Key Discussion: Tangis Ibu Santri Korban Pembakaran di DPR
Key Discussion – Momen yang mengharukan terjadi di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, pada Senin, 13 Juli 2026. Ibunda Sahri Sobirin, santri korban pembakaran di Pondok Pesantren Rosyidatusshaulatiyah Al-Ibrahimy NW Lombok Tengah, hadir untuk menyampaikan keluh kesahnya. Ia datang langsung kepada anggota Komisi III DPR RI untuk mengadu nasib putranya yang meninggal dunia dalam keadaan menyedihkan. Key Discussion ini menjadi sorotan publik karena kesaksian yang disampaikan sangat memilukan.
Suasana di dalam Ruang Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) terasa sangat berat. Air mata mengalir deras dari mata sang ibu saat mengingat kembali momen-momen terakhir bersama putranya. Kondisi psikologisnya tampak sangat terganggu, membuatnya sulit berbicara dengan lancar. Dalam situasi penuh tekanan emosional, ia didampingi oleh tim hukum dari Hotman 911 yang siap membantu menerjemahkan perasaan dan cerita yang ingin disampaikan. Key Discussion ini menunjukkan betapa pentingnya suara korban didengar.
Ancaman yang Tersembunyi Sebelum Pembakaran
Fakta mengejutkan terungkap dalam sesi pengaduan tersebut. Sahri Sobirin ternyata telah menerima ancaman dari anak pimpinan pondok pesantren tempat ia menimba ilmu. Ancaman tersebut disampaikan tepat tiga hari sebelum peristiwa maut terjadi. Sang santri dikabarkan pernah menceritakan kepada keluarganya bahwa ia diancam akan dibakar jika tidak menuruti kemauan dari pelaku. Key Discussion ini mengungkap sisi gelap yang selama ini tersembunyi.
“Almarhum anak korban, Shobirin, pernah menceritakan tiga hari sebelum pembakaran bahwa dia diancam oleh anak pimpinan Ponpes akan dibakar kalau tidak menuruti kemauan dari si pelaku,” ujar perwakilan tim Hotman 911, Titi Tantri di hadapan anggota Komisi III.
Selama ini, korban cenderung tertutup dan tidak berani bercerita secara jujur. Ia berada di bawah tekanan dan rasa takut yang terus membayangi kehidupannya. Sang ibu sempat bertanya menggunakan bahasa daerah apakah putranya pernah dipukul atau dirundung di sekolah, namun jawaban yang ia terima hanyalah keheningan. Sang santri tidak berani jujur karena ancaman yang terus menghantui pikirannya. Key Discussion ini membuka mata banyak pihak.
Kronologi Pembakaran yang Menyayat Hati
Tim hukum Hotman 911 menjelaskan detail kejadian yang terjadi di sebuah ruangan kosong. Pelaku diduga menyiramkan bensin ke seluruh tubuh korban dan kemudian menyulut api. Api yang membara menyebar dengan cepat, membakar sekujur tubuh Sahri Sobirin hingga mencapai 80 persen luka bakar. Luka tersebut meliputi area wajah hingga ujung kaki, hanya bagian perut dan sedikit bagian paha yang tidak terkena kobaran api. Key Discussion ini memberikan kejelasan tentang kronologi kejadian.
Baru tiga hari setelah kejadian pembakaran, si anak korban mulai bisa berbicara. Ia menyampaikan bahwa pembakaran terjadi di dalam ruangan kosong. Api berisi bensin menyebar hingga korban mengalami luka bakar sangat drastis. Sahri Sobirin akhirnya menghembuskan napas terakhir setelah sempat berjuang melewati masa kritisnya. Key Discussion ini menjadi momen penting bagi keluarga korban.
Komitmen DPR untuk Keadilan
Merespons kesaksian memilukan tersebut, Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, berusaha menenangkan sang ibu yang terus menangis tersedu-sedu. Ia menegaskan bahwa pihak DPR akan mengawal kasus ini hingga tuntas demi keadilan bagi almarhum. Key Discussion ini menunjukkan komitmen nyata dari lembaga legislatif.
“Insyaallah kami, Komisi III, akan berupaya maksimal untuk memberikan keadilan agar korban almarhum bisa mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya,” tegas Habiburokhman.
Komitmen Komisi III DPR RI untuk mengawal kasus pembakaran santri ini hingga tuntas menjadi harapan baru bagi keluarga korban. Mereka berkomitmen untuk memastikan bahwa proses hukum berjalan dengan baik dan memberikan keadilan yang setimpal bagi Sahri Sobirin serta keluarganya. Kasus ini diharapkan dapat menjadi pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat Indonesia tentang pentingnya perlindungan terhadap anak-anak muda yang sedang menimba ilmu. Key Discussion ini menjadi tonggak sejarah bagi keadilan.
Kehadiran tim hukum Hotman 911 dalam proses pengaduan ini menunjukkan bahwa berbagai pihak telah bersatu padu untuk membantu keluarga korban. Mereka tidak hanya membantu secara hukum, tetapi juga memberikan dukungan emosional yang sangat dibutuhkan dalam masa-masa sulit ini. Proses pengaduan di DPR RI ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju keadilan yang sesungguhnya bagi Sahri Sobirin. Key Discussion ini akan terus menjadi perhatian publik.



