Sekjen PKS: Walau Masih Trauma, Warga NTT Malah Sambut Kami dengan Gembira

khrisna-edit-1788660694-35a977b6ec

Trauma Gempa Tak Meruntuhkan Semangat Warga Poka: Kholid Saksikan Ketangguhan yang Menggetarkan

Pondokkebaikan.com – Di tengah puing-puing bangunan yang masih berdiri sebagai saksi bisu dahsyatnya gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, sebuah pemandangan tak terduga menyambut rombongan pejabat yang tiba di lokasi pengungsian. Bukan ratapan atau kepasrahan yang tampak, melainkan senyum lebar dan tepuk tangan hangat dari warga yang baru beberapa hari lalu kehilangan tempat tinggal mereka. Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera, Muhammad Kholid, menyaksikan langsung momen itu pada Sabtu (5/9/2026) saat ia menjejakkan kaki di area tenda-tenda darurat yang berjajar di sekitar Gereja Paroki Fransiskus Xaverius Poka.

Misi Kemanusiaan di Tengah Puing Bencana

Kedatangan Kholid ke Poka bukan sekadar kunjungan seremonial. Agenda utamanya jelas: meninjau secara langsung kondisi para korban gempa yang terpaksa mengungsi, sekaligus menyalurkan bantuan kemanusiaan ke tangan mereka. NTT, sebagai gugus kepulauan di ujung timur Indonesia, secara geografis berada di jalur subduksi lempeng tektonik yang membuatnya kerap menjadi sasaran guncangan bumi. Gempa yang melanda Manggarai pada awal September 2026 menambah daftar panjang bencana alam yang menghantui wilayah ini, dan respons cepat dari berbagai pihak menjadi kebutuhan mendesak bagi ribuan warga yang kehilangan atap, harta benda, dan rasa aman dalam semalam.

Kholid tiba di lokasi pengungsian pada malam sebelumnya dan langsung berinteraksi dengan para pengungsi. Alih-alih menemukan suasana muram yang ia perkirakan, ia justru disambut dengan kehangatan yang melampaui ekspektasi. Warga yang masih bermalam di bawah tenda-tenda kain tipis, yang masih menyimpan luka batin akibat getaran dahsyat yang merobohkan rumah mereka, memilih untuk tersenyum dan melambaikan tangan ketika rombongan tiba.

“Sejak tadi malam kami tiba di Gereja Paroki Fransiskus Xaverius Poka. Di situ berdiri tenda-tenda pengungsian. Kami malah disambut penuh suka cita. Walau masih ada rasa sedih, ketika ada yang datang mereka menyambut dengan gembira. Itulah kehebatan warga NTT,” ujar Kholid.

Ketangguhan Mental sebagai Modal Pemulihan

Bagi Kholid, apa yang ia saksikan di Poka bukan sekadar anekdot emosional, melainkan indikator penting bagi seluruh proses pemulihan pascabencana. Ia mengamati secara langsung bagaimana wajah-wajah para pengungsi tetap menyala oleh keceriaan tulus ketika berinteraksi dengan para relawan yang datang membantu. Ketangguhan mental semacam ini, menurutnya, merupakan fondasi yang tidak bisa digantikan oleh bantuan material semata.

“Mereka tetap tegar di tengah trauma. Selalu ceria di hadapan kami,” katanya.

Pandangan ini sejalan dengan kajian psikologi bencana yang menunjukkan bahwa komunitas dengan ikatan sosial kuat dan tradisi kolektif yang kokoh cenderung pulih lebih cepat secara psikologis dibandingkan individu yang terisolasi. Warga Manggarai, dengan struktur sosial yang masih sangat komunal dan tradisi gotong royong yang mengakar, tampaknya memiliki benteng psikologis alami yang melindungi mereka dari kehancuran total setelah bencana.

Tamu yang Tak Ingin Disambut, Warga yang Bersikeras Menghormati

Ada satu detail yang Kholid ceritakan dengan nada kagum sekaligus sedikit canggung: ia dan rombongannya sebenarnya telah meminta agar tidak ada penyambutan formal atau seremoni apa pun. Niat mereka murni aksi sosial — datang, melihat kondisi, menyerahkan bantuan, lalu pergi. Namun warga Poka bersikeras menunjukkan penghormatan mereka dengan cara yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya mereka.

“Kami sudah minta untuk tidak disambut dengan acara-acara. Kami hanya ingin datang melihat dan mengantarkan bantuan. Tapi mereka tetap memaksa untuk menyambut,” ungkap Kholid.

Momen ini mengungkap dimensi budaya yang jauh lebih dalam dari sekadar keramahan. Dalam tradisi masyarakat NTT, khususnya di wilayah Manggarai dan sekitarnya, menyambut tamu bukan sekadar sopan santun — ia adalah kemuliaan, sebuah kewajiban spiritual dan sosial yang melampaui konteks situasi. Bahkan ketika rumah mereka baru saja runtuh dan trauma belum sepenuhnya memudar, tradisi memuliakan tamu tetap dijalankan tanpa kompromi.

“Karena bagi mereka, menyambut tamu adalah kemuliaan dari budaya yang tidak boleh lepas,” pungkas Kholid.

Implikasi bagi Respons Bencana dan Peran Politik

Kunjungan pejabat ke lokasi bencana selalu berada di persimpangan antara kebutuhan komunikasi publik dan risiko politisasi penderitaan. Dalam kasus ini, Kholid secara eksplisit menegaskan bahwa agenda utamanya adalah sosial, bukan politik. Namun kehadiran figur partai di lokasi pengungsian tetap mengirimkan sinyal bahwa negara — melalui representasi politiknya — hadir dan tidak meninggalkan warga dalam krisis. Bagi ribuan pengungsi di Poka yang bergantung penuh pada bantuan darurat, sinyal kehadiran semacam itu memiliki nilai psikologis tersendiri di samping manfaat materialnya.

Di sisi lain, ketangguhan yang ditunjukkan warga Poka juga menjadi pengingat bahwa respons bencana tidak boleh hanya berfokus pada distribusi logistik. Pendekatan pemulihan yang efektif harus menghormati dan memperkuat modal sosial yang sudah ada — ikatan komunal, tradisi gotong royong, dan resiliensi budaya — bukan sekadar menggantikannya dengan intervensi dari luar. Warga NTT, sebagaimana dibuktikan oleh sambutan hangat mereka di tengah puing-puing gempa, telah memiliki mekanisme pemulihan internal yang selama berabad-abad telah menguji dan bertahan melewati berbagai guncangan alam dan sosial.

Proses pemulihan di Poka dan wilayah Manggarai yang terdampak masih akan berlangsung berbulan-bulan ke depan. Dari rekonstruksi hunian hingga pemulihan ekonomi lokal, dari konseling trauma hingga pemulihan infrastruktur dasar, jalan yang harus ditempuh masih panjang. Namun satu hal yang telah dipastikan oleh pengalaman Sabtu itu: semangat untuk bangkit sudah tertanam jauh lebih dalam daripada trauma yang ingin meruntuhkannya.

Frequently Asked Questions

What is Sekjen PKS?

Sekjen PKS is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sekjen PKS matter?

Sekjen PKS matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *