TNI AL asah kemampuan personel di bidang proses evakuasi bawah air

TNI AL Asah Kemampuan Personel di Bidang Proses Evakuasi Bawah Air

TNI AL asah kemampuan personel di bidang – Jakarta – TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut) terus meningkatkan kompetensi para prajuritnya dalam operasi penyelamatan di bawah air. Tujuan utama dari latihan ini adalah memastikan anggota TNI AL siap menghadapi tugas evakuasi korban kecelakaan di perairan, baik dalam kondisi darurat maupun normal. Dalam upaya menajamkan kemampuan tersebut, TNI AL mengirimkan pasukan untuk mengikuti latihan internasional Kurtaran Exercise-26 yang diadakan di Aksaz Naval Base, Turki, beberapa hari yang lalu.

Latihan Kurtaran Exercise-26 dianggap sebagai platform penting untuk memperkuat keahlian dalam penyelamatan bawah air, khususnya dalam menangani kecelakaan kapal selam. Sebagai bagian dari pengembangan kapasitas operasional, TNI AL menekankan pentingnya penguasaan teknologi modern serta koordinasi antarunit yang terlibat dalam proses evakuasi. Kadispenal TNI AL, Laksamana Pertama TNI Tunggul, menjelaskan bahwa keikutsertaan personel Indonesia dalam latihan ini bertujuan untuk mengamati dan belajar dari praktik yang dilakukan negara-negara peserta lain.

Delegasi Indonesia Dibentuk dengan Kepala Dinas Penerangan

Dalam siaran pers resmi yang disiarkan di Jakarta, Selasa, Tunggul mengatakan bahwa delegasi Indonesia diwakili oleh dua perwira menengah. “Kedua perwira tersebut bertugas sebagai pengamat selama latihan berlangsung,” ujarnya. Dua nama yang disebutkan adalah Kolonel Laut (P) Ferry Kurniawan dari Koarmada III dan Letkol Laut (P) Hadhito Prayoga dari Koarmada II. Kedua personel ini diharapkan dapat mengambil ilmu tentang teknik penyelamatan yang lebih canggih, serta memperkaya pengalaman mereka dalam operasi bersama.

“Delegasi Indonesia diwakili oleh dua perwira menengah selaku observer yakni Kolonel Laut (P) Ferry Kurniawan dari Koarmada III serta Letkol Laut (P) Hadhito Prayoga dari Koarmada II,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul saat dikonfirmasi di Jakarta.

Menurut Tunggul, latihan Kurtaran Exercise-26 terdiri dari beberapa sesi yang saling melengkapi. Dua bagian utama latihan tersebut adalah Search Exercise (Searchex) dan Submarine Rescue Exercise (Submarin Rescue Exercise). Dalam Search Exercise, para prajurit fokus pada penggunaan alat-alat deteksi seperti sonar dan multibeam echosounder. “Latihan Search Exercise menekankan pengoperasian sonar dan multibeam echosounder untuk menemukan posisi kapal selam yang mengalami kecelakaan di bawah laut,” jelas Tunggul.

Lihat Juga :   Main Agenda: Seskab dan Menaker diskusi tambah kuota magang nasional 2026--2027

Sementara itu, Submarine Rescue Exercise menggambarkan proses evakuasi kapal beserta para korban secara langsung. Tunggul menyebutkan bahwa bagian ini melibatkan simulasi evakuasi yang realistis, termasuk penggunaan alat bantu khusus untuk menyelamatkan personel dan penumpang kapal selam. “Latihan ini mencakup langkah-langkah operasional yang diperlukan untuk menyelamatkan korban kecelakaan di kedalaman laut, seperti pengaturan alat pemerintah, komunikasi antarunit, dan penanganan medis di bawah air,” lanjutnya.

Latihan Kurtaran Exercise-26 tidak hanya menarik partisipasi dari TNI AL, tetapi juga melibatkan angkatan laut beberapa negara sahabat. Negara-negara yang turut serta dalam latihan ini antara lain Italia, Korea Selatan, Malaysia, dan Uni Emirat Arab. Keikutsertaan mereka diharapkan dapat memperkuat kerja sama internasional dalam bidang operasi penyelamatan bawah air, sekaligus menjalin hubungan bilateral yang lebih erat.

“Latihan ini juga menjadi ajang untuk mempererat hubungan bilateral antar negara-negara sahabat,” ujar Tunggul. “Dengan adanya latihan ini, kemampuan para personel TNI AL semakin terasah sehingga siap diterjunkan dalam setiap misi evakuasi kapal selam.”

Sebagai bagian dari latihan, TNI AL juga memanfaatkan kesempatan ini untuk menguji dan memperbaiki sistem komunikasi serta logistik yang diperlukan dalam operasi penyelamatan. Tunggul menyatakan bahwa TNI AL berharap latihan ini dapat memberikan pemahaman lebih dalam tentang teknik evakuasi modern, termasuk penggunaan peralatan khusus seperti kapal penyelamatan bawah air dan sistem penolong di bawah laut. “Kemampuan yang diasah dalam latihan ini akan berguna bagi TNI AL dalam merespons situasi darurat di perairan Indonesia,” imbuhnya.

Kelompok peserta latihan Kurtaran Exercise-26 terdiri dari berbagai negara dengan keahlian unik di bidang penyelamatan bawah air. Italia, misalnya, dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki pengalaman luas dalam operasi penyelamatan kapal selam, sementara Korea Selatan menawarkan teknologi canggih dalam penelitian dan penerapan sistem evakuasi. Malaysia dan Uni Emirat Arab juga memberikan kontribusi signifikan melalui pengalaman mereka dalam operasi darat dan laut.

Lihat Juga :   Key Strategy: Anggota DPR minta reklamasi Pulau Serangan dihentikan sementara

Dalam penjelasan Tunggul, latihan ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan antar negara. “Masing-masing negara memiliki keunggulan yang berbeda, sehingga kerja sama selama latihan ini bisa menjadi referensi bagi pengembangan kemampuan TNI AL,” tambahnya. Selain itu, Tunggul menekankan bahwa keikutsertaan dalam latihan internasional membantu TNI AL mengikuti perkembangan teknologi dan strategi terkini dalam bidang evakuasi bawah air.

Latihan Kurtaran Exercise-26 berlangsung selama beberapa hari, dan kegiatan tersebut mencakup simulasi kecelakaan kapal selam dalam kondisi berbagai skenario. Sesi-sesi latihan tersebut dirancang untuk menguji reaksi para personel, kecepatan dalam mengambil langkah penyelamatan, dan efektivitas komunikasi di lingkungan laut yang berubah dinamis. “Kita menguji berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di laut, seperti arus deras, kedalaman tinggi, atau kondisi cuaca ekstrem,” jelas Tunggul.

TNI AL juga menyiapkan beberapa peralatan pendukung untuk latihan ini, termasuk kapal penyelamatan, robotika bawah air, serta sistem deteksi modern. Penggunaan alat-alat ini bertujuan untuk menyesuaikan kemampuan personel dengan standar internasional. “Dengan berpartisipasi dalam latihan ini, TNI AL bisa memperkaya ekosistem latihan di dalam negeri,” kata Tunggul. Ia menambahkan bahwa hasil dari latihan ini akan dianalisis dan disesuaikan dengan kebutuhan operasional Indonesia.

Latihan Kurtaran Exercise-26 di Turki bukan hanya sebuah kegiatan pembelajaran, tetapi juga merupakan langkah strategis dalam membangun kemampuan penyelamatan yang lebih komprehensif. Dengan adanya latihan ini, TNI AL berharap dapat meningkatkan kemampuan operasionalnya dalam menangani kecelakaan kapal selam, yang merupakan bagian penting dari misi penjagaan keamanan laut nasional. Tunggul menilai bahwa latihan ini menjadi investasi penting untuk menghadapi tantangan di masa depan, termasuk potensi kecelakaan kapal selam di perairan strategis Indonesia.

Lihat Juga :   Kopaska latih prajurit tangani bahan peledak dan sandera pesawat

Kelancaran latihan ini juga menunjukkan komitmen TNI AL dalam meningkatkan keterlibatan internasional. Dengan menjadi bagian dari forum penyelamatan bawah air, TNI AL dapat memperluas jaringan kerja sama dengan negara-negara tetangga dan mitra strategis. “Ini adalah bentuk ekspresi dukungan TNI AL terhadap keamanan global di perairan laut,” pungkas Tunggul. Harapan tersebut sejalan dengan visi TNI AL untuk menjadi salah satu