Special Plan: Peneliti nilai kontraksi listrik tak ganggu manufaktur
Peneliti Nilai Kontraksi Listrik Tak Ganggu Manufaktur
Special Plan – Jakarta – Adhamaski Pangeran dari Great Institute, seorang peneliti ekonomi, menilai bahwa kontraksi sektor listrik, gas, dan air selama kuartal pertama 2026 sebesar 0,99 persen (yoy) tidak menghalangi pertumbuhan industri manufaktur yang mencapai 5,04 persen. Meski ada beberapa hal yang memengaruhi penurunan aktivitas di sektor energi, peneliti tersebut menegaskan bahwa hal itu tidak secara langsung menyebabkan perlambatan dalam sektor manufaktur.
Faktor Musiman dan Diskon Tarif
Dalam pernyataannya, Adhamaski menyebutkan bahwa ada berbagai faktor yang mendorong kontraksi pada sektor listrik, gas, dan air. Di antaranya adalah penurunan kegiatan bisnis selama libur Idul Fitri, yang membuat konsumsi listrik cenderung berkurang. Selain itu, berakhirnya program diskon tarif listrik juga berdampak pada permintaan energi, terutama di tengah musim liburan. Namun, peneliti menekankan bahwa kontraksi ini bersifat musiman dan tidak mengganggu pertumbuhan manufaktur.
“Konsumsi listrik memang secara historis cenderung menurun pada periode Idul Fitri karena aktivitas komersial dan perkantoran terhenti sementara selama libur hari raya. Sebagai contoh, pada kuartal II-2025, saat Lebaran, sektor tersebut juga mengalami penurunan. Ini adalah fenomena tahunan yang tidak mengubah dinamika pertumbuhan manufaktur secara signifikan,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Konteks Global dan Kebijakan Pemerintah
Adhamaski menambahkan bahwa tekanan eksternal seperti turbulensi geopolitik di Timur Tengah juga memengaruhi pasokan gas. Dalam kondisi ini, pemerintah cenderung menekankan kebutuhan gas untuk rumah tangga, sedangkan sektor usaha harus beradaptasi dengan kuota yang lebih terbatas. Hal ini menyebabkan penurunan produksi di industri energi-intensif, seperti keramik, kaca, dan semen, karena ketersediaan gas bumi domestik serta penyesuaian kuota industri semakin sempit.
Meski begitu, dampaknya terhadap industri manufaktur nasional dinilai tidak terlalu besar. Peneliti menjelaskan bahwa tidak semua subsektor manufaktur bergantung sepenuhnya pada pasokan gas. Sebagian besar industri, terutama yang berbasis teknologi atau bahan baku lain, memiliki sumber energi alternatif atau beroperasi dengan efisiensi yang cukup untuk mengatasi kenaikan biaya.
Normalisasi Permintaan Listrik
Kontraksi sektor listrik di awal 2026 juga dipengaruhi oleh normalisasi konsumsi setelah stimulus diskon tarif listrik pada kuartal I-2025 berakhir. Pada masa sebelumnya, kebijakan tersebut mendorong peningkatan penggunaan listrik oleh masyarakat, sehingga permintaan energi mencapai tingkat tertinggi. Ketika program diskon dihentikan, permintaan kembali ke kondisi standar, yang secara statistik dianggap sebagai kontraksi.
“Kebijakan diskon listrik di triwulan I-2025 menjadi faktor penyemangat bagi konsumsi energi. Setelahnya, pada triwulan I-2026, penggunaan listrik kembali ke level normal. Ini bukan indikasi perlambatan, tetapi bagian dari siklus permintaan yang wajar,” jelasnya.
Perbedaan Konsep dalam Struktur PDB
Adhamaski menyoroti perbedaan konseptual antara data sektor listrik dan manufaktur dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB). Ia menjelaskan bahwa nilai tambah sektor listrik, gas, dan air dihitung berdasarkan margin produsen, yaitu selisih antara output dan biaya produksi PLN maupun Independent Power Producer (IPP). Artinya, penurunan nilai tambah sektor listrik tidak selalu mencerminkan pengurangan volume fisik energi yang disalurkan.
Peneliti menambahkan bahwa kenaikan biaya produksi listrik, harga energi, serta beban subsidi bisa memengaruhi nilai tambah sektor tersebut. Meski ada kontraksi dalam data tersebut, dampaknya pada industri manufaktur tidak selalu linier karena sektor energi tidak menjadi faktor utama bagi semua subsektor.
Peran Captive Power dalam Industri
Great Institute juga menyoroti peran “captive power” dalam sistem industri nasional, khususnya pada industri berbasis “smelter”. Contohnya, smelter nikel merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan manufaktur saat ini dan sebagian besar menggunakan pembangkit listrik mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan manufaktur tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan listrik dari PLN atau IPP.
Dengan adanya “captive power”, industri bisa menyesuaikan kebutuhan energi sesuai kondisi operasional, sehingga tidak terganggu sepenuhnya oleh fluktuasi permintaan di sektor energi. Adhamaski menegaskan bahwa hubungan antara kontraksi sektor listrik dan pertumbuhan manufaktur perlu dilihat secara holistik, bukan hanya dari satu sisi.
Dalam keseluruhan analisisnya, peneliti menegaskan bahwa kontraksi sektor listrik dan gas pada kuartal I 2026 tidak mengurangi momentum pertumbuhan manufaktur. Faktor-faktor seperti kegiatan musiman, tekanan eksternal, serta kebijakan pemerintah semuanya berkontribusi terhadap dinamika ini, tetapi tidak mengubah kinerja industri. Adhamaski berharap data tersebut bisa dianalisis lebih dalam untuk memahami pergeseran kebutuhan energi dalam struktur ekonomi nasional.