Takut Dihakimi Manusia, 6 dari 10 Gen Z Indonesia Pilih Curhat ke AI

Share: X Facebook
khrisna-edit-1784267950-449ef8bc2e

Generasi Z Indonesia Lebih Memilih Chatbot sebagai Tempat Curhat Daripada Manusia

Fenomena Percakapan dengan Kecerdasan Buatan

Pondokkebaikan.com – Kini kecerdasan buatan atau artificial intelligence bukan sekadar alat untuk pencarian informasi dan penyelesaian tugas-tugas kantor. Bagi kalangan muda di Indonesia, teknologi ini telah berkembang menjadi wadah untuk menyampaikan masalah-masalah pribadi. Sebuah penelitian terbaru dari Yayasan Digital Resilience Indonesia mengungkap bahwa sebanyak lima puluh sembilan koma empat persen generasi Z di tanah air rutin mencurahkan persoalan mereka kepada mesin berbasis AI.

Para anak muda cenderung memilih chatbot sebagai ruang aman untuk berbicara. Mereka merasa lebih leluasa mengekspresikan diri tanpa khawatir akan dihakimi oleh orang lain. Meskipun dianggap sebagai alternatif, sebagian besar responden dalam riset tersebut mengakui bahwa AI belum sepenuhnya mampu memahami kedalaman perasaan manusia secara utuh.

Hasil Riset dan Pernyataan Para Ahli

Temuan ini dipublikasikan dalam riset yang dilakukan oleh DiRI. Sebanyak lima puluh sembilan koma empat persen generasi Z mengaku pernah melakukan sesi curhat dengan kecerdasan buatan. Topik-topik yang paling sering dibahas mencakup pendidikan, hubungan percintaan, perencanaan masa depan, kondisi kesehatan, hingga masalah keluarga.

Direktur Eksekutif DiRI, Farabi Ferdiansah, menjelaskan bahwa fenomena ini menandakan pergeseran peran chatbot. Kini mesin tersebut berfungsi sebagai tempat alternatif bagi generasi muda untuk mendapatkan bantuan maupun sekadar berbagi pengalaman hidup.

Dalam riset kami, sekitar enam dari sepuluh responden mengaku pernah ‘curhat’ kepada AI. Hal ini menunjukkan bahwa chatbot telah menjadi ruang alternatif untuk mencari bantuan, berdiskusi, maupun berbagi persoalan pribadi.

Farabi menambahkan bahwa banyak peserta riset melaporkan menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit dalam satu sesi percakapan dengan AI. Alasan utamanya adalah perasaan bebas saat berbicara dengan mesin dan tidak adanya rasa takut untuk dihakimi.

Haris Fatwa, peneliti DiRI sekaligus Direktur Digital Media Research and Consulting, menilai hal ini mencerminkan adanya krisis ruang aman bagi anak muda. Menurutnya, meskipun generasi Z memahami adanya bias dan halusinasi pada AI, mereka tetap memilih teknologi ini sebagai tempat bercerita. Hal ini mengindikasikan tingginya krisis ruang aman dan ketiadaan pendengar tanpa penghakiman di dunia nyata.

Gen Z sebenarnya terliterasi soal bias dan halusinasi AI, tetapi mereka tetap memilihnya sebagai tempat bercerita. Hal ini mengindikasikan tingginya krisis ruang aman dan ketiadaan pendengar tanpa penghakiman di dunia nyata, sehingga mereka rela menoleransi risiko demi mendapatkan responsivitas dan validasi instan.

Batasan AI dan Distribusi Kepercayaan

Meskipun populer, Haris mengingatkan bahwa AI bukanlah pengganti hubungan antarmanusia. Riset tersebut juga menemukan bahwa tujuh puluh koma dua persen responden mengeluhkan bahwa AI masih gagal menangkap kedalaman emosi manusia secara menyeluruh.

Dilihat dari jenis kelamin, distribusi tingkat kepercayaan atau intensitas penggunaan AI untuk curhat menunjukkan perbedaan yang relatif kecil. Pada responden laki-laki, sebanyak tiga puluh satu koma sembilan persen berada pada kategori trust rendah, tiga puluh tujuh koma tujuh persen pada kategori sedang, dan tiga puluh koma empat persen pada kategori tinggi.

Sementara itu, pada responden perempuan, distribusinya adalah tiga puluh tiga koma tiga persen rendah, tiga puluh delapan koma tiga persen sedang, dan dua puluh delapan koma empat persen tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa laki-laki sedikit lebih banyak berada pada kategori trust tinggi, tetapi selisihnya tidak besar, sehingga secara umum pola kepercayaan terhadap AI pada kedua kelompok cenderung serupa.

Fenomena ini semakin memperkuat pemahaman bahwa generasi Z Indonesia sedang mencari bentuk-bentuk baru dalam mengekspresikan diri. Mereka tidak sepenuhnya bergantung pada AI, namun juga tidak sepenuhnya meninggalkan teknologi sebagai teman bicara. Keseimbangan ini menjadi kunci dalam memahami bagaimana generasi muda menghadapi tantangan komunikasi di era digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *