New Policy: 19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati ‘Todong’ ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!

Share: X Facebook
43181-bupati-garut-abdusy-syakur-amin

19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati ‘Todong’ ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!

New Policy – Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menggalang dukungan masyarakat untuk menjadi penjaga pendidikan anak-anak yang tidak melanjutkan studi di wilayahnya. Program ini bertujuan memulihkan akses pendidikan bagi sekitar 19 ribu anak yang putus sekolah akibat berbagai hambatan. Langkah ini dianggap penting untuk memastikan generasi muda tetap berpeluang meraih masa depan yang lebih baik.

Program yang ditujukan pada 19 ribu anak putus sekolah ini didanai oleh berbagai pihak, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN), pengusaha, serta lembaga sosial dan keagamaan. Bupati mengungkapkan bahwa kolaborasi lintas sektor akan menjadi kunci untuk meminimalkan angka putus sekolah dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif. “Kita akan menginventarisir anak-anak yang mau dijadikan anak asuh, dan kita akan mengajak orang-orang yang mampu untuk ikut serta,” kata Abdusy Syakur saat diwawancarai di Garut, Kamis (25/6/2026).

Penghubung Digital untuk Membangun Program Berkelanjutan

Pemkab Garut sedang mengembangkan platform digital khusus untuk mempermudah proses penghubungan antara individu yang bersedia menjadi orang tua asuh dengan anak-anak yang membutuhkan bantuan. Aplikasi ini dirancang agar memfasilitasi pertukaran informasi dan memastikan keberlanjutan partisipasi masyarakat. “Kita lagi mendesain semacam aplikasi yang jadi penghubung antara orang tua asuh dan anak asuh,” ujarnya, menegaskan bahwa teknologi akan menjadi alat utama dalam menyasar target.

Kolaborasi dengan lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Korpri juga digencarkan untuk memperkuat dana bantuan. Bupati menekankan bahwa dukungan dari perorangan maupun lembaga akan menciptakan jaringan yang lebih luas, sehingga anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki akses ke sumber dana pendidikan yang stabil. “Nanti ada orang tua yang akan membantu membiayai kebutuhan anaknya,” jelasnya, menggambarkan visi program ini sebagai solusi jangka panjang.

Misi Besar untuk Masa Depan Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Garut tengah meluncurkan inisiatif besar untuk menjaga kualitas pendidikan dan mengurangi jumlah anak yang putus sekolah. Target utama adalah mencapai 100 persen partisipasi pendidikan, terutama pada anak-anak yang terlantar akibat kondisi ekonomi yang memburuk. “Kita perlu memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar,” tegas Abdusy Syakur, yang menyoroti pentingnya kepedulian kolektif.

Menurut Bupati, angka putus sekolah meningkat signifikan pada masa transisi dari jenjang Sekolah Dasar (SD) ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meski partisipasi di SD masih dianggap optimal, akan tetapi jumlah anak yang meninggalkan sekolah pada tahap berikutnya memicu kekhawatiran. “Data dari dapodik (data pendidikan) itu sebenarnya turunnya dari ketika masuk SMP, kalau SD itu angka partisipasi sekolah kita bagus,” terangnya, menjelaskan tren penurunan jumlah siswa di tingkat SMP.

Penyebab Utama Putus Sekolah di Garut

Menurut Bupati, ada tiga faktor utama yang menjadi penyebab utama anak-anak di Garut berhenti sekolah: masalah ekonomi, jarak rumah ke sekolah yang terlalu jauh, serta pengaruh budaya. Kondisi ekonomi yang tidak stabil sering kali mendorong keluarga mengorbankan pendidikan anak demi menutupi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, jarak sekolah yang jauh menjadi hambatan bagi anak-anak di daerah terpencil.

Budaya juga berperan dalam menentukan nasib pendidikan anak, terutama jika orang tua mengutamakan kerja di luar rumah. Bupati berharap dengan program ini, masyarakat mampu mengambil peran aktif dalam membantu anak-anak yang terlantar. “Kita perlu menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang,” lanjutnya, menyoroti urgensi tindakan cepat.

Keterlibatan Berbagai Pihak dalam Program

Dalam rangka mengatasi masalah tersebut, Pemkab Garut terus menggandeng berbagai pihak. Selain perorangan, lembaga seperti Baznas dan Korpri juga diwajibkan mengalokasikan dana bantuan. Abdusy Syakur menyatakan bahwa program ini bukan hanya bantuan materi, tetapi juga dukungan psikologis dan bimbingan akademik yang diberikan secara berkelanjutan.

Program ini juga diharapkan menjadi contoh bagus dalam pengembangan kemitraan antara pemerintah dan masyarakat. Bupati menegaskan bahwa keberhasilan program akan tergantung pada partisipasi aktif masyarakat, termasuk masyarakat sipil dan organisasi keagamaan. “Setiap kontribusi, kecil atau besar, akan berdampak signifikan,” tambahnya.

Sebagai langkah penguatan, Pemkab Garut sedang memvalidasi data terkini tentang jumlah anak putus sekolah. Dari hasil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *