Important Visit: Lestari: Keterampilan masyarakat tentukan masa depan bangsa

Lestari: Keterampilan masyarakat tentukan masa depan bangsa

Important Visit – Jakarta, Sabtu – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan bahwa perbaikan keterampilan masyarakat merupakan langkah strategis dalam mengarahkan masa depan bangsa. Saat menghadiri pelatihan tata rias yang diselenggarakan sebagai bagian dari sosialisasi empat pilar kebangsaan di Jepara, Jawa Tengah, ia menyampaikan bahwa keahlian dalam merias wajah memiliki makna yang lebih luas. Keterampilan ini, menurutnya, tidak hanya mengembangkan profesi individu, tetapi juga menguatkan nilai-nilai nasional yang menjadi dasar kehidupan bersama.

Upaya Meningkatkan Keterampilan sebagai Investasi Masa Depan

Menurut Lestari, kegiatan pelatihan seperti ini membantu masyarakat membangun kemampuan praktis yang relevan dengan tantangan era modern. Ia menegaskan bahwa keterampilan merias wajah, yang mungkin terlihat sederhana, sebenarnya mencerminkan prinsip-prinsip utama berbangsa. “Hari ini, kita tidak sekadar belajar merias wajah. Kita sedang merias masa depan kita,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta.

“Bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh orang-orang pintar, tetapi oleh mereka yang bekerja dengan nilai,” kata Lestari.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan mengajarkan lebih dari sekadar teknik membuat riasan. Keterampilan yang dipelajari juga mencakup pengembangan sikap percaya diri, menjaga martabat, serta mempersiapkan peserta untuk mengenali cara membangun ketahanan ekonomi. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, keahlian ini bisa menjadi penggerak utama dalam mengubah kesejahteraan masyarakat.

Empat Pilar Kebangsaan sebagai Panduan Praktis

Menurut Lestari, empat pilar kebangsaan—Pancasila, konstitusi, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—tidak hanya terbatas pada pengetahuan teoritis atau diskusi politik. Prinsip-prinsip ini, menurutnya, harus diintegrasikan ke dalam semua aspek kehidupan, termasuk pelatihan keterampilan. “Kita tidak boleh menganggap keempat pilar ini sebagai sesuatu yang dihafal saja,” terangnya.

Lihat Juga :   TNI AL asah kemampuan personel di bidang proses evakuasi bawah air

Contoh nyata implementasi nilai-nilai ini, kata Lestari, bisa terlihat dalam profesi juru rias. Dalam setiap pelayanan, mereka diwajibkan untuk bekerja dengan niat baik dan jujur, yang mencerminkan prinsip ketuhanan. Selain itu, menghargai keberagaman klien, tanpa membeda-bedakan suku, agama, atau latar belakang sosial, sejalan dengan nilai kemanusiaan dan persatuan. Dengan demikian, pelatihan ini bukan hanya mengasah teknik, tetapi juga membangun kesadaran tentang kebangsaan dalam tindakan sehari-hari.

Pelatihan Sebagai Bentuk Realisasi Hak Warga Negara

Lestari menambahkan bahwa kegiatan pelatihan yang digelar oleh Forum Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Kabupaten Jepara merupakan bentuk implementasi amanat konstitusi. Ia mengatakan negara memiliki kewajiban untuk menjamin hak warga negara mendapatkan pendidikan, kesempatan bekerja, dan kehidupan layak. “Pelatihan ini adalah bagian dari upaya menjawab kebutuhan masyarakat untuk berkembang secara ekonomi dan sosial,” jelasnya.

Dalam konteks perekonomian, keahlian merias wajah bisa menjadi pintu masuk bagi usaha kecil yang menguntungkan. Peserta pelatihan, kata Lestari, tidak hanya memperoleh kemampuan teknis, tetapi juga memahami pentingnya berinovasi dan beradaptasi dalam memenuhi permintaan pasar. Hal ini menunjukkan bagaimana keterampilan yang ditingkatkan dapat menciptakan peluang kerja, meningkatkan kemandirian, dan berkontribusi pada perekonomian lokal.

Keterampilan sebagai Alat Penguatan Partisipasi Masyarakat

Menjelang perayaan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei, Lestari mengatakan peran lembaga seperti LKP mencerminkan upaya memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan. “Pendidikan berkualitas adalah kunci untuk menghasilkan generasi yang mampu berkontribusi secara berkelanjutan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa program pelatihan ini sejalan dengan visi pemerintah membangun masyarakat yang mandiri dan terampil.

Dalam pelatihan tata rias tersebut, peserta diberikan pelatihan dasar yang mencakup teknik merias, manajemen waktu, dan kepatuhan terhadap standar kebersihan. Selain itu, mereka juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang bagaimana keterampilan yang dipelajari dapat menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup. Lestari berharap, melalui kegiatan seperti ini, masyarakat dapat lebih mudah membangun usaha yang bermakna dan bermanfaat bagi sekitarnya.

Lihat Juga :   Meeting Results: Ibas tegaskan kemitraan strategis dan diplomasi parlemen dengan Korsel

Nilai Pancasila dalam Profesi Jururias

Menurut Lestari, prinsip Pancasila dapat diaplikasikan secara nyata dalam profesi juru rias. Ia menjelaskan bahwa nilai ketuhanan dalam Pancasila memastikan bahwa para peserta pelatihan memahami pentingnya etika dan kesadaran akan keberagaman. “Setiap riasan yang dihasilkan harus mencerminkan kejujuran dan keindahan yang dihargai oleh semua kalangan,” tambahnya.

Keterampilan ini juga berperan dalam mendorong keadilan sosial. Dengan menguasai teknik merias, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat menemukan peluang kerja yang sebelumnya mungkin tidak tersedia. Lestari menegaskan bahwa keahlian yang diperoleh harus menjadi sarana untuk membangun kemakmuran bersama, bukan hanya keuntungan pribadi.

Kegiatan pelatihan tata rias di Jepara ini, menurut Lestari, menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan non-formal bisa memberikan dampak yang signifikan. Dengan bimbingan para pelatih yang kompeten, peserta tidak hanya mengasah keterampilan, tetapi juga memperluas wawasan tentang pentingnya kebersamaan dalam membangun bangsa. “Kita perlu memastikan bahwa semua warga negara memiliki akses untuk belajar dan berkembang,” tuturnya.

Di sisi lain, Lestari menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini perlu diakselerasi dalam berbagai bidang. Dengan meningkatkan kemampuan warga, negara bisa mengurangi ketergantungan pada tenaga luar, sekaligus menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. Ia menambahkan, pelatihan keterampilan harus menjadi bagian dari kebijakan nasional yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan sementara.

Sebagai penutup, Lestari mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas hidup. “Keterampilan yang dikuasai sekarang akan menentukan kesejahteraan di masa depan,” pungkasnya. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya menghasilkan juru rias yang handal, tetapi juga menciptakan warga yang lebih berdaya, tangguh, dan berjiwa nasionalis.