AI Digadang-Gadang Mampu Kurangi Emisi Karbon, Benarkah?
AI Digadang gadang Mampu Kurangi Emisi – Perkembangan kecerdasan buatan, atau artificial intelligence (AI), semakin pesat dan mulai diintegrasikan ke berbagai sektor untuk mendukung upaya mengatasi perubahan iklim. Teknologi ini memiliki potensi besar dalam meningkatkan efisiensi energi, mengoptimalkan sistem transportasi, hingga memantau kondisi lingkungan secara real-time. Namun, beberapa ahli menyoroti bahwa manfaat AI bagi lingkungan belum sepenuhnya terwujud, bahkan berisiko memperparah masalah emisi karbon pada tahap awal implementasinya.
Temuan Studi: AI Bisa Justru Meningkatkan Emisi
Sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap AI sebagai solusi perubahan iklim mungkin terlalu optimis. Meski AI memiliki kemampuan untuk menganalisis data secara efektif, kebutuhan energi yang tinggi dalam operasional pusat data menjadi hambatan utama. Pusat data tersebut membutuhkan daya listrik besar, dan jika sumber energi masih bergantung pada bahan bakar fosil, maka penggunaan AI justru bisa menambah emisi karbon secara signifikan.
Studi dengan judul “Rapid Artificial Intelligence Deployment Increases Near-Term Pressure on Global Carbon Budgets” dikembangkan oleh Yassine Charabi, peneliti dari Kuwait University. Model yang ia ciptakan menggabungkan variabel seperti siklus penggantian perangkat keras, proyeksi komputasi AI, serta perkembangan sistem energi global. Hasil simulasi sebanyak 10.000 kali menunjukkan fenomena yang disebut sebagai carbon trough—lembah karbon. Fenomena ini menggambarkan situasi di mana emisi karbon dari pembangunan dan pengoperasian infrastruktur AI justru lebih besar daripada pengurangan emisi yang berhasil dicapai melalui penerapannya.
“Dalam skenario percepatan penyebaran pusat data AI yang dianalisis, pengurangan emisi tahunan memang dapat mengubah lintasan emisi di masa depan, tetapi tidak mampu menghapus tambahan emisi CO₂ kumulatif yang telah terjadi sebelumnya,” ujar Yassine.
Konsep lembah karbon menegaskan bahwa adopsi AI secara masif perlu disertai dengan transisi energi bersih. Jika tidak, maka manfaat lingkungan dari teknologi ini bisa terkalahkan oleh kebutuhan energi yang berlebihan. Kebutuhan listrik besar ini tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga menambah beban pada sistem energi global.
Pemanfaatan AI di Indonesia: Peluang dan Tantangan
Indonesia tengah giat melakukan transformasi digital di berbagai sektor, seperti reformasi birokrasi, pendidikan, pembangunan kota cerdas, ketahanan pangan, dan layanan kesehatan. Hal ini diungkapkan dalam laporan Indonesia.go.id (18/7/2026). Meski proses digitalisasi bisa mengurangi kebutuhan sumber daya manusia, penggunaan AI juga mempercepat peningkatan konsumsi listrik, khususnya untuk operasional pusat data.
Perluasan infrastruktur AI di Indonesia menghadapi tantangan karena bauran energi nasional masih didominasi oleh pembangkit berbasis batu bara. Meski energi terbarukan mulai berkembang, kebutuhan listrik untuk AI belum sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan kapasitas energi hijau. Akibatnya, sektor digital berpotensi menjadi sumber emisi karbon baru jika tidak dikelola dengan bijak.
Yassine menekankan bahwa transisi energi bersih menjadi kunci untuk memperkecil dampak negatif dari lembah karbon. Pemanfaatan AI pada sektor-sektor yang mendukung ekonomi rendah karbon, seperti energi terbarukan dan transportasi ramah lingkungan, bisa menjadi strategi efektif. Jika adopsi AI di sektor-sektor tersebut tertunda, maka akumulasi emisi tambahan bisa mencapai sekitar 0,45 gigaton CO₂ setiap tahun, menurut prediksi dalam studi tersebut.
Pertumbuhan AI tidak hanya mengubah cara kita berinteraksi dengan teknologi, tetapi juga mengubah dinamika keberlanjutan lingkungan. Dengan menggabungkan efisiensi energi dari AI dengan keberlanjutan sumber daya, Indonesia bisa memanfaatkan teknologi ini secara optimal. Namun, jika energi fosil tetap menjadi pilihan utama, maka kemajuan AI bisa justru mempercepat tekanan pada angka emisi global.
Kesadaran ini mendorong pemerintah Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan. Kebutuhan listrik yang meningkat bersamaan dengan adopsi AI menuntut strategi pengelolaan energi yang lebih holistik. Dengan memastikan bahwa pusat data AI menggunakan sumber daya energi yang ramah lingkungan, manfaat teknologi ini bisa benar-benar mengarah pada penurunan emisi karbon secara berkelanjutan.
Dalam konteks global, lembah karbon menunjukkan bahwa AI tidak bisa langsung menjadi solusi utama perubahan iklim. Teknologi ini membutuhkan waktu untuk berdampak positif, terutama jika proses transisi energi dilakukan secara paralel. Kecil kemungkinan bahwa AI akan menurunkan emisi secara signifikan tanpa pendukung dari pergeseran ke sumber daya yang lebih hijau. Pemikiran ini mengingatkan bahwa keberhasilan AI dalam mengatasi perubahan iklim bergantung pada keseimbangan antara inovasi teknologi dan keberlanjutan sumber daya.
Kesimpulan studi ini memberikan sinyal penting bagi pembuat kebijakan. Di satu sisi, AI memiliki potensi besar dalam mempercepat transformasi digital, tetapi di sisi lain, pemanfaatannya harus disertai dengan strategi energi yang lebih ramah lingkungan. Dengan mempercepat adopsi AI di sektor yang mendukung keberlanjutan, Indonesia bisa mengurangi risiko lembah karbon dan memanfaatkan teknologi ini sebagai bagian dari solusi iklim, bukan penambah masalah.



