Jokowi Injak Kepala Kerbau, PDIP Tertawa

Share: X Facebook
62071-andreas-hugo-pareira-jokowi-kepala-kerbau

Jokowi Injak Kepala Kerbau, PDIP Tertawa

Pondokkebaikan.com – Dalam kunjungan kerja ke Provinsi Lampung, Presiden ketujuh Republik Indonesia, Jokowi, melakukan prosesi adat yang menimbulkan perdebatan politik antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Aksi Jokowi, yang terlihat menginjak kepala kerbau sebagai bagian dari ritual mesol kibau, menjadi bahan perbincangan luas di media sosial dan memicu interpretasi berbeda terkait makna simbolis dari tindakan tersebut.

Ritual Budaya yang Dipersoalkan

Ritual mesol kibau, atau yang lebih dikenal sebagai menginjak kepala kerbau, adalah bagian dari tradisi adat Lampung yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dalam prosesi tersebut, Jokowi tampak menginjak kepala hewan yang diletakkan di atas karpet merah sebagai bentuk penghormatan dari para pemangku adat setempat. Namun, tindakan tersebut langsung dianggap sebagai isu politik oleh sejumlah pihak, yang menilai bahwa PDIP sengaja mengaitkan ritual tersebut dengan kekuasaan politik.

Selama kunjungannya, Jokowi menjalani momen yang menjadi viral di media sosial. Video pendek dari aksi tersebut menyebar cepat, memicu berbagai interpretasi. Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai bentuk penghormatan, sementara yang lain mempersepsikan bahwa PDIP berusaha memanfaatkan ritual ini untuk memperkuat citra partai mereka. Konflik antara dua partai tersebut menjadi terlihat lebih jelas, dengan PSI berperan sebagai pihak yang mengkritik tindakan PDIP.

Reaksi PDIP: Mengejek dengan Santai

Ketua DPP PDIP, Andreas Hugo Pareira, menganggap kegaduhan yang muncul dari aksi Jokowi sebagai hal yang wajar. Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak secara mendalam memahami makna filosofis dari ritual mesol kibau, dan karena itu merasa bingung mengapa tindakan tersebut dianggap sebagai penghinaan terhadap PDIP.

“Saya tak memahami adat istiadat Lampung. Terutama dikaitkan dengan menginjak kepala kerbau,” kata Andreas. “Ha…ha…ha… Maaf ya, lambang PDIP itu bukan kepala kerbau, tapi banteng moncong putih. Jadi kalau seandainya menginjak kepala kerbau itu, oleh si penginjak dimaknai simbolisasi menghina PDIP ya ha…ha…ha…”

Andreas menyatakan bahwa pihak-pihak yang mencoba menafsirkan ritual tersebut sebagai penghinaan terhadap partainya, justru salah sasaran. Menurutnya, secara visual dan filosofis, lambang PDIP sangat berbeda dengan hewan yang digunakan dalam prosesi adat tersebut. “Kalau ada yang memaknai aksi Jokowi sebagai cara untuk merendahkan PDIP, maka itu adalah interpretasi yang tidak tepat,” tambahnya.

Kritik PSI: Budaya Dipandang Sebelah Mata

Dalam responsnya, Ketua DPP PSI, Bestari Barus, menganggap sikap PDIP yang menertawakan ritual tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap nilai-nilai luhur adat budaya Lampung. Ia menegaskan bahwa kehadiran Jokowi dalam prosesi tersebut adalah bentuk penghormatan dari para tokoh adat setempat.

“Saya kira itu menghina adat budaya. Itu kan prosesi adat budaya Lampung. Mudah-mudahan masyarakat Lampung menyikapi secara bijak,” kata Bestari Barus, Senin (29/6/2026).

Bestari menjelaskan bahwa mesol kibau merupakan tradisi yang diwariskan oleh kerajaan-kerajaan adat di Lampung sebagai simbol penghormatan tertinggi kepada tamu agung atau pemimpin. “Ini adalah bentuk kebudayaan yang telah ada sejak dulu. Jokowi menghormati adat, dan itu seharusnya diapresiasi,” ujarnya.

Perbedaan Makna dan Politik

Kritik dari PSI terhadap PDIP ini berdasarkan perbedaan interpretasi. Menurut Bestari, PDIP terkesan mengaitkan tindakan Jokowi dengan kepentingan politik, sementara seharusnya ritual tersebut dianggap sebagai bagian dari kekayaan budaya nusantara. “Kalau ada yang memaknai ritual ini sebagai simbol penghinaan terhadap partai, maka itu adalah penafsiran yang kurang tepat,” lanjutnya.

Di sisi lain, PDIP bersikap santai menghadapi kritik tersebut. Andreas menilai bahwa perdebatan yang muncul adalah hasil dari keberagaman pandangan, dan tindakannya menertawakan ritual tersebut lebih pada sifat humoris. “Ini bukan kehinaan, tapi bagian dari bagaimana kita menghormati budaya,” jelasnya.

Persoalan Simbol dan Interpretasi

Prosesi mesol kibau memang memiliki makna khusus dalam budaya Lampung. Ritual tersebut sering dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang dianggap penting, seperti tokoh politik atau pemimpin besar. Namun, bagi sebagian masyarakat, tindakan Jokowi menginjak kepala kerbau bisa dianggap sebagai tanda kekuasaan atau dominasi yang diwujudkan secara simbolis.

Reaksi publik di media sosial menunjukkan bahwa interpretasi ini bisa berubah sesuai dengan konteks politik. Beberapa netizen menilai PDIP memanfaatkan ritual tersebut untuk memperkuat pengaruhnya, sementara PSI menilai tindakan tersebut merendahkan nilai-nilai adat Lampung. Kedua pihak pun saling menyalahkan, dengan PDIP menganggap PSI terlalu sensitif terhadap simbol-simbol budaya, dan PSI merasa PDIP tidak serius dalam mempertahankan nilai-nilai tradisi.

Pola Kekuasaan dan Kritik Politik

Kritik dari Bestari Barus tidak hanya terarah pada prosesi adat, tetapi juga menyentil pernyataan Andreas Hugo Pareira yang sebelumnya sempat mempertanyakan kualitas dan kapasitas Jokowi setelah menjadi presiden. “Andaian itu tindakan menginjak kepala kerbau dianggap sebagai simbol menghina PDIP, maka itu adalah bentuk penafsiran yang terlalu sederhana,” kata Bestari.

Bestari menegaskan bahwa adat Lampung memiliki keunikan dan makna yang dalam, dan Jokowi sebagai pemimpin negara wajib memahami serta menghormati budaya lokal. “Jokowi hadir untuk menghormati, bukan untuk memperlihatkan kekuasaannya,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan antara PDIP dan PSI tidak hanya terletak pada penafsiran terhadap ritual, tetapi juga pada pandangan mereka tentang simbol-simbol politik dalam konteks budaya.

Kedua partai tersebut memiliki strategi komunikasi yang berbeda. PDIP memilih cara santai dan humoris untuk menghadapi kritik, sementara PSI lebih tegas dalam menilai bahwa ritual tersebut dianggap sebagai penghormatan, dan penafsiran politik yang melibatkan PDIP adalah bentuk penistaan. Meski demikian, perdebatan ini justru memperkuat peran adat dalam membangun identitas politik dan budaya di Indonesia.

Peristiwa ini juga menyoroti bagaimana simbol-simbol budaya bisa menjadi alat komunikasi politik. Meskipun mesol kibau memiliki makna sendiri dalam adat Lampung, kritik terhadap PDIP menunjukkan bahwa simbol-simbol ini bisa diberi makna baru tergantung pada konteks sosial dan politik saat ini. Dengan dem

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *