1 dari 7 Anak Indonesia Punya Kadar Timbal Tinggi, Cat Rumah Mengelupas Jadi Salah Satu Pemicu

24637-menko-pmk-pratikno

1 dari 7 Anak Indonesia Terpapar Timbal

Pondokkebaikan.com – Surveilans Kadar Timbal dalam Darah (SKTD) BRIN tahun 2025 mencatat bahwa 1 dari 7 Anak Indonesia memiliki kadar timbal darah minimal 5 mikrogram per desiliter (µg/dL). Temuan ini menunjukkan paparan timbal masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu diperhatikan di lingkungan sehari-hari.

Anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap paparan timbal. Zat ini dapat berkaitan dengan tumbuh kembang, kemampuan belajar, perilaku, serta perkembangan neurologis dan kognitif.

Cat Rumah Mengelupas Menjadi Faktor Risiko

Kondisi rumah dapat memengaruhi risiko paparan. Berdasarkan SKTD BRIN 2025, anak yang tinggal di rumah dengan cat dinding mengelupas memiliki risiko 61 persen lebih tinggi untuk mempunyai kadar timbal darah setidaknya 5 µg/dL.

Serpihan dan debu dari cat yang rusak berpotensi berada di area yang mudah dijangkau anak, terutama ruang bermain, kamar tidur, atau bagian rumah yang sering digunakan keluarga. Karena itu, kondisi dinding dan kebersihan rumah perlu mendapat perhatian.

Keluarga dapat membersihkan debu secara rutin, membatasi akses anak ke area cat yang mengelupas, serta memperbaiki bagian rumah yang rusak. Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi potensi paparan di lingkungan tempat tinggal.

Sumber Paparan Timbal Tidak Hanya di Dalam Rumah

Risiko timbal tidak terbatas pada cat rumah. Paparan juga dapat ditemukan di kawasan permukiman, tempat kerja, maupun sejumlah produk yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sumber yang beragam membuat pencegahan perlu dilakukan bersama oleh keluarga, masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah.

Persoalan ini sering tidak terlihat secara langsung. Karena itu, informasi yang jelas mengenai sumber risiko dan langkah pencegahan penting agar warga dapat lebih waspada terhadap kondisi di sekitar mereka.

Pemerintah tengah menyiapkan Rencana Aksi Nasional Indonesia Bebas Timbal melalui rancangan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Pembahasan rancangan tersebut dilakukan dalam pertemuan internal Kemenko PMK.

“Jangan hanya regulasi. Masyarakat harus paham apa bahayanya, dari mana sumber paparannya, dan apa yang bisa dilakukan untuk menguranginya. Kalau masyarakat tidak tahu, perubahan perilaku tidak akan terjadi. Karena itu edukasi harus menjadi bagian dari gerakan kita,” ujar Menko PMK Pratikno.

Dampak Timbal bagi Anak dan Kehamilan

Temuan bahwa 1 dari 7 Anak Indonesia memiliki kadar timbal tinggi menjadi pengingat bahwa perlindungan perlu dimulai sejak dini. Pada anak, paparan timbal dapat berdampak pada kemampuan belajar, fungsi otak, perilaku, dan pertumbuhan.

Perhatian juga dibutuhkan selama kehamilan. Paparan timbal dapat berkaitan dengan gangguan pertumbuhan janin, berat lahir rendah, hipertensi atau preeklamsia, persalinan prematur, serta keguguran spontan.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK Sukadiono menyampaikan bahwa dampak paparan timbal dapat berlangsung dalam jangka panjang dan berhubungan dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

“Ketika kita berbicara tentang timbal, sebenarnya kita sedang berbicara tentang kualitas generasi yang akan datang. Dampaknya bukan hanya pada kesehatan hari ini, tetapi dapat berpengaruh terhadap kemampuan belajar, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang,” ujar Sukadiono.

Beban Kesehatan Akibat Paparan Timbal

Menurut kajian WHO pada 2021, paparan timbal berkontribusi terhadap lebih dari 1,5 juta kematian secara global, terutama melalui kaitannya dengan penyakit kardiovaskular dan beban kesehatan jangka panjang.

Di Indonesia, kajian World Bank tahun 2025 memperkirakan paparan timbal memicu puluhan ribu kematian setiap tahun. Kondisi tersebut memperkuat pentingnya edukasi publik dan kerja sama lintas sektor untuk mengurangi risiko yang dapat dicegah.

FAQ Paparan Timbal pada Anak

Apa arti 1 dari 7 Anak Indonesia memiliki kadar timbal tinggi?

Angka tersebut merujuk pada hasil SKTD BRIN 2025 yang menemukan sekitar 15 persen anak di Indonesia memiliki kadar timbal darah minimal 5 µg/dL.

Apa yang dapat dilakukan jika ada cat rumah mengelupas?

Jauhkan anak dari area tersebut, bersihkan debu secara rutin, dan lakukan perbaikan pada cat yang rusak agar serpihan tidak mudah tersebar di dalam rumah.

Mengapa edukasi mengenai timbal penting?

Paparan timbal sering tidak terlihat. Pemahaman mengenai bahaya, sumber paparan, dan tindakan pencegahan membantu keluarga serta masyarakat mengambil langkah perlindungan yang lebih tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *