Pemerintah Umumkan Pergantian Kepala BGN, Nanik S. Deyang Menggantikan Dadan Hindayana
Topics Covered – Dalam peristiwa terbaru, pemerintah secara resmi melakukan penggantian jabatan kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada bulan Juni 2026. Dadan Hindayana, yang sebelumnya menjabat sebagai pemimpin lembaga tersebut, telah digantikan oleh Nanik S. Deyang. Perubahan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkuat manajemen program strategis nasional yang bertujuan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui distribusi makanan bergizi gratis. Pergantian ini mengundang perhatian publik, terutama karena Dadan pernah menyampaikan rencana untuk menyebarkan program tersebut ke Arab Saudi, yang menimbulkan polemik.
Alasan Pergantian Pemimpin BGN
Menurut pemerintah, penggantian kepala BGN dilakukan untuk memastikan terwujudnya efisiensi dalam pelayanan dan pengendalian program. Dengan adanya perubahan ini, diharapkan target utama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat lebih tercapai. Lembaga yang berada di bawah kementerian terkait ini dikenal sebagai salah satu mitra utama pemerintah dalam menjamin akses nutrisi bagi kelompok rentan seperti anak sekolah, balita, dan ibu hamil. Pemimpin baru, Nanik S. Deyang, memiliki pengalaman yang berbeda dibandingkan Dadan. Sebelum menjabat sebagai kepala, ia pernah menempati posisi Wakil Kepala BGN, sehingga dianggap lebih familiar dengan dinamika operasional dan tantangan yang dihadapi oleh lembaga tersebut. Pemerintah menyatakan bahwa proses penggantian dilakukan setelah evaluasi kinerja yang mendalam, dengan tujuan mengoptimalkan keberhasilan MBG di tengah tantangan inflasi dan keterbatasan anggaran.
Peran Irma Suryani Chaniago dalam Pergantian Ini
Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, memberikan penjelasan bahwa pergantian kepala BGN merupakan langkah wajar dan mendukung visi pemerintah. Dalam wawancara dengan Suara.com, ia menekankan bahwa lembaga ini harus tetap fokus pada tugas utamanya, yaitu memberikan layanan gizi yang efektif dan efisien. “Kepala lembaga harus lebih memprioritaskan keberhasilan program MBG, bukan hanya menyebarkan ide atau menyentuh isu luar lingkup,” ujarnya. Irma juga menjelaskan bahwa perubahan ini tidak terkait langsung dengan kritik yang muncul terhadap pernyataan Dadan mengenai MBG untuk anak sekolah Indonesia di Arab Saudi. Ia menegaskan bahwa Dadan telah memberikan peringatan sejak awal untuk menjaga konsentrasi pada tujuan program. “Saya sudah mengingatkan agar kepala BGN fokus pada tugas intinya, seperti meningkatkan pemenuhan gizi bagi anak-anak, ibu hamil, dan balita, tanpa menyimpang ke topik yang tidak relevan,” tambahnya.
Konteks Program MBG dan Tanggung Jawab Lembaga
Program Makan Bergizi Gratis merupakan inisiatif pemerintah untuk mengurangi stunting dan malnutrisi di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, program ini menjadi fokus utama dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama di daerah terpencil. Namun, keberhasilannya bergantung pada kinerja Badan Gizi Nasional, yang bertugas mengelola distribusi makanan dan memastikan layanan mencapai standar yang diharapkan. Irma menyebut bahwa perubahan kepala BGN adalah bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pengelolaan program. “Kepemimpinan baru diharapkan bisa memberikan arah yang lebih jelas dan mempercepat pencapaian target,” ujarnya. Selain itu, ia menyoroti pentingnya kolaborasi antara lembaga pemerintah dan legislatif dalam memastikan keberlanjutan MBG. “Komisi IX akan terus memantau dan memberikan masukan agar program ini tidak hanya terlihat bagus, tetapi juga memberikan dampak nyata di masyarakat,” tambahnya.
Dadan Hindayana dan Polemik di Arab Saudi
Dadan Hindayana, yang menjadi tokoh sentral dalam rencana MBG di Arab Saudi, mengungkapkan bahwa keputusan untuk mengirimkan anak-anak sekolah ke sana diambil setelah evaluasi bahwa program tersebut bisa memberikan manfaat maksimal. Namun, kebijakan ini menimbulkan kontroversi, terutama karena dianggap tidak memprioritaskan kebutuhan anak-anak di dalam negeri. Meski demikian, Irma menegaskan bahwa rencana Dadan tidak batal, tetapi lebih fokus pada penyesuaian strategi agar tidak membebani anggaran. “Jika pemimpin lembaga tidak bisa fokus, program yang baik bisa terganggu. Maka, pergantian ini dianggap wajar untuk menjaga konsistensi,” ujarnya. Ia juga menyatakan bahwa kritik terhadap Dadan justru membuktikan bahwa program MBG memerlukan perhatian lebih dari berbagai pihak. “Ini menunjukkan bahwa MBG menjadi isu penting, dan perubahan kepemimpinan bisa menjadi momentum untuk memperbaikinya,” pungkasnya.
Perombakan Struktur Kepemimpinan BGN
Sebelum pergantian kepala BGN, pemerintah melakukan perombakan signifikan pada struktur kepemimpinan lembaga tersebut. Perubahan ini mencakup penyesuaian tugas dan wewenang, serta penambahan divisi untuk mengelola distribusi makanan di daerah terpencil. Pergantian Dadan Hindayana menjadi Nanik S. Deyang dinilai sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan program secara lebih terarah. Irma Suryani Chaniago mengapresiasi langkah ini, karena dianggap mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam manajemen MBG. “Dengan ada kepemimpinan baru, kebijakan bisa lebih sejalan dengan harapan masyarakat,” katanya. Ia juga menyebut bahwa keberhasilan MBG bergantung pada kebijakan yang konsisten dan pengawasan yang ketat. “Pemerintah harus tetap memperhatikan progres, agar tidak ada tumpang tindih atau kelebihan beban,” tambahnya.
Perbedaan Strategi dan Harapan Masa Depan
Nanik S. Deyang, sebagai pengganti Dadan, diharapkan bisa memperbaiki pelayanan dengan fokus pada peningkatan kualitas nutrisi dan akurasi distribusi. Menurut sumber di dalam lembaga, Nanik memiliki pengalaman dalam bidang kesehatan dan gizi, sehingga dianggap lebih mampu mengelola program secara profesional. Pemimpin baru juga diberikan tugas tambahan untuk memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk komunitas lokal dan lembaga swadaya masyarakat. “Kepemimpinan Nanik diharapkan bisa menambah kepercayaan publik, terutama dalam menjaga konsistensi MBG,” ujarnya. Sementara itu, Dadan Hindayana tetap aktif dalam mengampanyekan program MBG, meski tidak lagi sebagai kepala BGN. Ia berharap kebijakan ini bisa diterima oleh masyarakat, baik di dalam maupun luar negeri. “MBG bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga bisa menjadi contoh keberhasilan bagi negara lain,” katanya. Pemerintah menegaskan bahwa pergantian ini tidak memutus komitmen terhadap MBG, tetapi lebih mengarahkan perhatian pada aspek-aspek yang lebih kritis. “Dengan kepemimpinan yang lebih stabil, program ini bisa berjalan dengan lebih optimal,” ujarnya. Sementara itu, para ahli gizi menilai bahwa perubahan ini bisa menjadi peluang untuk mengoptimalkan MBG, terutama dalam meningkatkan keterlibatan masyarakat



