Meeting Results: FIS oCFO dan Antara Bahas Masa Depan Keuangan dalam Forum Eksekutif di Jakarta
FIS oCFO dan Antara Bahas Masa Depan Keuangan dalam Forum Eksekutif di Jakarta
Jakarta, 5 Mei 2023
Meeting Results – Acara berjudul “Future-Ready Finance” diselenggarakan oleh FIS oCFO bersama Perum LKBN Antara di Jakarta, membawa peserta dari berbagai lembaga keuangan untuk mendiskusikan tantangan dan peluang dalam transformasi sektor keuangan. Forum ini diadakan secara terbatas dan menghadirkan berbagai narasumber ternama, termasuk perusahaan konsultan internasional Deloitte, perusahaan teknologi MIND ID, serta perusahaan-perusahaan finansial seperti Pegadaian dan Bank Negara Indonesia (BNI). Topik yang dibahas mencakup strategi peningkatan efisiensi pengelolaan keuangan, adaptasi sistem berbasis data, dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam operasional modern.
Kolaborasi Teknologi dan Institusi
Acara ini menekankan pentingnya kerja sama antara lembaga keuangan dan penyedia teknologi untuk mendorong inovasi. Direktur Utama Perum LKBN Antara, Benny Siga Butarbutar, menyatakan bahwa kolaborasi tersebut menjadi elemen kunci dalam menciptakan diskusi yang bermakna dan berkontribusi pada kemajuan industri. “Dengan ekosistem keuangan Indonesia yang terus berkembang, sinergi antara pihak-pihak yang berbeda akan memberikan perspektif baru serta solusi yang lebih holistik,” kata Benny. Ia menambahkan bahwa kemitraan ini bertujuan untuk membangun kekuatan bersama dalam menghadapi perubahan ekonomi yang cepat.
“Seiring berkembangnya ekosistem keuangan Indonesia, kolaborasi menjadi kunci untuk menghasilkan diskusi yang berkualitas dan kemajuan yang nyata,” ujarnya.
Transformasi Treasury yang Strategis
Satu dari tiga tema utama forum adalah peran treasury sebagai bagian yang semakin penting dalam pengelolaan keuangan organisasi. Para peserta menyampaikan bahwa fungsi treasury tidak hanya berfokus pada operasional sehari-hari, tetapi juga harus mampu memprediksi risiko, mengoptimalkan penggunaan dana, dan mendukung keputusan bisnis jangka panjang. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kebutuhan untuk memiliki visibilitas kas secara real-time, yang memungkinkan pemimpin keuangan mengambil tindakan cepat dalam menghadapi fluktuasi pasar.
Tri Thania Lastri, perwakilan dari MIND ID, menekankan bahwa keberhasilan transformasi treasury bergantung pada pemanfaatan platform yang skalabel. “Dengan sistem yang terintegrasi, perusahaan dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan bisnis yang terus berkembang,” katanya. Ia menjelaskan bahwa teknologi digital menjadi alat utama dalam memperkuat kapasitas treasury, terutama di tengah era perubahan yang cepat dan kompleks. Dalam sesi diskusi, beberapa peserta juga membahas pentingnya pengelolaan risiko yang terstruktur, mulai dari manajemen likuiditas hingga aspek keamanan data.
Peran AI dalam Operasional Keuangan
Tema lain yang dipertimbangkan adalah penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam meningkatkan efisiensi dan akurasi operasional keuangan. Para peserta menyebutkan bahwa AI tidak hanya berfungsi sebagai alat otomatisasi, tetapi juga membantu dalam memproyeksikan keuangan dengan lebih tepat, mempercepat pengambilan keputusan, serta mengurangi kesalahan manual. “Teknologi ini memungkinkan analisis data yang lebih mendalam, sehingga perusahaan bisa mengidentifikasi pola yang sebelumnya terlewat,” kata salah satu peserta.
Vice President FIS oCFO, Ian Chan, menyatakan bahwa adopsi AI dan otomatisasi menjadi bagian tak terpisahkan dari pembangunan fondasi keuangan yang kuat. “Dengan AI, tim treasury bisa memperoleh insight yang lebih cepat, serta meningkatkan keakuratan strategi dalam menghadapi dinamika pasar yang selalu berubah,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa penerapan teknologi ini tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga memperluas kemampuan perusahaan dalam mengakses informasi secara real-time, terutama dalam mengelola dana dan risiko dengan lebih efektif.
“Dengan dukungan AI dan otomatisasi, fungsi keuangan dapat memperoleh insight lebih cepat dan meningkatkan ketepatan strategi,” ujarnya.
Insight Global dan Pengalaman Lokal
Dalam sesi yang diisi oleh narasumber dari Deloitte, para peserta mendapat pandangan global tentang tren perubahan keuangan. Perusahaan konsultan ini memaparkan bahwa adopsi teknologi menjadi prioritas utama dalam meningkatkan daya saing sektor keuangan, terutama di tengah kompetisi yang semakin ketat. Selain itu, Pegadaian dan BNI memberikan contoh nyata dari transformasi digital yang telah mereka lakukan. Pegadaian, misalnya, menjelaskan bagaimana pemanfaatan sistem digital meningkatkan aksesibilitas layanan keuangan kepada masyarakat, sementara BNI berbagi pengalaman dalam mengintegrasikan AI ke dalam berbagai proses operasional.
Diskusi juga menyoroti peran AI dalam optimasi manajemen risiko. Para peserta menyatakan bahwa analitik data memungkinkan perusahaan menganalisis berbagai variabel yang memengaruhi kestabilan finansial, seperti volatilitas pasar, fluktuasi kurs, dan perubahan kebijakan regulasi. “Dengan AI, kita bisa mengidentifikasi risiko yang tidak terduga dan mengambil langkah pencegahan lebih awal,” tambah salah satu narasumber. Selain itu, narasumber dari MIND ID menyoroti bahwa penggunaan teknologi juga meningkatkan transparansi, sehingga mendorong kepercayaan stakeholders terhadap keuangan perusahaan.
Kemitraan yang Menjadi Pendorong Perubahan
Forum ini menjadi bagian dari upaya kemitraan antara FIS oCFO dan Antara dalam mendorong transformasi sektor keuangan di Indonesia. Dengan kolaborasi ini, keuangan nasional diharapkan bisa lebih adaptif dan mampu menjawab tantangan masa depan. “Kemitraan ini menciptakan ruang diskusi yang dinamis, serta membantu pihak-pihak terkait dalam merancang strategi berbasis teknologi,” kata Benny Siga Butarbutar. Ia menegaskan bahwa kolaborasi tersebut juga memberikan wawasan untuk mengeksplorasi inovasi yang lebih berkelanjutan.
Acara yang dihadiri oleh sekitar 150 peserta ini menampilkan berbagai studi kasus dan rekomendasi praktis. Misalnya, Deloitte menyampaikan bahwa pendekatan data-driven dapat meningkatkan kinerja treasury hingga 30% jika diterapkan secara optimal. Sementara itu, BNI dan Pegadaian memberikan rekomendasi tentang cara mengintegrasikan AI ke dalam sistem keuangan tradisional. Dari sini, peserta diharapkan bisa mengambil pelajaran untuk mempercepat modernisasi operasional keuangan di perusahaan masing-masing.
Kegiatan ini diakhiri dengan kesepakatan untuk mengembangkan kerja sama lebih lanjut, termasuk pengadaan sumber daya digital, pelatihan untuk pemimpin keuangan, serta pembentukan komunitas diskusi berkelanjutan. Benny Siga Butarbutar menegaskan bahwa pendekatan ini akan membuka jalan untuk meningkatkan kapasitas sektor keuangan dalam menghadapi ekonomi digital. “Kami berkomitmen untuk terus menginspirasi transformasi ini melalui kemitraan yang solid dan solusi inovatif,” tutupnya.