Lagu Om Zein Dinilai Lecehkan Perempuan, Dianggap Humor Pun Tidak Lucu!

Share: X Facebook
18647-bupati-purwakarta-saepul-bahri-binzein

Lagu Om Zein Dinilai Melecehkan Perempuan, Terus Jadi Perdebatan

Anggota DPR Tegaskan Kritik terhadap Lagu ‘Lalaki Langit Lalanang Bejat’

Pondokkebaikan.com – Menurut main agenda, anggota DPR Selly Andriany Gantina mengkritik lagu karya Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein (dikenal sebagai Om Zein) yang dinilai merendahkan perempuan. Lagu berjudul ‘Lalaki Langit Lalanang Bejat‘ menjadi sorotan karena liriknya dianggap mengandung stereotip gender yang melecehkan. Selly menegaskan bahwa karya ini memicu kontroversi dan menimbulkan pertanyaan terhadap kepemimpinan sang pencipta, terutama dalam menggambarkan peran perempuan.

Om Zein mengklaim bahwa lagu ini dimaksudkan untuk mempromosikan budaya lokal dan menyebarluaskan nilai-nilai masyarakat Sunda. Namun, banyak masyarakat dan netizen berpendapat bahwa istilah-istilah dalam lirik, seperti referensi kehamilan, keguguran, serta siklus menstruasi, terkesan memperparah prasangka terhadap perempuan. Menurut Selly, ini bukan hanya humor yang kurang lucu, tetapi juga kesenjangan dalam empati terhadap isu gender.

“Lagu ‘Lalaki Langit Lalanang Bejat‘ dilihat dari lirik-liriknya sangat melecehkan perempuan,” jelas Selly kepada media pada Kamis (2/7/2026). Ia menambahkan bahwa kritik terhadap karya ini berawal dari perasaan terluka yang dialami masyarakat, khususnya perempuan.

Kritik dari Berbagai Kalangan dan Penjelasan Bupati

Kontroversi lagu ini memicu perdebatan yang melibatkan berbagai pihak. Selly Andriany Gantina mengingatkan bahwa tokoh publik, terutama pemimpin seperti Om Zein, harus menyadari bahwa komunikasi mereka memiliki dampak sosial yang signifikan. Ia menekankan bahwa humor atau seni tidak bisa menjadi alasan untuk mengabaikan kesetaraan gender.

Om Zein sendiri telah memberikan permintaan maaf dan klarifikasi, menyatakan bahwa maksud lagu ini adalah menghormati budaya lokal, bukan mengandung niat merendahkan. Namun, keberatan terus berlanjut, terutama karena lirik-liriknya dinilai tidak seimbang dalam memperbandingkan peran laki-laki dan perempuan. Beberapa bagian lagu menggambarkan beban perempuan secara eksplisit, sementara peran laki-laki dianggap lebih dominan.

Main agenda juga menyoroti bahwa lagu ini telah menjadi viral di media sosial. Meski sebagian orang menganggapnya sebagai bentuk kreativitas budaya, banyak yang merasa lagu ini melibatkan kesenjangan gender yang jelas. Selly mengingatkan bahwa pesan dari seni tidak boleh menjadi alat untuk mengabaikan nilai-nilai inklusif dalam masyarakat.

Banyak pendapat yang berbeda muncul, mulai dari kritik terhadap penggunaan bahasa seksis hingga pendukung yang menilai itu hanya ekspresi seni. Namun, perdebatan ini menunjukkan bahwa lagu Om Zein menjadi isu yang tidak hanya lokal, tetapi juga menggugah masyarakat luas untuk memikirkan representasi gender dalam seni dan budaya.

Dalam wawancara dengan media, Selly menegaskan bahwa selain memicu kontroversi, lagu ini juga menunjukkan ketidaktahapan tokoh publik dalam menyampaikan pesan yang relevan. “Kalau mau dianggap humor sekalipun, isi lagunya harus lucu dan tidak merendahkan,” imbuhnya. Ia berharap ada kesadaran yang lebih baik dalam menciptakan karya seni yang mampu menggambarkan kehidupan manusia secara adil.

Kritik terhadap lagu ini juga memicu refleksi tentang peran seni dalam membentuk norma sosial. Apakah lagu ‘Lalaki Langit Lalanang Bejat’ benar-benar melecehkan perempuan, atau hanya bentuk ekspresi yang dapat diterima dalam konteks budaya tertentu? Perdebatan ini terus berlanjut, dan main agenda berharap masyarakat dapat mencerna pesan yang disampaikan dengan lebih bijak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *