Cerita di Balik Halte Setiabudi Integritas: Ide Ketua KPK saat Naik Bus dari Ragunan

Share: X Facebook
56349-halte-setiabudi-integritas

Cerita di Balik Halte Setiabudi Integritas: Ide Ketua KPK saat Naik Bus dari Ragunan

Cerita di Balik Halte Setiabudi Integritas – Di tengah upaya pemerintah DKI Jakarta dalam meningkatkan kesadaran anti-korupsi di masyarakat, sebuah inisiatif menarik diluncurkan. Pada 21 Juni 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara resmi mengubah nama Halte TransJakarta Setiabudi menjadi Halte Setiabudi Integritas. Perubahan ini bukan sekadar penyesuaian label, tetapi merupakan langkah strategis untuk menciptakan identitas yang mengakar dan memperkuat pesan tentang transparansi serta integritas dalam kehidupan sehari-hari.

Simbol Kolaborasi dan Pengaruh Masyarakat

Peresmian nama baru tersebut merupakan hasil kerja sama antara KPK dan pihak pemerintah setempat. Tujuan utamanya adalah menghadirkan ruang publik yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat transit, tetapi juga menjadi perisai bagi nilai-nilai anti-korupsi. Dengan menggabungkan identitas instansi pemerintah dan komitmen KPK, halte ini diharapkan menjadi pengingat terus-menerus bagi masyarakat akan pentingnya disiplin dan kejujuran dalam berbagai aspek kehidupan.

Menurut Ketua KPK, Setyo Budiyanto, gagasan ini lahir dari pengalaman pribadinya menggunakan transportasi umum. Ia menyebutkan bahwa ide untuk menamai halte dengan kata “Integritas” muncul saat berjalan-jalan dari Ragunan ke kawasan Setiabudi. “Saya perhatikan, sebagian besar nama-nama tempat di Jakarta tidak mencerminkan nilai-nilai yang ingin disampaikan,” kata Setyo. Ia berkeyakinan bahwa nama sebuah tempat memiliki daya tarik yang kuat, bahkan bisa menjadi pengaruh nyata terhadap cara berpikir masyarakat.

“Kenapa kok Halte Setiabudi itu tidak diberikan nama, sebuah nama yang bisa menampilkan atau identitas ya. Identitas, baik dari provinsi maupun dari KPK,” tutur Setyo.

Usulan penamaan ini langsung ditindaklanjuti oleh kedua pihak. Setyo mengatakan bahwa ia meminta jajarannya di KPK untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar bisa merealisasikan gagasan tersebut. Prosesnya cukup cepat, bahkan Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta, disebut merespons positif. Akhirnya, nama “Integritas” resmi disematkan, menunjukkan keberhasilan kolaborasi antara lembaga anti-korupsi dan pemerintah daerah.

Perubahan Nama sebagai Memori Kolektif

KPK menggagas penamaan ini sebagai simbol memori kolektif. Setyo berharap bahwa dengan adanya nama yang memiliki makna, masyarakat akan lebih mudah mengingat dan menghargai nilai-nilai yang ingin diwujudkan. “Saya yakin, ini bukan sekadar nama. Halte ini juga bukan sekadar untuk naik turunnya penumpang gitu, bukan sekadar dilewati,” kata Setyo. Ia menekankan bahwa keberadaan nama yang tepat bisa mengubah persepsi tentang sebuah tempat dan membuatnya menjadi bagian dari narasi sosial yang lebih luas.

Dalam wawancara, Setyo menjelaskan bahwa nama adalah alat komunikasi yang efektif. “Kita nggak bisa bilang apalah arti sebuah nama, tapi nama mengandung makna yang sangat luar biasa,” pungkasnya. Ia menilai bahwa dengan memasukkan kata “Integritas” dalam nama halte, masyarakat akan lebih mudah mengaitkan tempat tersebut dengan konsep kejujuran dan transparansi.

Kebiasaan Setyo menggunakan transportasi umum juga menjadi pelajaran tentang keterbukaan. Ia menyebutkan bahwa nama-nama tempat umum seringkali diabaikan, padahal bisa menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai sosial. “Saya pikir, jika nama halte ini bisa mencerminkan harapan kita, maka masyarakat akan lebih tertarik mengingatnya,” katanya.

Rayakan 5 Abad Jakarta dengan Ondel-Ondel Karya Desainer Terbaik

Di samping perubahan nama halte, acara peresmian tersebut juga diisi dengan kegiatan lain yang mencerminkan semangat kota Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memperkenalkan 500 ondel-ondel karya desainer terkemuka sebagai bagian dari perayaan 5 abad Jakarta. Inisiatif ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menggabungkan kearifan lokal dengan identitas modern, seperti halte yang dinamai “Integritas.”

Setyo mengapresiasi langkah pemerintah DKI dalam menghadirkan inovasi sekaligus menjaga tradisi. Ia menilai bahwa perubahan nama halte dan pameran ondel-ondel merupakan dua sisi dari upaya membangun kesadaran anti-korupsi. “Kedua hal ini saling melengkapi. Nama halte mengingatkan masyarakat tentang integritas, sedangkan ondel-ondel menghadirkan kehangatan budaya,” kata Setyo.

Peresmian halte Setiabudi Integritas diadakan secara serentak dengan pembukaan kembali Jalan HR Rasuna Said yang telah direnovasi. Lokasi halte ini berada di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, yang merupakan pusat kota yang dinamis. Dengan menjadi simbol baru, halte ini diharapkan bisa menjadi referensi untuk masyarakat dalam menjalani kehidupan yang lebih berintegritas.

KPK juga menyiapkan program lanjutan untuk memperkuat dampak dari penamaan tersebut. Ia mengatakan bahwa nama halte akan diiringi dengan berbagai inisiatif edukasi, seperti pelatihan kejujuran bagi pelajar atau promosi kampanye anti-korupsi melalui media sosial. “Nama ini adalah awal dari sebuah perubahan. Kita perlu mengubah cara berpikir, bukan hanya nama tempat,” tegas Setyo.

Selain Halte Setiabudi Integritas, satu halte lainnya di Jakarta juga diberi nama dengan nuansa antikorupsi. Meski belum diungkapkan nama yang secara spesifik diberikan, Setyo menilai bahwa hal ini menunjukkan keberlanjutan dari inisiatif yang diambil. Ia berharap, dengan menamai lebih dari satu halte, masyarakat akan lebih mudah mengingat pesan yang ingin disampaikan.

Perubahan nama halte ini menunjukkan bahwa KPK tidak hanya fokus pada pemberantasan korupsi di tingkat pemerintahan, tetapi juga berusaha menyentuh masyarakat luas. Setyo mengatakan bahwa lembaga anti-korupsi perlu memanfaatkan segala kesempatan untuk memberikan pesan yang lebih humanis. “Masyarakat lebih terbuka jika pesan anti-korupsi disampaikan melalui ruang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

KPK dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sepakat bahwa halte ini menjadi titik awal perubahan sosial. Dengan nama yang bermakna, tempat tersebut bisa menjadi pengingat bagi setiap orang yang melintas. Setyo berharap, tindakan ini akan membangun kesadaran kolektif dan menginspirasi lebih banyak inisiatif serupa di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *