Jalur Sepeda Jakarta Mau Dihapus: Evaluasi atau Penghapusan?
Pondokkebaikan.com – Wacana Jalur Sepeda Jakarta Mau Dihapus kembali menghangat setelah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan kesiapan melakukan evaluasi menyeluruh. Langkah ini diambil menyusul berbagai masukan dari masyarakat yang memiliki pandangan berbeda mengenai keberadaan fasilitas tersebut di jalan-jalan protokol ibu kota.
Usulan penghapusan jalur sepeda sebelumnya muncul dari sejumlah pihak yang menilai kondisi jalur sepi selama hari kerja. Kekhawatiran lain adalah keberadaan jalur sepeda justru memperparah kemacetan di ruas-ruas jalan utama Jakarta. Namun, apakah hal tersebut benar-benar terjadi?
Kesiapan Pemprov DKI Melakukan Evaluasi
Pramono Anung menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan membahas secara khusus mengenai nasib jalur sepeda dalam waktu dekat. Pembahasan ini bertujuan untuk menentukan arah kebijakan yang paling tepat. Apakah fasilitas tersebut dipertahankan, diubah, atau bahkan dihapus sama sekali.
Saya mendapatkan banyak masukan tentang hal itu, ujar Pramono saat ditemui di Balai Kota Jakarta pada Selasa (11/8/2026).
Gubernur yang juga merupakan seorang pesepeda ini mengaku perlu mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum mengambil keputusan final. Pendekatan yang komprehensif diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan publik secara keseluruhan.
Akar Wacana dari Media Sosial
Wacana penghapusan jalur sepeda bermula dari diskusi di platform media sosial Threads. Seorang pengguna internet mengusulkan penghapusan jalur sepeda karena merasa fasilitas tersebut jarang dimanfaatkan pada hari kerja. Menurutnya, aktivitas bersepeda lebih banyak terjadi saat Car Free Day atau CFD.
Usulan ini juga menyiratkan bahwa penghapusan jalur sepeda dapat memperlebar badan jalan. Dengan demikian, kapasitas jalan akan meningkat dan kemacetan pada hari kerja dapat berkurang. Ide ini kemudian menarik perhatian Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Prastowo Yustinus.
Statistik Infrastruktur Jalur Sepeda Jakarta
Jalur sepeda di Jakarta bukanlah fasilitas yang kecil atau baru dibangun. Dinas Perhubungan DKI Jakarta mencatat bahwa total jaringan jalur sepeda yang telah terbangun mencapai 313,6 kilometer. Angka ini bahkan melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) periode 2017 hingga 2022, yaitu 252,1 kilometer.
Namun, tantangan utamanya terletak pada kualitas perlindungan fisik. Dari total 313,6 kilometer, hanya sekitar 32,3 kilometer yang merupakan jalur terproteksi. Jalur terproteksi ini dilengkapi dengan planter box, stick cone plastik, maupun kanstin sebagai pembatas.
Sisanya berupa jalur di trotoar dan jalur berbagi atau mix traffic yang masih memungkinkan dilintasi kendaraan bermotor. Jaringan ini tersebar di 17 koridor jalan utama Jakarta dengan berbagai jenis marka, mulai dari garis putih solid, marka hijau, hingga garis putus-putus untuk area mix traffic.
Sejarah dan Tantangan Pemeliharaan
Pembangunan jalur sepeda di Jakarta dimulai sejak tahun 2019 pada masa pemerintahan Gubernur Anies Baswedan. Pada saat itu, pengembangan jaringan bahkan ditargetkan mencapai 609,4 kilometer pada tahun 2030. Namun, pembangunan jalur baru kemudian dihentikan sejak tahun 2023.
Persoalan pemeliharaan juga menjadi sorotan utama komunitas pesepeda. Pemangkasan anggaran menjadi salah satu isu yang sering dikemukakan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan fasilitas yang telah ada.
Apakah Jalur Sepeda Penyebab Kemacetan?
Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio termasuk pihak yang skeptis terhadap keberadaan jalur sepeda di jalan protokol. Menurutnya, jalur tersebut belum banyak digunakan untuk mobilitas sehari-hari. Penggunaannya lebih dominan untuk olahraga dan rekreasi.
Orang Indonesia pakai jalur sepeda bukan untuk transportasi tapi untuk olahraga, jelas Agus kepada suara.com.
Menurut Agus, keberadaan jalur sepeda di ruas jalan protokol justru berpotensi mengurangi kapasitas jalan tanpa memberikan kontribusi signifikan terhadap pengurangan kendaraan bermotor. Namun, kemacetan Jakarta tidak sesederhana itu.
Pengamat tata kota Yayat Supriatna melihat persoalan kemacetan berkaitan erat dengan struktur ruang Jakarta dan wilayah aglomerasi. Konsentrasi pusat perkantoran, perdagangan, dan jasa di Jakarta membuat pergerakan warga menumpuk menuju pusat kota.
Ketika semua rencana tata ruang kita menempatkan posisi perkantoran, perdagangan jasa ada di pusat kota, maka yang terjadi adalah pola pergerakan itu mengarah konsentrik dia, memadat ke tengah, terangnya.
Artinya, menghapus jalur sepeda belum tentu otomatis mengurai persoalan kemacetan jika sumber utama kepadatan kendaraan masih berada di pusat kota.
FAQ: Pertanyaan Umum Tentang Jalur Sepeda Jakarta
Berapa total panjang jalur sepeda di Jakarta? Total jaringan jalur sepeda di Jakarta mencapai 313,6 kilometer, melampaui target RPJMD 2017-2022 sebesar 252,1 kilometer.
Berapa persen jalur sepeda yang terproteksi? Dari 313,6 kilometer total, hanya sekitar 32,3 kilometer yang merupakan jalur terproteksi dengan planter box, stick cone, atau kanstin.
Apakah jalur sepeda akan dihapus? Gubernur Pramono Anung menyatakan kesiapan melakukan evaluasi menyeluruh. Keputusan akhir masih dalam tahap pembahasan dan belum ada kepastian penghapusan.
Mengapa wacana penghapusan muncul? Wacana ini bermula dari media sosial Threads dengan alasan jalur sepi pada hari kerja dan dianggap memperparah kemacetan.
Kapan pembangunan jalur sepeda dimulai? Pembangunan jalur sepeda di Jakarta dimulai sejak tahun 2019 pada masa pemerintahan Gubernur Anies Baswedan dengan target 609,4 kilometer pada 2030.



