Kronologi Ricuh Hari Damai Aceh di Masjid Baiturrahman
Pondokkebaikan.com – Kondisi di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, berubah menjadi panas pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026. Ribuan warga yang hadir untuk memperingati Hari Damai Aceh XXI menyaksikan momen tegang ketika pengibaran bendera Bulan Bintang memicu aksi saling lempar dan penggunaan gas air mata oleh petugas keamanan. Peristiwa ini mengubah suasana khidmat yang semula menghiasi rangkaian acara menjadi keributan yang menarik perhatian publik.
Peringatan tahunan yang biasanya berlangsung dengan penuh ketenangan ini kali ini mencatatkan sejarah baru. Massa yang hadir tidak hanya sekadar mengikuti zikir dan doa bersama, tetapi juga menyampaikan aspirasi melalui simbol-simbol yang mereka bawa. Bendera putih, bendera Bulan Bintang, hingga bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi saksi bisu dari dinamika yang terjadi di dalam kompleks masjid bersejarah tersebut.
Awal Mula Ketegangan
Kehadiran ribuan warga dari berbagai daerah di Aceh sudah terasa sejak Jumat malam, 14 Agustus. Mereka tiba di Banda Aceh dengan berbagai tujuan, namun satu hal yang sama: ingin berpartisipasi dalam rangkaian peringatan yang ke-21 ini. Sejak salat Subuh, halaman masjid mulai dipenuhi oleh jamaah yang datang untuk mengikuti zikir akbar dan mendengarkan orasi terkait kondisi terkini di Aceh.
Kegiatan zikir dan doa bersama yang dipimpin oleh sejumlah ulama Aceh berlangsung dari pukul 07.00 hingga 09.00 WIB. Sebagian warga duduk di bawah terik matahari pagi dengan penuh kesabaran, sementara yang lain memilih berdiri untuk mengantisipasi perubahan situasi. Meskipun awalnya tidak ada bendera yang dikibarkan di dalam kawasan masjid, suasana mulai berubah ketika massa semakin banyak meneriakkan kata “merdeka” dengan lantang.
Pada sekitar pukul 09.00 WIB, momen krusial terjadi. Sejumlah massa mengeluarkan bendera Bulan Bintang dan mulai mengibarkannya di tengah kerumunan. Panitia dan aparat keamanan yang berada di lokasi segera memberikan imbauan agar bendera tersebut diturunkan sementara hingga acara selesai. Namun, permintaan ini tidak sepenuhnya dipatuhi oleh sebagian massa yang telah berdiri di bawah terik matahari dan terus mempertahankan bendera yang mereka bawa.
Puncak Keributan
Ketegangan antara massa dan aparat keamanan meningkat tajam. Massa meminta personel TNI dan kepolisian meninggalkan area dalam kompleks Masjid Raya Baiturrahman. Petugas keamanan kemudian bergerak keluar dari kawasan masjid, namun tidak semua berjalan lancar. Sejumlah massa mengejar petugas dan melempari mereka menggunakan botol air mineral yang ada di sekitar lokasi.
“Salah seorang personel TNI bahkan sempat tersangkut di pagar masjid ketika berupaya meninggalkan lokasi dengan cepat,” ungkap saksi mata.
Meskipun terjadi ketegangan fisik, kegiatan zikir dan doa bersama tetap dilanjutkan hingga berakhir sekitar pukul 11.00 WIB. Sebagian massa masih bertahan di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, tidak ingin meninggalkan tempat sebelum semuanya selesai.
Situasi kembali memanas sekitar pukul 11.11 WIB ketika salah seorang massa terlihat memanjat tiang bendera yang berada di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Aksi ini menjadi simbol dari semangat yang masih berkobar di antara para peserta acara.
Dampak dan Reaksi
Di luar kompleks masjid, dampak dari kericutan juga terasa. Massa merusak lambang Garuda dan mengganti bendera di Pendopo Gubernur Aceh. Kepolisian hingga saat ini masih mendata seluruh dampak dari kejadian tersebut, termasuk kerugian materiil dan jumlah korban yang terlibat.
Peringatan Hari Damai Aceh XXI tahun ini menjadi momen penting bagi masyarakat Aceh. Acara ini bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi dan harapan mereka. Dengan sejarah panjang yang melatarbelakangi, setiap peringatan Hari Damai Aceh selalu membawa makna tersendiri bagi masyarakat di tanah rencong.
Para ulama dan tokoh masyarakat Aceh diharapkan dapat menjadi mediator untuk meredam ketegangan yang terjadi. Dialog konstruktif antara berbagai pihak menjadi kunci untuk menjaga stabilitas dan kedamaian di Aceh. Masyarakat berharap bahwa kejadian ini tidak akan menjadi titik balik yang negatif, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Kronologi Ricuh Hari Damai Aceh
Apa yang menyebabkan kericuhan di Masjid Baiturrahman? Kericuhan dipicu oleh pengibaran bendera Bulan Bintang oleh massa yang tidak dipatuhi imbauan panitia untuk menurunkan bendera tersebut.
Kapan waktu puncak ketegangan terjadi? Puncak ketegangan terjadi pada pukul 09.00 WIB ketika massa mulai mengibarkan bendera Bulan Bintang dan pada pukul 11.11 WIB ketika ada massa yang memanjat tiang bendera.
Bagaimana reaksi aparat keamanan terhadap kericutan? Aparat keamanan menggunakan gas air mata dan berusaha meninggalkan area masjid sesuai permintaan massa, meskipun beberapa petugas sempat tersangkut di pagar.
Apakah ada korban dalam peristiwa ini? Hingga berita ini diturunkan, kepolisian masih mendata jumlah korban dan kerugian materiil yang terjadi selama kericutan.
Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan situasi di Aceh, Anda dapat membaca artikel terkait di Suara.com Aceh.



