Menko Airlangga: Ekonomi RI tetap kuat di tengah ketidakpastian global

Menko Airlangga: Ekonomi RI tetap kuat di tengah ketidakpastian global

Dalam acara Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) di Kantor Pusat Bank Indonesia, Senin, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa perekonomian Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang baik meskipun menghadapi tantangan dari luar negeri. Menurutnya, berbagai indikator ekonomi nasional tetap stabil, termasuk pertumbuhan ekonomi, inflasi, konsumsi dalam negeri, dan struktur pembiayaan lokal.

Dia menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga. Pertumbuhan ekonomi pada tahun lalu mencapai 5,11 persen, sementara proyeksi untuk tahun 2026 menargetkan 5,4 persen. Airlangga menyebutkan bahwa kinerja ekonomi di kuartal pertama 2026 pun berpotensi mencapai lebih dari 5,5 persen.

“Fundamental kita tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi tercatat di tahun lalu 5,11 persen. Di tahun 2026 ditargetkan 5,4 persen,” ujarnya.

Inflasi nasional juga terpantau terkendali, dengan angka 3,48 persen. Selain itu, indeks keyakinan konsumen berada di level 122,9, menunjukkan kepercayaan publik yang tinggi terhadap kondisi ekonomi. Airlangga menambahkan bahwa konsumsi domestik terus menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, berkontribusi sekitar 54% terhadap PDB.

Dari sisi eksternal, Airlangga menjelaskan bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 70 bulan dengan nilai 148,2 miliar dolar AS. Rasio utang luar negeri terhadap PDB masih berada di 29,9 persen. Kepemilikan surat berharga negara (SBN) didominasi investor lokal, mencapai 87,4 persen, sementara investor asing hanya menyumbang 12,6 persen.

Menurut Airlangga, beberapa lembaga internasional masih memandang ekonomi Indonesia sebagai yang cukup kuat. Dana Moneter Internasional (IMF) menilai negara ini sebagai salah satu bright spot di Asia, sementara Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan PDB pada 2026 sebesar 5,2 persen.

“Beberapa lembaga menilai probability resesi Indonesia di bawah 5 persen, ini lebih rendah dari negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, atau Kanada. Dunia masih melihat Indonesia sebagai salah satu ekonomi yang cukup kuat,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa Indonesia relatif lebih tahan terhadap fluktuasi harga energi global. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan energi yang lebih rendah dibandingkan negara-negara Asia lainnya, terutama terkait dinamika geopolitik di Timur Tengah.

Lihat Juga :   Special Plan: Wamen PKP tinjau lokasi pembangunan kampung nelayan MP di Aceh Jaya

Airlangga menegaskan bahwa pemerintah perlu terus memperkuat kerja sama antarlembaga untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.