Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan, Pakar UGM Soroti Habitat Satwa

Pondokkebaikan.com – Dosen UGM Dwi Sendi Priyono menyatakan restorasi karhutla harus memprioritaskan konektivitas habitat satwa berbasis data lapangan pada Jumat (28/8/2026).

Pemulihan ekosistem wajib didukung restorasi hidrologi gambut agar lanskap tidak kering dan berulang kali mengalami kebakaran setiap musim kemarau.

Ukuran keberhasilan penanganan karhutla harus berfokus pada keterhubungan populasi satwa serta viabilitas genetik alih-alih luas wilayah semata.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan ( karhutla ) tidak cukup hanya berorientasi pada luas wilayah yang berhasil dipadamkan maupun direstorasi. Pemulihan ekosistem harus memastikan habitat satwa tetap terhubung agar populasi tidak terisolasi dan kehilangan keragaman genetik.

Dosen Fakultas Biologi UGM sekaligus Anggota Society for Wildlife Forensic Science (SWFS), Dwi Sendi Priyono, mengatakan restorasi seharusnya memprioritaskan konektivitas antarkawasan.

"Prioritas restorasi harus berbasis konektivitas, bukan cuma luas. Sering yang direstorasi itu area yang gampang diakses, padahal secara ekologis yang paling genting adalah patch-patch sempit yang menghubungkan dua blok besar," kata Sendi kepada Suara.com, dikutip Jumat (28/8/2026).

Menurut Sendi, pendekatan yang hanya melihat luasan restorasi berisiko mengabaikan persoalan fragmentasi habitat. Satwa mungkin masih memiliki kawasan untuk hidup, tetapi kehilangan jalur untuk berpindah, mencari makan, berkembang biak, dan bertukar gen dengan populasi lain.

Maka dari itu, penentuan koridor satwa tidak cukup hanya mengandalkan peta kesesuaian habitat. Diperlukan data lapangan untuk memastikan kawasan yang ditetapkan sebagai koridor memang digunakan oleh satwa.

"Penentuan koridor harus pakai data. Sekarang penentuan koridor sering masih berbasis kesesuaian habitat di atas peta, padahal habitat yang keliatan cocok belum tentu benar-benar dilewati satwa," tandasnya.

Ia menjelaskan perilaku satwa di lapangan, kondisi pascakebakaran, gangguan manusia, hingga perubahan lanskap dapat membuat koridor yang secara teoritis sesuai justru tidak berfungsi.

Selain konektivitas habitat, kata Sendi, kondisi genetik populasi perlu dijadikan salah satu indikator keberhasilan pemulihan setelah karhutla. Pemantauan genetik dinilai penting karena dapat menunjukkan tekanan terhadap populasi sebelum penurunan jumlah individu terlihat secara kasatmata.

"Monitoring genetik jadi indikator pasca-karhutla. Ini yang bisa kasih peringatan dini sebelum populasi kolaps, karena penurunan genetik selalu mendahului penurunan jumlah individu yang terlihat," ujarnya.

Kenang Korban, Massa Gelar Aksi 'Agustus Gelap' di UGM: Menolak Lupa Kekerasan Aparat

Namun, persoalan mendasar juga berada pada kondisi lanskap, khususnya ekosistem gambut . Menurutnya, restorasi koridor satwa tidak akan banyak berarti jika gambut tetap dalam kondisi kering dan mudah terbakar setiap musim kemarau.

"Ini paling mendasar, restorasi hidrologi gambut. Selama kanal drainase masih terbuka, gambut akan tetap kering dan tetap terbakar. Koridor secanggih apapun percuma kalau lanskapnya masih flammable tiap kemarau," tegasnya.

Selain pemulihan lanskap, pemantauan fauna setelah kebakaran harus terus diperkuat. Ia secara khusus menyoroti fauna akuatik gambut yang dapat terdampak perubahan kualitas dan kondisi ekosistem akibat kebakaran.

"Monitoring pasca-kebakaran, terutama buat fauna akuatik gambut. Ini perlu buat tahu spesies apa yang masih tersisa," tandasnya.

Pada akhirnya, Sendi mendorong perubahan indikator keberhasilan penanganan karhutla.

Ukuran keberhasilan tidak seharusnya berhenti pada jumlah hektare yang berhasil dipadamkan atau direstorasi.

"Intinya, ke depan kita perlu geser cara mengukur keberhasilan. Jangan cuma 'berapa hektare yang dipadamkan dan direstorasi', tapi 'apakah populasi satwa di dalamnya masih saling terhubung dan masih viable secara genetik'," pungkasnya.

Frequently Asked Questions

What is Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan?

Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan matter?

Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *