Special Plan: Mahasiswa Trisakti Melawan! Tuntut MBG Dihentikan Sementara dan Evaluasi Total

Share: X Facebook
49316-ratusan-mahasiswa-universitas-trisakti-bersama-aliansi-kampus-di-jakarta-barat-siap-menggelar-aksi

Mahasiswa Trisakti Melawan! Tuntut MBG Dihentikan Sementara dan Evaluasi Total

Protes Mahasiswa Trisakti: Tuntut Evaluasi dan Hentikan MBG

Special Plan – Mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI pada Jumat, 19 Juni 2026. Kegiatan ini diadakan sebagai bentuk penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap memiliki banyak kelemahan. Para peserta aksi menekankan perlunya pemerintah menunda sementara pelaksanaan program MBG dan melakukan evaluasi menyeluruh akibat kritik terhadap efektivitasnya.

Kritik terhadap Implementasi MBG

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyuarakan kebutuhan untuk melakukan uji coba terlebih dahulu sebelum program diterapkan secara menyeluruh. Mereka khawatir kegagalan dalam pelaksanaan MBG akan berdampak signifikan pada kondisi ekonomi rakyat. Wakil Presiden Mahasiswa Trisakti, Muhammad Putra, menjelaskan bahwa program ini sangat kompleks karena melibatkan penggunaan anggaran negara dan berpotensi memengaruhi kehidupan masyarakat secara langsung.

Putra menekankan bahwa MBG, yang merupakan salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto, perlu dianalisis secara total sebelum dijalankan secara masif. “Jika program ini diluncurkan tanpa adanya evaluasi yang matang, kita akan melihat kegagalan MBG secara nyata,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah seharusnya memprioritaskan uji coba atau proyek pilot untuk mengidentifikasi risiko dan kesalahan sebelum menyebarkan ke seluruh Indonesia.

Menurut Putra, kritik terhadap MBG tidak hanya terkait anggaran tetapi juga mekanisme distribusi dan tata kelola program. “Ada beberapa masalah yang muncul, seperti efisiensi penggunaan dana dan kejelasan sistem pelaksanaannya. Kami merasa ini tidak cukup diperbaiki melalui penyesuaian kecil,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa tuntutan mahasiswa untuk menghentikan sementara program ini bertujuan agar pemerintah memiliki waktu untuk melakukan perbaikan menyeluruh.

“Berbicara MBG, menurut kami ini sesuatu hal yang kompleks gitu. Ini karena melibatkan ekonomi masyarakat. Kami menuntut program ini harus dievaluasi total dan juga diberhentikan sementara,” kata Putra di Gedung DPR RI, Jumat (19/6/2026).

Konflik Pandangan: Mahasiswa vs. Masyarakat Jambi

Protes ini menjadi salah satu tuntutan utama dalam aksi di kompleks parlemen. Menurut Putra, selain MBG, mahasiswa juga menyoroti kondisi ekonomi dan politik nasional yang dinilai semakin memprihatinkan. “Kita harus bergerak bersama untuk memulihkan stabilitas ekonomi dan mengatasi inkompetensi di lingkaran pejabat,” tambahnya.

Sementara itu, aksi mahasiswa Trisakti berlangsung di tengah sorotan publik terhadap pelaksanaan MBG yang beberapa kali menuai kritik. Isu utama yang dibawa oleh peserta aksi meliputi ketidaksesuaian tata kelola, efektivitas anggaran, serta mekanisme pelaksanaan di lapangan. Kritik terbaru dari kalangan mahasiswa ini memperkuat tuntutan untuk membatalkan program tersebut sementara waktu.

“Kalau misalnya semuanya langsung dilakukan secara merata tanpa adanya evaluasi, hal ini terjadi bobroknya MBG kelihatan gitu,” ucapnya.

MBG, yang telah menjadi fokus perdebatan publik, dianggap mampu memperburuk masalah ekonomi di tengah tekanan inflasi dan kesulitan masyarakat. Namun, ada pihak yang menilai program ini sebagai solusi penting untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Contohnya, masyarakat Jambi yang lebih mendukung lanjutkan pelaksanaan MBG karena melihat manfaatnya dalam mengurangi kesenjangan pangan.

Tuntutan Utama Mahasiswa: Pemulihan Ekonomi dan Supremasi Sipil

Para mahasiswa Trisakti menetapkan tiga tuntutan utama dalam aksi mereka: pemulihan kondisi ekonomi dan politik nasional, pemberantasan inkompetensi di kalangan pejabat, serta pengembalian supremasi sipil kepada masyarakat. Mereka berargumen bahwa MBG adalah bagian dari program pemerintah yang perlu diawasi secara ketat agar tidak menyimpang dari tujuan awalnya.

Putra menjelaskan bahwa pemulihan ekonomi menjadi prioritas karena MBG dianggap tidak efektif dalam mengatasi krisis pangan. “Dana yang dialokasikan untuk MBG harus digunakan secara optimal, bukan hanya sekadar berbagi makanan secara besar-besaran tanpa perencanaan matang,” terangnya. Ia menambahkan bahwa program ini juga perlu dijauhkan dari korupsi atau penyalahgunaan anggaran.

Konteks Evaluasi Total MBG

Kritik terhadap MBG terus meningkat, dengan berbagai kelompok masyarakat yang meminta evaluasi menyeluruh. Mahasiswa Trisakti, misalnya, menyatakan bahwa perlu ada transparansi dalam data pendistribusian program. Mereka juga menginginkan pemerintah mengevaluasi hubungan antara MBG dan kebijakan lainnya, seperti subsidi bahan bakar atau pembangunan infrastruktur.

Evaluasi total dianggap penting agar keberhasilan MBG tidak hanya dinilai dari jumlah makanan yang diberikan, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesejahteraan jangka panjang. Putra menekankan bahwa kegagalan dalam pelaksanaan MBG bisa menjadi contoh bagaimana kebijakan yang tidak dipersiapkan dengan baik akan menyebabkan kerugian besar.

Respon dan Tantangan Politik

Dalam aksi demo, mahasiswa menyampaikan pandangan bahwa MBG perlu dihentikan sementara guna memberikan ruang untuk perbaikan. “Makanya kami menuntut pemerintah untuk berhentikan sementara MBG dan juga evaluasi total,” tandasnya. Tuntutan ini diharapkan bisa mendorong pemerintah mengambil langkah-langkah konkret untuk memperbaiki program tersebut.

Aksi ini juga menggambarkan keterlibatan mahasiswa dalam isu politik nasional. Mereka menilai bahwa program MBG bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menilai kinerja pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan sosial. “Kami tidak hanya mengkritik MBG, tetapi juga ingin menunjukkan bahwa mahasiswa punya peran aktif dalam memastikan kebijakan yang bermanfaat bagi rakyat,” tuturnya.

Kritik yang Menggema: Dari Dana Negara ke Kepuasan Masyarakat

Program MBG, yang menggunakan dana negara sebesar triliunan rupiah, menjadi sorotan karena efisiensinya dipertanyakan. Mahasiswa Trisakti menyoroti adanya dana yang terbuang sia-sia akibat proses distribusi yang tidak optimal. “Banyak makanan yang terbuang, sementara masyarakat masih kesulitan mengakses kebutuhan pokok,” keluh Putra.

Di sisi lain, proyek MBG dianggap sebagai upaya pemerintah dalam mengatasi masalah pangan secara langsung. Namun, mahasiswa mempertanyakan apakah program ini benar-benar mampu mencapai tujuannya. Mereka menilai bahwa tanpa evaluasi yang mendalam, kebijakan ini bisa menjadi bahan kontroversi terus-menerus.

Pro kontra terhadap MBG juga mencerminkan perbedaan pandangan antara kalangan akademisi dan masyarakat umum. Sementara mahasiswa menilai program ini perlu dihentikan sementara, sejumlah warga Jambi tetap mendukung lanjutkan pelaksanaannya. “MBG sudah memberi manfaat, meski ada kekurangan, tetapi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *