Kiai Sahal Gontor ke Prabowo: Saya Ngomong Agak Tidak Enak, Sorry ye…

98468-hasan-abdullah-sahal-presiden-prabowo

Kiai Sahal Gontor ke Prabowo Sampaikan Pidato Penuh Humor dan Pesan Kebangsaan

Pondokkebaikan.com – Kiai Sahal Gontor ke Prabowo menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian dalam puncak Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Pemimpin Pondok Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan pidato dengan gaya lugas, jenaka, sekaligus sarat refleksi di hadapan Presiden Prabowo Subianto.

Acara tersebut berlangsung pada Sabtu (19/9). Di hadapan para santri dan tamu undangan, Kiai Hasan membahas perjalanan panjang Gontor, perubahan masyarakat, hingga pentingnya hubungan yang dilandasi prasangka baik antara pemimpin dan rakyat.

Sejak awal, suasana pidato sudah dibuat cair. Kiai Hasan terlebih dahulu menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden Prabowo sebelum menyampaikan bagian pidatonya yang dianggap cukup blak-blakan.

“Bapak presiden. Saya ngomong agak tidak enak ya pak. Sorry ye,” ujar Kiai Hasan.

Ucapan itu langsung mengundang tawa dari hadirin. Istilah “sorry ye” juga dikenal pernah digunakan Prabowo dalam sejumlah pidatonya, sehingga celetukan Kiai Hasan terasa dekat dengan suasana pertemuan tersebut.

Dari “Nggon Kotor” Menjadi “Nggon Inspirator”

Dalam pidatonya, Kiai Hasan mengenang sejarah Gontor yang berdiri pada 1926. Ia menyampaikan penjelasan bernuansa humor mengenai nama Gontor, yang ia kaitkan dengan gambaran kondisi masyarakat pada masa lalu.

“Tahun 1926, bagaimana Gontor? Gontor itu singkatan nggon kotor, karena banyak kesyirikan, kekufuran, maksiat. Bahasa Inggrisnya molimo. Tapi sekarang, Gontor itu nggon inspirator,” kata Kiai Hasan.

Pernyataan tersebut menjadi cara Kiai Hasan menggambarkan perubahan Gontor dari masa awal berdirinya hingga berkembang menjadi lembaga pendidikan yang memberi inspirasi. Ia menekankan bahwa perjalanan itu tidak lepas dari pengabdian para pendiri pondok.

Para pendiri Gontor, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi, disebut telah mewakafkan gagasan, sistem pendidikan, serta cinta mereka kepada umat dan bangsa sejak 1958. Bagi Kiai Hasan, wakaf tersebut menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pesantren.

Pesan sejarah itu juga menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar membangun kemampuan akademik, melainkan menyiapkan karakter dan pandangan hidup bagi generasi penerus. Gontor, menurut semangat yang disampaikan dalam pidato tersebut, diarahkan untuk terus memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Sentilan “Cari Muka” di Hadapan Presiden

Bagian lain yang mengundang perhatian adalah ketika Kiai Sahal Gontor ke Prabowo menyinggung kebiasaan “cari muka”. Dengan bahasa sederhana, ia menyampaikan sindiran tentang manusia yang kerap mencari sesuatu karena merasa belum memilikinya.

“Andaikan Pak Prabowo tak datang hari ini, nah ini muka saya, ditarok di mana? Akhinya saya harus cari muka. Sekarang banyak orang yang cari muka, betul? Orang tak punya ijazah, cari ijazah. Orang tak punya nama, cari nama. Orang tidak punya uang, cari uang. Orang ndak punya jabatan, cari jabatan. Orang tak punya muka, cari muka,” kata Kiai Sahal.

Celetukan tersebut membuat Presiden Prabowo tertawa. Meski disampaikan sebagai gurauan, pesan yang dibawa Kiai Hasan mengajak hadirin untuk melihat perilaku sosial dengan lebih jujur dan kritis.

Pendidikan, Proses, dan Husnuzhan

Di balik humor yang disampaikan, Kiai Hasan tetap menekankan pesan serius mengenai pendidikan dan pembangunan bangsa. Ia mengingatkan bahwa proses pendidikan perlu diarahkan pada upaya menjadi yang terbaik, melakukan yang terbaik, dan memperoleh hasil terbaik.

Prinsip yang ia sampaikan adalah “Be the best, do the best, have the best.” Pesan ini menempatkan proses sebagai bagian penting dalam membentuk pribadi dan masyarakat yang kuat, bukan hanya mengejar capaian akhir.

Kiai Hasan juga menyoroti pentingnya husnuzhan, atau prasangka baik, antara pemimpin dan rakyat. Ia menyatakan rasa syukur atas kehadiran Prabowo di Gontor, yang disebut mencatat sejarah sebagai salah satu dari tujuh Presiden RI yang pernah mengunjungi pondok tersebut.

“Insya Allah saya yakin Pak Prabowo ini berbincang-bincang dengan saya… sudah satu kali, dua kali, tiga kali, sekarang yang keempat kali. Maka saya insya Allah selama Pak Presiden husnuzhan kepada saya, dengan Gontor, insya Allah Gontor husnuzhan kepada Bapak Presiden!” kata Kiai Hasan.

FAQ: Pidato Kiai Sahal di Hadapan Prabowo

Di acara apa Kiai Hasan Abdullah Sahal berpidato?

Kiai Hasan berpidato dalam puncak Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang berlangsung pada Sabtu (19/9).

Apa pesan utama pidato Kiai Sahal?

Pidato tersebut memuat refleksi tentang sejarah Gontor, pentingnya pendidikan yang berorientasi pada proses, serta perlunya membangun husnuzhan antara pemimpin dan rakyat.

Mengapa istilah “cari muka” menjadi sorotan?

Istilah itu digunakan Kiai Hasan sebagai sindiran jenaka terhadap kebiasaan orang yang mencari pengakuan, nama, jabatan, atau hal lain yang dianggap belum dimiliki. Gurauan itu disampaikan di hadapan Presiden Prabowo dan disambut tawa hadirin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *