1 Warga Tewas Akibat Gempa M6,7 di Sulawesi Tengah – 312 Jiwa Terdampak

Share: X Facebook
98878-dampak-gempa-bumi-di-palu

Gempa M6,7 di Sulawesi Tengah Berdampak Serius, 312 Jiwa Terdampak

1 Warga Tewas Akibat Gempa M6 7 – Selasa lalu, wilayah Sulawesi Tengah mengalami guncangan gempa bumi dengan skala magnitudo 6,7. Gempa ini berpusat di darat, tepatnya di Kabupaten Sigi, dan menimbulkan kerusakan signifikan di beberapa daerah. Laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan satu korban meninggal dunia dan ratusan warga terdampak akibat guncangan gempa yang terjadi. Aktivitas gempa susulan yang terus berlangsung memperparah situasi, mengharuskan pihak terkait untuk terus memantau dampaknya.

BNPB: Satu Warga Meninggal, 312 Orang Terdampak

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa gempa bumi berkekuatan M6,7 telah menyebabkan satu warga tewas dan 312 jiwa terkena dampak. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa korban jiwa ditemukan di Kabupaten Sigi. “Berdasarkan laporan yang dihimpun hingga pukul 19.00 WIB, satu warga dilaporkan meninggal dunia di Kabupaten Sigi,” katanya di Jakarta, Selasa.

Dalam laporan lebih lanjut, BNPB menegaskan bahwa selain kerusakan pada bangunan, gempa juga mengganggu fasilitas umum dan infrastruktur kritis. Total kerusakan mencakup puluhan rumah warga, beberapa fasilitas ibadah, kantor pemerintah, serta jembatan. Tercatat pula peningkatan jumlah warga yang terdampak, dengan 110 kepala keluarga (KK) mengalami gangguan akibat bencana alam ini.

Wilayah Terdampak dan Lokasi Episenter

Menurut data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa berpusat di darat dengan koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan (LS) dan 120,24 derajat Bujur Timur (BT), serta kedalaman 10 kilometer. Episenter gempa berada sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, 54 kilometer timur laut Kabupaten Sigi, 70 kilometer barat laut Kabupaten Poso, dan 81 kilometer tenggara Kabupaten Donggala.

Kabupaten Sigi menjadi wilayah paling terparah, dengan 272 jiwa atau 89 KK terkena dampak. Dalam daerah ini, 22 warga mengalami luka ringan dan 13 warga luka berat. Sementara Kabupaten Parigi Moutong mencatat 40 jiwa atau 21 KK terdampak, sedangkan Kota Palu melaporkan dua warga luka ringan dan satu warga luka. Kabupaten Poso juga tercatat lima rumah terdampak, termasuk tiga rumah rusak ringan.

Kerusakan Infrastruktur dan Bangunan

BNPB mendata bahwa sedikitnya 67 rumah mengalami kerusakan akibat gempa. Dari jumlah tersebut, 26 rumah mengalami kerusakan ringan, enam rusak sedang, dan 12 rusak berat. Di Kabupaten Sigi, kerusakan terbanyak terjadi pada 47 rumah, yang terdiri dari 23 rusak ringan, enam rusak sedang, dan 12 rusak berat. Selain rumah warga, enam fasilitas ibadah, dua gedung perkantoran, satu jembatan, dan satu unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga mengalami kerusakan.

Kerusakan infrastruktur di Kota Palu terjadi pada Jembatan III, yang mengalami retakan signifikan. Selain itu, satu fasilitas umum, satu hotel, dan satu tempat usaha turut terdampak. Wilayah Poso mencatat lima rumah terkena guncangan, sementara Parigi Moutong melaporkan 15 rumah terganggu. Dampak dari gempa terhadap masyarakat mencakup kebutuhan dasar, seperti air bersih dan listrik, yang tidak tersedia di beberapa titik.

Aftershocks Terus Berlangsung, BMKG Peringatkan Kewaspadaan

BMKG mencatat aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung. Hingga pukul 14.00 WIB, telah terjadi 55 gempa susulan di sekitar lokasi gempa utama. Kepala Pusat Gempa BMKG, Rully Wijayanto, mengatakan bahwa gempa susulan bisa memicu kerusakan tambahan, terutama pada bangunan yang sudah terguncang. “Aktivitas gempa susulan tidak akan berhenti segera, sehingga warga harus tetap waspada,” tambahnya.

Kerusakan yang terjadi di Sulawesi Tengah tidak hanya memengaruhi struktur fisik, tetapi juga berdampak pada kehidupan sehari-hari warga. Sementara layanan darurat sedang berupaya untuk menjangkau area terpencil, infrastruktur yang rusak memperlambat proses evakuasi dan distribusi bantuan. BNPB berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan evakuasi korban, serta mengevaluasi kebutuhan bantuan tambahan.

Perkembangan dan Penanganan Darurat

Dalam beberapa jam setelah gempa, pihak berwenang mulai melakukan pengecekan terhadap kondisi rumah warga dan fasilitas publik. Tim medis serta sukarelawan terus bergerak untuk menyelamatkan korban dan memberikan pertolongan pertama. Pemerintah daerah mengimbau warga untuk tetap tenang dan menghindari area rawan, seperti jembatan atau bangunan yang retak.

BNPB juga mengungkapkan bahwa warga yang terdampak mengalami kepanikan, terutama di daerah dengan populasi padat seperti Kota Palu. Banyak warga memilih untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti lapangan terbuka atau rumah tetangga. Dalam beberapa jam, jumlah warga yang mengungsi mencapai ratusan, dengan laporan sementara menyebutkan 312 jiwa terdampak dan kebutuhan bantuan yang semakin mendesak.

Berdasarkan laporan BMKG, gempa susulan masih berlangsung, menciptakan ketidakpastian untuk masyarakat. Para ahli mengingatkan bahwa gelombang gempa berikutnya bisa mengakibatkan kerusakan lebih lanjut, terutama di area yang belum pulih. Dengan demikian, pihak berwenang terus memantau situasi dan mempersiapkan rencana evakuasi tambahan jika diperlukan.

Kerusakan yang Menyebabkan Ketidaknyamanan

Di samping kerusakan fisik, gempa juga menyebabkan gangguan pada sistem transportasi dan komunikasi. Jalan-jalan utama di beberapa wilayah terputus akibat retakan tanah, menyulitkan akses ke lokasi terdampak. Selain itu, beberapa jaringan komunikasi terganggu, menghambat upaya koordinasi antar tim penyelamat.

BNPB mengatakan bahwa area terdampak terus diperiksa untuk memastikan tidak ada korban tambahan. Tim peneliti mengumpulkan informasi dari warga setempat dan melaporkan keadaan terkini. Beberapa rumah warga mengalami kerusakan parah, bahkan mengancam keselamatan penghuninya. Dalam beberapa kasus, warga yang terluka memerlukan operasi darurat untuk evakuasi.

Sementara itu, BMKG mencatat bahwa gempa susulan bisa terjadi hingga satu atau dua hari ke depan. Pemantauan terus dilakukan untuk mengidentifikasi potensi gempa lebih besar yang mungkin mengikuti. Para ahli menyarankan warga untuk memperkuat tempat tinggal dan tetap memperhatikan peringatan gempa dari instansi terkait.

Langkah Pemul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *