Presiden Prabowo Tutup Muktamar NU ke-35 di Bahrul Ulum, Disambut Sorban Putih oleh Pengasuh Pesantren
Pondokkebaikan.com – Pagi itu, tepat pukul 10.10 WIB, gerbang Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menjadi titik temu antara kekuasaan negara dan tradisi keilmuan Islam Nusantara. Presiden Prabowo Subianto melangkah masuk kawasan pesantren dengan satu agenda utama: menutup rangkaian Muktamar ke-35 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berlangsung selama beberapa hari sebelumnya.
Muktamar NU bukan sekadar rapat kerja biasa. Setiap lima tahun, ratusan ribu kiai, ulama, aktivis, dan simpatisan dari seluruh penjuru negeri berkumpul untuk menentukan arah kebijakan organisasi, memilih kepemimpinan baru, serta merumuskan sikap terhadap isu-isu kebangsaan. Edisi ke-35 ini menjadi momentum transisi kepemimpinan PBNU untuk masa khidmah 2026–2031, sehingga kehadiran kepala negara di acara penutupan membawa bobot simbolik yang jauh melampaui protokol kenegaraan biasa.
Momen Sorban Putih di Gerbang Pesantren
Sebelum Prabowo benar-benar menginjakkan kaki di area pesantren, ia terlebih dahulu menyapa para Nadliyin yang telah memadati lokasi dari sunroof mobil kepresidenan, Maung Pindan MV3 Garuda Limousine. Sapaan singkat itu menjadi penanda awal interaksi antara pemimpin negara dan komunitas pesantren.
Meski demikian, momen yang paling mencuri perhatian terjadi sesaat setelah Prabowo turun dari kendaraan. Rais Aam PBNU, Kiai Miftachul Akhyar, bersama Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031, dan Pangasuh Ponpes Bahrul Ulum, Hasib Wahab Chasbullah, langsung menyambut kedatangannya dengan cara yang khas dalam tradisi pesantren Jawa.
Hasib Wahab Chasbullah, yang telah memimpin Bahrul Ulum selama puluhan tahun dan dikenal luas sebagai salah satu kiai paling berpengaruh di lingkungan NU, tidak hanya sekadar berjabat tangan. Ia mengambil sehelai sorban berwarna putih, mengalungkannya langsung ke leher Prabowo, lalu membenarkan kancing baju koko bagian kerah yang dikenakan presiden. Gestur kecil itu sarat makna: dalam budaya pesantren, mengalungkan sorban kepada tamu kehormatan adalah bentuk penghormatan tertinggi sekaligus simbol penerimaan ke dalam lingkaran keilmuan Islam. Sementara membenarkan kerah pakaian menunjukkan perhatian personal yang melampaui formalitas protokol.
Alunan sorban putih di leher kepala negara menjadi pengingat bahwa di tanah pesantren, hierarki kekuasaan diletakkan di bawah hierarki ilmu dan adab.
Komposisi Kehadiran Kabinet
Kunjungan ini bukan agenda tunggal seorang presiden. Sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara mendampingi Prabowo dalam rombongan resmi, antara lain Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Di lokasi acara, daftar hadir juga mencakup Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Menteri PPPA Arifatuk Choiri Fauzi, Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Kehadiran lintas kementerian ini menegaskan bahwa Muktamar NU dipandang sebagai peristiwa yang menyentuh banyak sektor kebijakan, mulai dari pendidikan keagamaan, urusan haji, hingga ketertiban umum.
Bahrul Ulum: Akar Tradisi yang Mendukung Muktamar
Pemilihan Bahrul Ulum sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 bukan kebetulan. Pesantren yang berdiri sejak akhir abad ke-19 ini merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua dan paling bergengsi di Jawa Timur. Ribuan alumni Bahrul Ulum tersebar di seluruh Indonesia, menempati posisi sebagai kiai, guru, pejabat, dan aktivis sosial. Menjadikan pesantren ini sebagai panggung penutupan Muktamar sekaligus menegaskan kembali akar NU yang tumbuh dari tradisi pesantren, bukan dari struktur birokratis semata.
Bagi masyarakat Jombang dan sekitarnya, kehadiran ribuan delegasi Muktamar selama beberapa hari membawa dampak ekonomi lokal yang signifikan: penginapan, pedagang kuliner, dan jasa transportasi di sekitar Tambakberas mengalami lonjakan aktivitas. Bagi warga pesantren sendiri, momen sorban putih yang diberikan kepada presiden menjadi bagian dari narasi panjang tentang bagaimana otoritas keilmuan pesantren tetap menjadi rujukan moral di tengah dinamika politik nasional.
Implikasi Politik dan Sosial
Penutupan Muktamar oleh presiden membuka babak baru bagi kepemimpinan PBNU periode 2026–2031. Keputusan-keputusan yang diambil dalam forum tersebut—mulai dari orientasi kebijakan sosial, sikap terhadap isu keagamaan, hingga posisi organisasi dalam percakapan kebangsaan—akan mewarnai lanskap politik Indonesia selama lima tahun ke depan. Kehadiran kepala negara di acara penutupan mengirim sinyal bahwa negara mengakui peran strategis NU sebagai pilar kohesi sosial, sekaligus membuka ruang dialog antara eksekutif dan komunitas keagamaan terbesar di negeri ini.
Di balik seluruh protokol dan formasi resmi, satu gestur sederhana—sehelai sorban putih yang diikatkan oleh tangan seorang kiai tua—tetap menjadi inti dari peristiwa pagi itu: pengingat bahwa di tanah pesantren, kekuasaan selalu tunduk pada adab, dan setiap tamu, betapapun tinggi jabatannya, diterima dengan kerendahan hati yang sama.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Prabowo Tiba di Jombang Dapat Sorban?
Prabowo Tiba di Jombang Dapat Sorban is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Prabowo Tiba di Jombang Dapat Sorban matter?
Prabowo Tiba di Jombang Dapat Sorban matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.



