BEM SI Keluhkan DPR Tidak Pro Rakyat dalam Fokus RUU Polri
Aksi Demonstrasi di Gedung DPR RI pada 15 Juni 2026
Meeting Results – Aksi demonstrasi yang berlangsung di depan Gedung DPR RI pada hari Senin, 15 Juni 2026, menyoroti kekecewaan massa BEM SI terhadap kebijakan parlemen yang dianggap tidak lagi mengutamakan kepentingan rakyat. Aksi ini merupakan bagian dari meeting results yang diumumkan oleh organisasi mahasiswa tersebut setelah rapat internal yang memicu kritik terhadap fokus DPR pada Rancangan Undang-Undang Polri (RUU Polri). Demonstran menyatakan bahwa DPR terkesan mengabaikan isu-isu penting yang langsung terkait dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, kemiskinan, dan ketimpangan sosial, demi mendiskusikan RUU Polri yang dinilai terlalu dominan menyangkut otoritas kepolisian.
“Kami menilai meeting results DPR pada 15 Juni ini menjadi bukti bahwa parlemen tidak lagi mementingkan aspirasi rakyat, melainkan lebih fokus pada RUU Polri yang bisa memperkuat dominasi kekuasaan polisi di berbagai sektor kehidupan masyarakat,” ujar salah satu peserta aksi.
Analisis RUU Polri dan Kritik dari BEM SI
Dalam meeting results yang diumumkan, BEM SI menyatakan bahwa RUU Polri yang sedang dibahas di Komisi III DPR menimbulkan kekhawatiran terhadap keterbukaan dan transparansi dalam proses pengambilan keputusan. BEM SI mengkritik perubahan dalam rancangan undang-undang tersebut yang berpotensi mengurangi ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam kebijakan polisi. Mereka juga menyebut bahwa RUU Polri menciptakan ketergantungan kuasa antara institusi kepolisian dan pemerintah, serta memperlebar wewenang penggunaan kekuatan tindakan pemerintah.
RUU Polri yang sedang dibahas tersebut dianggap tidak hanya memperkuat otoritas polisi, tetapi juga membatasi hak-hak warga untuk mengawasi dan mengendalikan kegiatan kepolisian. BEM SI menilai bahwa pembaruan RUU ini perlu melibatkan lebih banyak masukan dari masyarakat, khususnya dari kelompok-kelompok yang paling terdampak, seperti korban kekerasan atau pelaku tindak pidana ringan. Dalam meeting results mereka, BEM SI juga menyoroti kelemahan dalam penjelasan DPR terkait tujuan RUU Polri, yang dinilai tidak jelas dan berpotensi menimbulkan ketimpangan.
Respons dari Fraksi dan Anggota DPR
Pasca-aksi demonstrasi, beberapa anggota DPR memberikan respons terhadap kritik dari BEM SI. Mereka menjelaskan bahwa RUU Polri dibuat untuk menjamin efisiensi dan keseragaman dalam penerapan hukum di seluruh Indonesia. “Kita harus memahami bahwa meeting results ini adalah bagian dari proses demokratisasi, di mana semua pihak bisa menyampaikan pendapat mereka,” kata anggota Komisi III DPR yang turut memberikan pernyataan pers.
Namun, kritik dari BEM SI tetap memperoleh dukungan dari sejumlah kelompok advokasi dan aktivis yang menilai RUU Polri perlu diperiksa ulang agar tidak melanggar prinsip keadilan dan keterbukaan. Dalam meeting results mereka, BEM SI juga menekankan pentingnya keberlanjutan dialog antara lembaga legislatif dan masyarakat, agar tidak terjadi kesenjangan antara kebijakan dan kebutuhan rakyat.
Impak Aksi dan Proses Diskusi Lanjutan
Aksi demonstrasi ini diharapkan dapat mendorong DPR untuk lebih memperhatikan suara publik dalam meeting results yang mereka lakukan. BEM SI mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk terus aktif dalam menyuarakan kepentingan mereka, terutama terkait dengan RUU Polri yang akan diusulkan ke Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka juga menyarankan agar proses penyusunan RUU ini tidak hanya didasarkan pada pertimbangan politik, tetapi juga pada aspirasi yang berasal dari rakyat.
Di sisi lain, pengamat politik menyatakan bahwa meeting results BEM SI pada 15 Juni ini menjadi salah satu bentuk upaya untuk mengingatkan DPR agar tidak terjebak dalam sikap konservatif dan tidak mampu merespons perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. “RUU Polri adalah salah satu isu penting, tetapi harus dilihat dalam konteks yang lebih luas,” tambah seorang analis politik yang hadir dalam acara tersebut.
Kebutuhan Perbaikan dalam Proses Legislasi
BEM SI menekankan bahwa keberhasilan meeting results pada 15 Juni ini tergantung pada kemampuan DPR untuk mengakui kritik yang disampaikan dan melakukan perubahan kecil dalam RUU Polri. Mereka juga meminta agar semua pertimbangan dari kelompok masyarakat, termasuk mahasiswa, dianggap sebagai bagian dari proses legislatif yang transparan. “Kami yakin dengan adanya meeting results yang baik, RUU Polri bisa menjadi alat untuk memperkuat kesejahteraan rakyat, bukan alat untuk memperlebar kekuasaan,” tegas seorang perwakilan BEM SI.
Dalam rangka mencapai keadilan, BEM SI mengingatkan bahwa proses penyusunan RUU Polri harus melibatkan partisipasi aktif dari berbagai stakeholder. Dengan meeting results yang dihasilkan dari aksi demonstrasi ini, mereka berharap dapat mendorong DPR untuk menciptakan kebijakan yang lebih inklusif dan merakyat. Aksi juga menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengawasi proses legislatif yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.



