Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI, Forum Konferensi Republik Terpaksa Berpindah ke Ruang Kafe
Topics Covered – Pada 28 Juni 2026, acara Konferensi Republik yang sebelumnya dijadwalkan di Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta Pusat, mendadak dibatalkan tanpa pemberitahuan resmi. Perubahan ini memaksa Forum Konferensi Republik untuk beralih ke format daring, mengubah rencana semula yang akan menghadirkan peserta dari berbagai latar belakang.
Pembatalan dan Dampak di Luar Dugaan
Dengan keputusan sepihak itu, organisasi masyarakat sipil yang terlibat dalam acara tersebut terpaksa mengadaptasi jalannya kegiatan. Meski pembatalan terjadi secara mendadak, forum tetap berjalan lancar melalui ruang virtual, menunjukkan ketangguhan partisipan dalam menghadapi hambatan.
Sejumlah peserta menyatakan bahwa pembatalan ini dianggap sebagai kejutan, terutama karena seluruh persiapan administratif, seperti konfirmasi tertulis, surat tugas petugas fakultas, rincian biaya sewa, serta instalasi fisik di ruang pertemuan, sudah selesai sejak 19 Juni 2026. Pihak panitia mengatakan bahwa mereka tidak menyangka keputusan akan diubah secara tiba-tiba.
Hasil Diskusi dan Keputusan Penting
Seusai berdiskusi hampir lima jam, forum menyepakati tiga poin strategis yang akan menjadi dasar gerakan sipil ke depan. Keputusan ini meliputi platform gerakan bersama, desain organisasi berbentuk jejaring, serta pengangkatan tim formatur perintis dengan 20 nama yang berasal dari berbagai sektor.
“Platform ini dirancang untuk menghubungkan berbagai kelompok yang berbeda, seperti penerbit buku, kelompok masyarakat sipil, penyandang disabilitas, petani, buruh, hingga akademisi. Kami ingin menjadikan warga negara sebagai subjek aktif, bukan sekadar objek dari kebijakan pembangunan atau politik,” ujar Yanuar Nugroho, Sekretaris Jenderal Konferensi Republik.
Keputusan terbentuk melalui diskusi kolaboratif yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Platform gerakan bersama diharapkan menjadi alat untuk menyatukan kepentingan lintas sektor, sementara desain organisasi jejaring dirancang agar lebih fleksibel dalam menghadapi dinamika lokal.
Selain itu, forum juga menyetujui pembentukan tim formatur yang akan merumuskan kepengurusan kolektif dalam dua pekan ke depan. Nama-nama yang terpilih mencakup Dandhy Laksono, Agus Sari, Rene Suhardono, Maria Selastiningsih, Ahmad Mujahid, hingga mantan komisioner KPK, Chandra M. Hamzah. Mereka dianggap memiliki kapasitas untuk memimpin inisiatif konsolidasi sipil di tingkat nasional.
Ketahanan dalam Situasi Kritis
Sejumlah anggota dari kalangan mahasiswa menunjukkan dukungan terhadap keberlanjutan forum. Razan Bayu Rachman, anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UI dari elemen mahasiswa, menyebut bahwa hambatan ruang diskusi di kampus justru menjadi kesempatan untuk mereplikasi dialog terbuka di luar lingkungan akademik formal.
“Masyarakat membutuhkan ruang diskusi yang inklusif. Diskusi di kafe menunjukkan bahwa kita bisa menciptakan ruang dialog tanpa batas. Tidak perlu lagi membatasi diri hanya karena lokasi,” papar Razan.
Gerakan ini dianggap sebagai bukti bahwa ruang publik untuk membicarakan masa depan republik tetap bisa berjalan mandiri, meski mengalami perubahan arah. Meski acara utama di UI dibatalkan, diskusi online dan penggunaan kafe sebagai alternatif dianggap sebagai bentuk adaptasi yang efektif.
Perluasan Ruang Diskusi ke Daerah Lain
Konsolidasi yang terjadi di Jakarta diharapkan menjadi awal dari perluasan ke wilayah lain. Sudirman Said, Ketua Umum Konferensi Republik, menyatakan bahwa acara berikutnya akan diselenggarakan secara gotong royong, dengan penggiliran ke sejumlah daerah yang sudah menunjukkan kesiapan.
“Medan, Sulawesi, Bandung, dan NTT semuanya bersiap menyelenggarakan forum. Kami akan memastikan kegiatan ini dilaksanakan secara bersama dan terkoordinasi,” jelas Sudirman, yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Harkat Negeri.
Perpindahan lokasi acara ke ruang kafe di Cikini dinilai sebagai simbol kebebasan dalam menyampaikan aspirasi. Meski dipaksa beralih, peserta tetap mampu membangun kesepakatan yang berdampak signifikan. Ruang diskusi yang sebelumnya terbatas oleh struktur kampus kini terbuka untuk berbagai kelompok, termasuk emak-emak dan penyandang disabilitas.
Pembatalan acara ini juga memicu refleksi lebih dalam tentang hubungan antara institusi kampus dan organisasi masyarakat. Panitia mengkritik adanya intervensi eksternal yang terkesan memengaruhi keputusan internal. Mereka menilai bahwa kebijakan sepihak tersebut mengganggu kemandirian ruang sipil.
Konsolidasi nasional Konferensi Republik dianggap sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat peran masyarakat sipil dalam pembangunan. Meski ada hambatan, forum ini berhasil membuktikan bahwa dialog tetap bisa berlangsung meski harus diatur secara kreatif. Dinamika ini diharapkan menjadi inspirasi bagi kegiatan serupa di daerah lain.
Dengan keputusan yang diambil, gerakan ini tidak hanya menyatukan suara, tetapi juga memberikan arah baru bagi partisipan. Platform bersama dan desain jejaring diharapkan bisa menjadi fondasi untuk memperkuat solidaritas antar kelompok, sekaligus mendorong partisipasi aktif dalam isu-isu yang relevan.
Bagi peserta, keberhasilan menyepakati tiga mandat ini menjadi bukti bahwa kegiatan bisa berjalan meski tidak sesuai rencana awal. Pergeseran ke format daring dan ruang kafe menunjukkan bahwa adaptasi justru bisa menjadi strategi yang efektif untuk memperluas akses dan partisipasi.



