Flyover Latumenten Capai 55,2 Persen, Ditargetkan Pangkas Kemacetan hingga 40 Persen

Share: X Facebook
36970-pramono-targetkan-flyover-latumenten-rampung-desember-2026

Flyover Latumenten Capai 55,2 Persen, Ditargetkan Pangkas Kemacetan hingga 40 Persen

Pondokkebaikan.com – Pada Kamis, 2 Juli 2026, Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melakukan inspeksi langsung terhadap progres pembangunan Flyover Latumenten. Proyek infrastruktur yang dianggarkan sebesar Rp259 miliar ini, menurut pihak terkait, bertujuan mengatasi kesulitan lalu lintas di wilayah Jakarta Barat. Sebagai bagian dari upaya mempercepat aliran kendaraan, proyek tersebut direncanakan selesai pada akhir tahun 2026.

Integrasi Transportasi Umum untuk Keberlanjutan Akses

Flyover Latumenten, yang sedang dalam tahap pembangunan, akan dilengkapi fasilitas penghubung antar moda transportasi umum. Hal ini bertujuan memudahkan akses bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk pejalan kaki serta penyandang disabilitas. Fasilitas seperti skywalk berlift dan JPO (jalan pejalan kaki) yang ramah disabilitas akan menjadi elemen kunci dalam merancang ruang publik yang lebih inklusif.

Hardiyanto Kenneth, yang dikenal dengan nama akrab Bang Kent, menjelaskan bahwa konsep flyover ini muncul dari aspirasi warga sekitar. Selama masa reses, masyarakat di daerah Latumenten mengeluhkan ketidaknyamanan akibat perlintasan kereta api yang sering menyebabkan penghambatan lalu lintas. “Pada 2024, saya melakukan kunjungan kerja ke sini saat masa reses. Warga mengusulkan pembangunan flyover untuk mengurai kemacetan di daerah mereka,” katanya.

Progres Membawa Harapan untuk Pemangku Kepentingan

Saat ini, progres konstruksi Flyover Latumenten telah mencapai 55,2 persen, menurut informasi yang diberikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Angka ini menunjukkan bahwa proyek tersebut sedang berjalan sesuai jadwal, dengan target rampung pada 15 Desember 2026. “Kami berharap proyek ini dapat selesai tepat waktu, sehingga masyarakat bisa merasakan manfaatnya dalam waktu dekat,” tambah Pramono.

Kenneth mengungkapkan bahwa proses membangun flyover ini melibatkan beberapa tahapan. Awalnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengalami keterbatasan anggaran, sehingga ia meminta dilakukan kajian menyeluruh terlebih dahulu. “Setelah kajian rampung, proyek masuk ke proses lelang. Dengan demikian, saat ini kita bisa melihat hasil yang mulai terlihat,” jelas politisi yang juga Ketua IKAL PPRA LXII Lemhannas RI.

Manfaat Jangka Panjang untuk Masyarakat

Dalam pernyataannya, Kenneth menekankan bahwa integrasi transportasi umum dalam flyover ini bukan hanya solusi untuk mengurangi kemacetan, tetapi juga memberikan dampak sosial yang signifikan. “Lift di JPO akan memudahkan akses ke halte Transjakarta tanpa harus menaiki tangga. Ini juga membantu masyarakat yang membawa barang berat, ibu hamil, dan lansia,” ujarnya.

Menurut Kenneth, fasilitas tersebut akan meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan yang sering berpindah dari satu moda transportasi ke moda lain. “Dengan adanya skywalk yang terhubung langsung ke stasiun KRL dan halte Transjakarta, masyarakat tidak perlu lagi menyeberang di tengah kepadatan lalu lintas. Ini mempercepat alur transportasi secara keseluruhan,” tambahnya.

Kemacetan Sebagai Tantangan Pemenuhan Kebutuhan Publik

Pembangunan Flyover Latumenten dianggap sebagai langkah penting untuk mengatasi masalah kemacetan yang telah menghambat mobilitas warga Jakarta selama puluhan tahun. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menekankan bahwa proyek ini bukan sekadar infrastruktur fisik, tetapi juga respons terhadap kebutuhan masyarakat. “Ini penantian warga puluhan tahun. Alhamdulillah, akhirnya terealisasikan,” ucapnya.

Dalam perjalanan proyek ini, peran DPRD DKI Jakarta sangat krusial. Menurut Pradana Putra, Wakil Camat Grogol Petamburan, keberhasilan pembangunan flyover tergantung pada kolaborasi antara pemerintah daerah dan legislatif. “Dukungan dari Pak Dewan dan Pak Gubernur menjadi penentu utama agar proyek ini bisa terealisasikan tepat waktu,” katanya.

Proyek ini diharapkan mampu mengurangi volume kendaraan yang terjebak di perlintasan kereta api, yang sebelumnya menjadi titik kumpul kemacetan. Dengan desain yang lebih terpadu, flyover Latumenten bisa menjadi contoh sukses pembangunan infrastruktur yang menggabungkan solusi teknis dan kemanusiaan. “Saya yakin, flyover ini akan memberikan dampak positif yang nyata bagi warga sekitar,” tutur Kenneth.

Kemacetan dan Aspirasi Masyarakat sebagai Katalis Perubahan

Kemacetan di Jakarta tidak hanya mengganggu kecepatan perjalanan, tetapi juga memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup warga. Dalam konteks ini, Flyover Latumenten dianggap sebagai bagian dari upaya menyeluruh untuk memperbaiki sistem transportasi kota. “Kehadiran fasilitas seperti skywalk dan JPO akan memberikan rasa nyaman bagi pengguna jalan, terutama saat berpindah dari kereta ke bus atau sebaliknya,” jelas Kenneth.

Sementara itu, Pramono Anung menegaskan bahwa progres proyek ini harus diawasi secara ketat agar tidak ada penyimpangan. “Kami memastikan setiap tahapan konstruksi dilakukan dengan baik dan tepat waktu. Ini adalah proyek yang sangat penting untuk masyarakat,” ucapnya.

Dengan diperkirakan selesai pada Desember 2026, Flyover Latumenten diharapkan menjadi solusi sementara sebelum ada pembangunan infrastruktur lainnya. Proyek ini juga menjadi pembelajaran bagi pemerintah dalam merancang pembangunan yang lebih responsif terhadap aspirasi warga. “Kami berharap, proyek ini bisa menjadi titik awal dari perbaikan transportasi yang lebih berkelanjutan,” tutur Pramono.

Keberhasilan Proyek sebagai Simbol Kemitraan

Konstruksi Flyover Latumenten menunjukkan bagaimana kemitraan antara pemerintah daerah dan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *