MPLS Sekolah Rakyat Fokus Bangun Literasi Digital – Siswa Baru Dibekali Etika Pakai Medsos

Share: X Facebook
khrisna-edit-1783987294-1442be1155

MPLS Sekolah Rakyat Fokus Bangun Literasi Digital Siswa

MPLS Sekolah Rakyat Fokus Bangun Literasi – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk tahun ajaran baru telah resmi dibuka pada 14 Juli 2026. Program MPLS Sekolah Rakyat Fokus Bangun Literasi Digital ini menyasar 28.478 siswa baru yang berasal dari keluarga prasejahtera. Pembekalan komprehensif diberikan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan literasi digital dan etika penggunaan media sosial yang tepat.

Langkah strategis ini bertujuan agar siswa mampu memanfaatkan teknologi secara optimal. Gawai dan laptop tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu belajar, tetapi juga harus mendukung proses pembelajaran yang produktif. Para siswa diharapkan dapat membedakan aktivitas yang bermanfaat dengan yang kurang produktif dalam penggunaan perangkat digital sehari-hari.

Kebijakan Penggunaan Gawai di Kelas

Kementerian Sosial menerapkan pembatasan ketat terhadap penggunaan gawai pribadi selama kegiatan belajar mengajar. Telepon genggam tidak diperbolehkan digunakan oleh siswa di dalam kelas. Sebagai alternatif, mereka akan menggunakan laptop atau komputer yang tersedia di lingkungan sekolah untuk keperluan akademik.

Keputusan ini diambil untuk memastikan efektivitas proses pembelajaran. Dengan menggunakan perangkat yang lebih terfokus pada tugas akademik, siswa dapat lebih konsentrasi pada materi yang disampaikan. Guru juga dapat memberikan pendampingan langsung dalam penggunaan teknologi tersebut selama jam pelajaran berlangsung.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang dikenal dengan sebutan Gus Ipul menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian integral dari program MPLS. Program ini dirancang untuk membentuk kebiasaan positif sejak dini dalam pemanfaatan teknologi oleh para siswa.

“Anak-anak mulai SD pun sudah dibiasakan bagaimana memanfaatkan teknologi untuk proses pembelajaran bukan untuk hal-hal yang tidak semestinya,” ujar Saifullah Yusuf saat memberikan keterangan di Jakarta pada Senin, 13 Juli 2026.

Pendampingan Karakter oleh TNI dan Polri

Selain aspek literasi digital, MPLS juga menyertakan program pendampingan selama lima hari penuh. Taruna dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) ditugaskan untuk membantu pembentukan karakter siswa. Program ini bertujuan membangun kedisiplinan yang kuat mengingat sebagian besar siswa akan menjalani pendidikan berbasis asrama.

Kehadiran para taruna diharapkan dapat memberikan teladan positif dalam hal tata tertib dan tanggung jawab pribadi. Mereka akan membimbing siswa dalam hal-hal dasar seperti menata barang-barang pribadi dan perlengkapan sekolah sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

“Mulai bangun tidur sampai tidur lagi itu ada jadwal yang telah diatur sedemikian rupa. Kita harapkan nanti anak-anak ini bisa belajar bagaimana menata barang-barang pribadi, perlengkapan sekolah, dan juga mengikuti jadwal-jadwal yang ada, dan bisa mengikuti proses pembelajaran secara tertib dan rapi dari bangun tidur sampai tidur kembali,” kata Gus Ipul.

Detail Data Penerimaan Siswa Baru

Kementerian Sosial mencatat bahwa seluruh 28.478 siswa yang diterima berasal dari keluarga prasejahtera. Komposisi siswa tersebut terbagi menjadi tiga jenjang pendidikan yang berbeda. Untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), terdapat lebih dari 6.000 siswa yang tersebar dalam 210 rombongan belajar.

Sementara itu, tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) menampung 11.186 siswa dalam 373 rombongan belajar. Pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), sebanyak 11.077 siswa diterima dan ditempatkan di 369 rombongan belajar. Jumlah ini menunjukkan komitmen besar dalam menyediakan pendidikan berkualitas.

MPLS nasional ini akan berlangsung selama tiga bulan dengan sistem empat gelombang. Setiap gelombang dirancang untuk memastikan seluruh siswa mendapatkan pengalaman pengenalan lingkungan yang optimal. Program ini juga menekankan pentingnya kemampuan memilah informasi melalui sistem learning management system (LMS).

Gus Ipul menegaskan bahwa kesadaran sejak dini dalam menggunakan teknologi akan mencegah siswa terjerumus pada aktivitas yang tidak produktif. Pembekalan literasi digital yang diberikan sejak awal diharapkan dapat membentuk generasi yang melek teknologi namun tetap beretika dalam setiap interaksi digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *