Boni Hargens Evaluasi Survei Litbang Kompas: Reformasi Polri Mencerminkan Penguatan Kepercayaan Publik
Key Strategy – Hasil survei terbaru yang dirilis oleh Litbang Kompas pada bulan April 2026 menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Angka kepercayaan tersebut mencapai 82,4 persen, mencerminkan respons positif publik terhadap upaya transformasi yang dilakukan institusi kepolisian. Survei ini menjadi bukti empiris yang menarik dalam mengukur keberhasilan reformasi kepolisian yang dijalankan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.
Kinerja Polri Dianggap Membaik Berkat Konsep Reformasi Presisi
Boni Hargens, seorang analis politik senior dengan reputasi sebagai ahli yang kritis namun berbasis data, menyambut hasil survei tersebut dengan optimisme. Menurutnya, kenaikan angka kepercayaan publik tidak hanya terjadi secara alami, tetapi juga merupakan hasil dari strategi yang disengaja dalam mewujudkan reformasi kepolisian. Konsep Presisi yang diperkenalkan Kapolri menjadi katalis utama, menurut Boni, dalam mengubah paradigma kerja Polri.
Angka 80,6 persen yang menunjukkan kinerja Polri meningkat menjadi indikator kuat bahwa reformasi internal telah membuat dampak nyata. Data ini tidak hanya mencerminkan perbaikan dalam hal efektivitas operasional, tetapi juga menunjukkan pergeseran budaya organisasi yang lebih transparan dan berorientasi pada pelayanan yang lebih baik. Boni menekankan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari kebijakan yang diambil oleh Kapolri dalam menghadirkan perubahan struktural dan kultural.
Kepercayaan Publik sebagai Fondasi Demokrasi dan Legitimasi Pemerintahan
Peningkatan kepercayaan publik kepada Polri dianggap Boni sebagai faktor kritis dalam mempertahankan stabilitas demokrasi dan memperkuat legitimasi pemerintahan saat ini. “Kenaikan kepercayaan masyarakat terhadap Polri adalah prasyarat utama bagi penguatan demokrasi dan keberhasilan pelaksanaan pemerintahan,” jelas Boni dalam pernyataannya kepada media di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).
“Kepercayaan publik yang meningkat terhadap Polri merupakan prasyarat bagi penguatan demokrasi dan keberhasilan pelaksanaan pemerintahan,” demikian Boni Hargens dalam rilisnya kepada media di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).
Boni juga menyoroti bahwa angka tersebut bukan sekadar refleksi kinerja institusi, tetapi juga menggambarkan perubahan kuantitatif dan kualitatif dalam peran Polri. Menurutnya, keberhasilan reformasi ini memperkuat posisi Polri sebagai aktor strategis dalam ekosistem pemerintahan. “Transformasi Polri tidak hanya tentang efisiensi operasional, tetapi juga tentang menjembatani kepercayaan masyarakat dan kekuasaan pemerintah,” tambahnya.
Dalam konteks pemerintahan Prabowo-Gibran, Boni menyatakan bahwa Polri berfungsi sebagai penopang yang vital. Institusi ini dianggap sebagai bagian dari sistem kekuasaan yang menjaga keseimbangan antara otoritas pemerintah dan partisipasi masyarakat. “Peningkatan kepercayaan publik kepada Polri adalah bukti bahwa masyarakat mulai melihat perubahan positif dalam cara institusi tersebut beroperasi,” kata Boni.
Reformasi Polri: Dari Kinerja Operasional ke Budaya Organisasi
Menurut Boni, keberhasilan reformasi yang dijalankan Kapolri Listyo Sigit Prabowo menunjukkan pergeseran yang signifikan. Dari sisi teknis, polri telah memperbaiki efisiensi tugas pokok dan fungsi, sementara dari sisi budaya, perubahan terjadi dalam cara anggota kepolisian berinteraksi dengan masyarakat. “Presisi bukan hanya sekadar strategi operasional, tetapi juga merupakan visi yang menyeluruh untuk mereformasi seluruh aspek kehidupan institusi,” jelas Boni.
Kapolri dinilai berhasil mengubah Polri dari institusi yang terkesan kaku menjadi lebih responsif. Perubahan ini terlihat dalam penyelenggaraan tugas yang lebih transparan, serta upaya untuk mendekatkan diri kepada masyarakat. Boni menekankan bahwa konsep Presisi yang diusung Kapolri mencakup dua dimensi utama: peningkatan kinerja dan penguatan citra sebagai institusi yang lebih humanis.
“Tanpa kepercayaan publik terhadap aparat keamanan, fondasi demokrasi yang sehat akan sulit terwujud secara konsisten dan berkelanjutan,” kata Boni.
Boni Hargens juga mengingatkan bahwa keberhasilan ini harus terus dipertahankan. “Peningkatan kepercayaan publik bukanlah akhir dari proses reformasi, tetapi merupakan titik awal untuk terus berbenah,” ujarnya. Menurutnya, angka kepercayaan yang tinggi dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengukur konsistensi dan keberlanjutan reformasi kepolisian.
Survei Litbang Kompas: Panduan Empiris untuk Analisis Reformasi
Survei Litbang Kompas yang dilakukan pada April 2026 menjadi acuan utama dalam mengukur dampak reformasi kepolisian. Data ini memberikan gambaran nyata bahwa perubahan yang diusung Kapolri telah diterima oleh masyarakat luas. Angka 80,6 persen yang menunjukkan sebagian besar warga negara menilai kinerja Polri meningkat menjadi bukti bahwa transformasi ini tidak hanya berjalan baik secara internal, tetapi juga memberikan manfaat secara eksternal.
Di tengah berbagai aksi protes yang menentang kebijakan pemerintah belakangan ini, Boni menekankan bahwa harmonisasi antara institusi keamanan dan masyarakat adalah kunci untuk menjaga stabilitas. “Keseimbangan antara otoritas negara dan partisipasi masyarakat sipil menjadi penting untuk memperkuat kepercayaan publik,” jelasnya. Peningkatan kepercayaan kepada Polri, menurut Boni, menjadi pertanda bahwa masyarakat mulai melihat kepolisian sebagai mitra yang dapat dipercaya dalam menjaga ketertiban dan keadilan.
Kapolri Listyo Sigit Prabowo, dalam kepemimpinannya, dinilai berhasil menciptakan lingkungan kerja yang lebih kolaboratif dan berbasis data. Upaya ini dianggap sebagai bentuk reformasi yang konkret, karena tidak hanya mengubah struktur organisasi, tetapi juga memperkuat kompetensi anggota kepolisian dalam menjalankan tugas. “Presisi sebagai konsep reformasi menggabungkan kecepatan, akurasi, dan keadilan, yang menjadi fondasi utama untuk meningkatkan kinerja Polri,” tambah Boni.
Boni juga mengungkapkan bahwa keberhasilan Polri dalam membangun kepercayaan publik memiliki dampak luas. “Peningkatan citra institusi tidak hanya meningkatkan kredibilitas kepolis



