Kebakaran TPA Jatiwaringin Baru Padam 45 Persen Meski Tiga Helikopter Dikerahkan

Share: X Facebook
57714-proses-pemadaman-api-di-tpa-jatiwaringin

Kebakaran TPA Jatiwaringin Baru Masuki Hari Ketujuh dengan Progres Pemadaman 45 Persen

Kebakaran TPA Jatiwaringin Baru Padam 45 Persen – Kebakaran yang menghancurkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang kini memasuki hari ketujuh, dengan progres pemadaman mencapai 45 persen dari total area terbakar yang mencakup 14 hektare. Meski upaya memadamkan api telah berjalan intensif, kebakaran masih menyebar di sejumlah titik di dalam tumpukan sampah. Tiga helikopter yang dikerahkan tidak cukup mengubah skenario pemadaman, karena tumpukan sampah yang membara mengeluarkan asap putih yang terus mengambang di udara. Pemerintah daerah dan pusat terus berupaya meningkatkan efisiensi penanganan darurat dengan memadukan operasi darat serta udara.

Persiapan dan Strategi Pemadaman

Sejumlah 300 personel gabungan dari berbagai institusi, termasuk BPBD Kabupaten Tangerang, BPBD Kota Tangerang, BNPB, TNI, Polri, dan relawan, tengah bekerja keras mengendalikan api. Mereka ditemani alat berat dan peralatan modern untuk mempercepat proses pemadaman. Selain itu, operasi juga didukung 19 unit mobil pemadam, empat mobil tangki air, delapan ekskavator, delapan bulldozer, tiga helikopter water bombing, dan dua drone untuk memantau area secara real-time. Perkembangan ini menunjukkan koordinasi yang intensif antara lembaga pemerintah dan tim darat.

“Penanganan darurat kebakaran lahan Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten memasuki hari ke tujuh pada Senin (6/7). Progres pemadaman mengalami kemajuan yang signifikan mencapai 45 persen dari total lahan terbakar seluas 14 hektare,” kata Abdul Muhari di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Untuk mengatasi perluasan api di area TPA, petugas pemadam diperintahkan memperpanjang waktu operasi hingga malam hari. Metode penyemprotan air secara terus-menerus digunakan bersamaan dengan injeksi air ke dalam tumpukan sampah, yang membantu meredam api dari dalam. Pemadaman juga dilakukan dengan teknik penggunaan alat berat untuk mengurai timbunan sampah, sehingga api lebih mudah dijangkau. Selama operasi, tiga helikopter terus melakukan water bombing dari udara untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses oleh tim darat.

Kondisi di Lapangan dan Tantangan

Meski progres mencapai 45 persen, kepulan asap putih masih terlihat dari sejumlah titik api yang aktif. Tim pemadam terus melakukan penyemprotan secara rutin sementara alat berat mengolah area terbakar. Kondisi ini menunjukkan bahwa api masih mengancam sebagian besar area TPA. “API tidak hanya berada di permukaan, tapi menyala di bagian dalam tumpukan sampah,” jelas Djohan Darmawan, Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB. “Ini membutuhkan strategi khusus karena karakteristik kebakaran mirip dengan lahan gambut yang mempercepat penyebaran api.”

“Upaya pemadaman kebakaran lahan TPA ini membutuhkan penanganan khusus karena jenis lahan menyerupai lahan gambut di mana api tidak berada di permukaan namun membara di dalam tumpukan sampah. Upaya pemadaman dilakukan dengan berbagai metode. Satgas darat melakukan penyemprotan untuk api di permukaan juga injeksi untuk api di bawah permukaan. Satgas udara water bombing menjangkau dari atas,” ujarnya.

Kebakaran di TPA Jatiwaringin berpotensi memperparah kondisi lingkungan sekitar, terutama karena dampak asap yang mengganggu kualitas udara. Selain itu, penyebaran api di area yang terbuka bisa memicu kebakaran di lahan sekitarnya. Karena itu, operasi pemadaman tetap diperkuat hingga keadaan stabil. Pemerintah setempat juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan keberlanjutan pengelolaan sampah dan menghindari pembakaran di area permukiman.

Langkah Mitigasi dan Harapan untuk Penanganan

BNPB menilai kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi pelajaran penting bagi daerah lain. “Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi contoh bahwa kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 sangat penting,” tambah Abdul Muhari. Kebakaran ini menunjukkan bahwa kejadian serupa bisa terjadi kapan saja, terutama jika tidak ada langkah pencegahan yang tepat. Salah satu upaya mitigasi yang direkomendasikan adalah melakukan pembasahan lahan di area TPA sebelum musim kemarau tiba, serta memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya pembakaran sampah.

Untuk mempercepat penanganan, operasi darat diperpanjang hingga pukul 22.00 WIB. Tim Damkar dan Manggala Agni terus melakukan sistem injeksi dengan mesin untuk memasukkan air ke dalam tumpukan sampah. Metode ini bertujuan mengurangi risiko penyebaran api dan memastikan area terbakar segera dingin. Djohan Darmawan menegaskan bahwa metode pemadaman yang digunakan merupakan kombinasi antara teknik tradisional dan inovatif, dengan peran penting dari peralatan berat dan helikopter.

Kebakaran TPA Jatiwaringin juga mengingatkan tentang pentingnya pengelolaan lingkungan dan mitigasi bencana. Meski progres pemadaman sudah mencapai 45 persen, upaya ini masih jauh dari tuntas. Pemerintah daerah terus berkomitmen untuk mengoptimalkan respons darurat, termasuk memperkuat koordinasi dengan pihak terkait. Harapan besar diusung agar kebakaran dapat teratasi sepenuhnya sebelum akhir pekan, sehingga dampak lingkungan dan ekonomi bisa diminimalkan.

Kesempatan Emas! Beasiswa Pesisir Nusantara 2026 Jaring Calon Pemimpin Muda Berkarakter

Dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan, BNPB menekankan pentingnya penerapan metode pemadaman yang adaptif. “Dengan perpanjangan waktu operasi ini diharapkan upaya pemadaman berjalan secara optimal,” tutur Abdul Muhari. Pihaknya menilai kesadaran masyarakat dan peran aktif pemerintah lokal sangat krusial dalam mengendalikan bencana serupa. Selain itu, kejadian ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan terhadap risiko kebakaran di wilayah rawan.

Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi peringatan bahwa bencana alam bisa terjadi di mana saja, bahkan di area yang seharusnya aman. Dengan bantuan alat berat dan helikopter, kejadian ini dapat dikendalikan secara lebih efektif. Namun, tumpukan sampah yang padat dan kurangnya sistem pengendalian tetap menjadi tantangan utama. Pemerintah setempat menargetkan paling lambat hari ini, Selasa (7/7), progres pemadaman mencapai 60 persen, sebagai tanda penurunan risiko signifikan.

Kebakaran yang terjadi juga mengingatkan masyarakat akan pentingnya mengelola sampah dengan baik. Pembakaran sampah rumah tangga di sekitar permukiman bisa memicu kembang api yang mengancam lingkungan. Dengan ber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *