New Policy: Memanas, Proses Pengosongan Lahan Hotel Sultan Diwarnai Aksi Lempar Batu

Share: X Facebook
87071-proses-pengosongan-hotel-sultan-mulai-anarkis

Protes Massa di Hotel Sultan Memuncak, Aksi Lempar Batu Mengganggu Proses Evakuasi

New Policy – Kamis, 18 Juni 2026, proses evakuasi lahan Hotel Sultan di Jakarta Pusat memanas karena tindakan pemberontakan oleh kelompok massa yang menentang rencana pengosongan. Mereka menghalangi akses ke area hotel dengan membentuk blokade yang ketat, mengakibatkan situasi menjadi tidak kondusif. Tegangan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan terus membesar, terutama saat upaya evakuasi dimulai.

Penegakan Hukum Dilakukan Aparat Gabungan

Kelompok massa yang menduduki kawasan Hotel Sultan, kawasan Senayan, mulai menunjukkan sikap agresif saat aparat keamanan mendekati blokade. Benda-benda keras seperti batu dan botol plastik dilemparkan ke arah petugas, yang berusaha melindungi area dari pihak yang berlawanan. Meski terjadi perlawanan, aparat gabungan dari berbagai instansi tetap mengendalikan situasi dengan disiplin.

“Ya rapikan lagi barisannya, rapikan lagi!” teriak komandan aparat dalam barisan pengamanan. Instruksi tersebut diberikan untuk mengurangi risiko konflik dengan meningkatkan koordinasi antara tim pengawal dan massa yang terus berkumpul.

Ketegangan mencapai puncaknya sepanjang hari, di mana sejumlah provokator dari kelompok pendukung R.M. Koesen—yang diklaim sebagai pemilik tanah—diamankan oleh petugas. Aparat keamanan menyiapkan beberapa langkah untuk memastikan proses evakuasi berjalan lancar, meski harus berhadapan langsung dengan aksi melempar batu yang terus-menerus.

Persiapan Aparat untuk Mengamankan Area

Sebelumnya, aparat keamanan telah melakukan persiapan ekstra. Ribuan personel gabungan, terdiri dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, Polsek Tanah Abang, Kodim 0501 Jakarta Pusat, Danramil Tanah Abang, Satpol PP DKI Jakarta, dan Pemerintah Kota Jakarta Pusat, ditempatkan di Blok 15 GBK untuk mengawal seluruh tahap evakuasi. Total anggota yang siaga mencapai 3.161 orang, menunjukkan tingkat kecemasan dan persiapan matang dari pihak berwenang.

Aksi lemparan batu oleh massa terjadi tepat di depan barisan aparat yang berjaga di balik pagar duri blokade. Sejumlah benda seperti batu dan botol plastik dilemparkan sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pengosongan. Meski begitu, aparat tetap bertahan dan berupaya mengendalikan kerusuhan dengan tenang.

“Ya rapikan lagi barisannya, rapikan lagi!” seru sang komandan barikade, kembali memberikan instruksi untuk mengatur arus pengunjuk rasa dan memastikan operasi berjalan terstruktur.

Pengunjuk rasa yang menentang rencana evakuasi juga menempelkan pagar berduri di area depan Hotel Sultan, menandakan bahwa siapa pun yang ingin memasuki lokasi harus melalui perlawanan. Tindakan ini dilakukan setelah beberapa hari sebelumnya, kelompok massa sudah mengumpulkan dukungan untuk menolak pengosongan. Mereka menilai bahwa pemilik lahan, R.M. Koesen, berhak atas tanah tersebut.

Eksekusi Berlangsung Meski Tegangan Tinggi

Proses evakuasi tetap berjalan, meski dengan tantangan yang signifikan. Aparat keamanan mengawal seluruh tahap pembersihan, sambil menghadapi aksi lemparan yang terus-menerus. Sejumlah massa terus menerus berusaha menghalangi upaya eksekusi, dengan menghimpun tempat-tempat strategis di sekitar hotel.

Konflik antara kedua belah pihak tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga berdampak pada suasana sekitar. Tegangannya membuat pengunjung dan warga sekitar kewaspadaan tinggi. Meski situasi masih memanas, upaya pengosongan tetap dilanjutkan, dengan penjagaan yang ketat untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.

Dari laporan terkini, beberapa anggota dari kelompok pendukung pemilik lahan telah ditangkap dan dikenai tindakan pencegahan. Aparat keamanan menegaskan bahwa mereka tetap fokus pada pengendalian situasi, sambil memberikan kesempatan bagi massa untuk meluruskan keluhan mereka melalui dialog.

Backbone Operasi Keamanan

Proses evakuasi lahan Hotel Sultan membutuhkan kerja sama yang baik antara berbagai instansi. Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Pusat bertindak sebagai penanggung jawab utama, sementara Kodim 0501 Jakarta Pusat dan Satpol PP DKI Jakarta membantu menyiapkan logistik dan menutup jalur alternatif. Pemerintah Kota Jakarta Pusat juga turut berperan dalam mengkoordinasi kegiatan tersebut.

Aparat keamanan tidak hanya mengawasi evakuasi, tetapi juga mencegah kerusakan lebih besar di sekitar kawasan Senayan. Upaya ini berlangsung di tengah kekhawatiran bahwa aksi massa dapat merusak infrastruktur atau menimbulkan korban jiwa. Selain itu, instruksi dari komandan barikade terus diberikan untuk memastikan bahwa semua pihak terlibat dalam kegiatan yang teratur.

Konflik antara pemilik lahan dan massa yang menentang evakuasi tampaknya tidak akan mudah diselesaikan. Meski aparat keamanan berhasil mengamankan sejumlah provokator, kehadiran massa yang terus berkumpul mengingatkan bahwa proses ini masih berlangsung dengan risiko tinggi. Penolakan terhadap eksekusi lahan Hotel Sultan tetap menjadi isu utama yang diperjuangkan oleh kelompok massa.

Pada akhirnya, proses pengosongan lahan Hotel Sultan dilanjutkan meski situasi masih memanas. Aparat gabungan berusaha memastikan bahwa pengosongan berjalan lancar, sementara massa terus berupaya mempertahankan perlawanan mereka. Dengan 3.161 personel yang siaga, upaya mengatasi kerusuhan tetap menjadi prioritas utama. Aksi lempar batu menjadi tanda bahwa keadaan tidak akan kembali tenang dalam waktu dekat.

Menurut sumber di lapangan, aksi pemberontakan ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, ada beberapa protes kecil di sekitar area hotel, tetapi kali ini lebih intens dan terorganisir. Dengan adanya dukungan dari kelompok massa, proses evakuasi bisa jadi terhambat hingga hari berikutnya. Namun, pihak berwenang tetap optimistis bahwa tindakan tegas akan membawa resolusi dalam waktu singkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *