Taruna Akmil akan Dampingi Siswa Sekolah Rakyat Belajar Mandiri di Asrama Selama 5 Hari

Share: X Facebook
28859-kemensos

Penyuluh Taruna Akmil Diterjunkan untuk Pendampingan Siswa Sekolah Rakyat di Asrama

Pondokkebaikan.com – Kementerian Sosial dan TNI bekerja sama dalam menerjunkan sekitar 1.000 taruna dari Akademi Militer (Akmil) tingkat I dan II untuk menjadi pendamping siswa di 178 Sekolah Rakyat. Program ini bertujuan meningkatkan kemandirian para pelajar yang tinggal di asrama selama lima hari, dari 3 hingga 8 Agustus 2026.

Kemandirian Siswa Jadi Fokus Utama

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengungkapkan bahwa kehadiran para taruna tidak menggantikan peran guru dalam pembelajaran di kelas, tetapi fokus pada pembinaan kehidupan asrama. Menurutnya, kegiatan ini memberikan pelatihan sederhana kepada siswa, seperti merapikan barang, mengatur tempat tidur, hingga membiasakan kesopanan dalam mengenakan seragam.

“Program ini berlangsung selama lima hari, mulai 3 hingga 8 Agustus. Tujuannya adalah membantu anak-anak yang tinggal di asrama agar lebih mandiri. Mereka akan dibimbing melakukan tugas-tugas sederhana, seperti merapikan lemari, menyusun tempat tidur, hingga membiasakan kerapian dalam mengenakan seragam,” ujar Agus Jabo dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Agus Jabo menjelaskan bahwa para taruna bertugas sebagai pengasuh lingkungan asrama, sehingga siswa dapat beradaptasi dengan kehidupan baru secara nyaman. Meski harus tinggal jauh dari keluarga, kehadiran mereka diharapkan memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi para pelajar.

“Taruna tidak mengajar di kelas seperti guru. Mereka memberikan bimbingan di asrama agar anak-anak Sekolah Rakyat dapat tinggal dengan tenang dan nyaman, meski tidak tinggal satu rumah dengan keluarganya. Mereka juga memberikan pembinaan agar tidak terjadi segala bentuk kekerasan, termasuk perundungan atau kekerasan dari kakak kelas kepada adik kelas,” tambahnya.

Program ini didasarkan pada Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025, yang menekankan optimalisasi pengentasan kemiskinan melalui pendidikan. Dalam instruksi tersebut, ditekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung penguatan karakter siswa, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Pemilihan Taruna Berdasarkan Pengalaman dan Keterampilan

Agus Jabo menambahkan bahwa taruna Akmil dipilih karena pengalaman mereka dalam mengatur kehidupan berasrama. Hal ini membuat mereka mampu memberikan pendekatan yang tepat untuk membimbing siswa menuju kemandirian.

“Kenapa taruna? Karena mereka yang memahami bagaimana hidup di asrama. Pengalaman itu yang ingin ditularkan kepada anak-anak Sekolah Rakyat agar mereka cepat beradaptasi dan memiliki karakter yang mandiri,” ujarnya.

Menurutnya, program ini merupakan langkah konkret dalam menunjang kualitas pendidikan bagi siswa yang tergabung dalam Sekolah Rakyat. Keterampilan dasar yang diberikan meliputi berbagai tugas sehari-hari, seperti menyetrika seragam, merapikan seprei dan pakaian, serta membangun kebiasaan hidup terstruktur di asrama. Dalam pelaksanaannya, setiap Sekolah Rakyat akan didampingi lima personel taruna yang bertugas secara intensif.

Peran Taruna dalam Membentuk Karakter Siswa

Program pendampingan ini dirancang untuk melatih siswa menghadapi tantangan hidup yang lebih kompleks. Dengan bimbingan taruna, anak-anak diharapkan mampu mengatur waktu, menjaga kebersihan, dan berinteraksi secara baik dengan sesama. Selain itu, kehadiran mereka juga bertujuan mencegah munculnya perilaku negatif, seperti perundungan atau ketidakadilan di dalam asrama.

Agus Jabo menekankan bahwa Sekolah Rakyat menjadi solusi untuk mengatasi masalah akses pendidikan bagi jutaan anak yang tidak memiliki kegiatan belajar di sekolah biasa. Ia meminta kepala daerah memberikan dukungan maksimal agar program ini bisa berjalan lancar.

“Sekolah Rakyat dibutuhkan karena masih ada jutaan anak yang tidak memiliki akses pendidikan. Kepala daerah harus aktif mendukung, baik secara logistik maupun moral, agar program ini bisa memberikan manfaat yang maksimal,” katanya.

Dalam konteks sosial, program ini juga bertujuan mengurangi kesenjangan pendidikan di daerah terpencil atau kawasan dengan akses terbatas. Para taruna Akmil dianggap memiliki kapasitas untuk menjadi contoh yang baik dalam berperilaku disiplin dan tanggung jawab. Dengan cara ini, siswa diberi pembelajaran langsung tentang kehidupan berasrama, yang menjadi pengalaman penting untuk masa depan mereka.

Menurut Agus Jabo, penerapan program ini harus tetap sesuai dengan prinsip pendidikan yang inklusif. Para siswa tidak hanya diberi pelatihan fisik, tetapi juga penguatan mental dan sosial. Selama lima hari, mereka akan belajar bagaimana mengatur diri, membangun sikap percaya diri, dan menjaga hubungan dengan sesama teman.

“Tujuan utama dari bimbingan ini adalah memberikan pengalaman hidup yang nyaman, sehingga anak-anak bisa beradaptasi dengan cepat dan berpikir mandiri,” jelasnya.

Keberhasilan program ini ditentukan oleh komitmen semua pihak, termasuk siswa, taruna, dan pihak pengelola asrama. Agus Jabo yakin dengan pengalaman dan kompetensi para taruna, program ini akan menjadi jembatan untuk membangun karakter pelajar yang siap menghadapi tantangan dunia nyata. Dukungan dari pemerintah daerah juga sangat penting dalam memastikan fasilitas dan infrastruktur yang memadai untuk kegiatan ini.

Selain itu, program ini menjadi bagian dari upaya nasional dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan melibatkan TNI, kegiatan pendampingan tidak hanya mengutamakan aspek akademik, tetapi juga aspek kehidupan sosial. Ini diharapkan menjadi paradigma baru dalam memperkuat sistem pendidikan di Indonesia, terutama untuk kelompok siswa yang kurang diperhatikan sebelumnya.

“Sekolah Rakyat adalah bagian dari solusi untuk mengatasi masalah pendidikan. Dengan melibatkan taruna Akmil, kita bisa memastikan pelatihan yang konsisten dan efektif,” tuturnya.

Program ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan inisiatif baru dalam pendidikan. Dengan konsep pendampingan yang lebih intensif, siswa diharapkan tidak hanya mampu mengikuti pelajaran di kelas, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang tanggu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *