dengan berbagai kegiatan seperti open house, program Sekolah Rakyat bertujuan untuk menyatukan komunitas dan membangun kesadaran pentingnya pendidikan. Antusiasme para siswa, baik dari yang tetap bersekolah maupun yang kembali menempuh pendidikan, menunjukkan bahwa program ini berhasil menyentuh hati banyak orang.

Kehadiran tokoh-tokoh nasional seperti Gus Ipul dan Pramono Anung membuktikan bahwa Sekolah Rakyat bukan hanya sekadar tempat belajar, tetapi juga menjadi simbol harapan bagi masyarakat. Semangat yang dibawa oleh para siswa dan narasumber menunjukkan bahwa program ini semakin dikenal dan didukung secara luas.

Di sisi lain, kegiatan open house menjadi ajang untuk mengevaluasi kemajuan program Sekolah Rakyat. Para siswa menunjukkan keberhasilan mereka dalam menguasai berbagai bidang, baik akademik maupun non-akademik. Dengan mendorong kerja sama antar komunitas, program ini berharap mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan bermakna.

Pelaksanaan acara tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk membanggakan kegiatan belajar-mengajar, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat komitmen bersama dalam memajukan pendidikan. Dengan semangat yang terpancar dari para siswa, kiprah Sekolah Rakyat semakin menarik perhatian masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *