Main Agenda: Agam usulkan peroleh ekskavator ke Kementan bersihkan sisa longsor
Agam Usulkan Peroleh Ekskavator untuk Bersihkan Sisa Longsor
Main Agenda – Lubuk Basung, Sumatera Barat – Pemerintah Daerah Agam terus berupaya memulihkan kondisi pertanian yang terganggu akibat banjir bandang. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah mengajukan usulan penerimaan 20 unit ekskavator kepada Kementerian Pertanian. Alat berat tersebut diharapkan dapat membantu membersihkan material longsor yang menimbun lahan pertanian, khususnya sawah milik petani di wilayah tersebut.
Pemulihan Lahan Sawah dengan Bantuan Teknologi
Bupati Agam Benni Warlis mengungkapkan bahwa usulan untuk memperoleh ekskavator diajukan beberapa hari lalu dalam pertemuan dengan pihak Kementerian Pertanian. Menurutnya, alat berat ini diperuntukkan bagi seluruh kecamatan di Agam, dengan rincian empat unit dialokasikan khusus untuk Kecamatan Tanjung Raya. “Kita sangat membutuhkan bantuan ini untuk mengangkat material yang menimbun sawah, karena volume yang terlalu besar tidak dapat diatasi secara manual,” jelas Benni.
“Pemulihan sektor pertanian memerlukan alat berat yang efisien, karena material longsor yang menumpuk di sawah bisa menghambat produksi dan memperparah kerusakan lahan,” tambah Benni Warlis.
Dalam usulan tersebut, pihaknya juga menyertakan daftar proyek rehabilitasi infrastruktur pertanian. Total kebutuhan mencakup perbaikan dan optimalisasi lahan sawah seluas 200 hektare, rehabilitasi jaringan irigasi sebanyak 150 unit, serta pembangunan embung, dam parit, dan sistem irigasi perpipaan. Selain itu, ada juga rencana pembangunan jaringan irigasi perpompaan dan perpipaan, serta perbaikan infrastruktur usaha tani untuk memastikan kelancaran proses pertanian pasca bencana.
Progress dalam Tahap Pertama Program Pemulihan
Kementerian Pertanian, melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi, telah mengalokasikan dana sebesar Rp29,08 miliar pada tahun 2026 untuk mendukung proyek pemulihan di Agam. Benni menyatakan bahwa progres dari tahap pertama program ini sangat memuaskan, dengan pencapaian rehabilitasi lahan sawah seluas 311 hektare dan perbaikan infrastruktur optimalisasi lahan sebanyak 294 hektare. “Dana tersebut menjadi fondasi penting untuk mempercepat perbaikan,” ujarnya.
Dalam tahap pertama, proyek meliputi pengerjaan 35 unit dam parit, 53 unit irigasi perpompaan, 27 unit irigasi perpipaan, serta pemeliharaan jaringan irigasi tersier sebanyak 21 unit. Tidak hanya itu, kebutuhan akan alat pertanian seperti hand traktor, hidrotyler, cultivator, corn sheller, tresher, dan hand sprayer juga termasuk dalam rencana ini.
Kebutuhan Pemulihan Lahan Sawah
Bupati Benni Warlis menekankan bahwa pemulihan lahan sawah tidak bisa dilakukan secara parsial. “Kita membutuhkan rehabilitasi lahan seluas 200 hektare, serta optimisasi lahan pertanian non-rawa sebanyak 1.000 hektare untuk menjamin ketersediaan lahan yang layak digunakan,” katanya. Ia menambahkan, proyek perbaikan infrastruktur juga mencakup rehabilitasi jalan usaha tani sebanyak dua unit, yang diperlukan untuk meningkatkan akses petani ke area pertanian.
“Kementerian Pertanian telah mengalokasikan anggaran yang cukup signifikan, dan kita berharap dukungan ini dapat mempercepat proses pemulihan,” tutur Benni.
Pemulihan infrastruktur menjadi kunci dalam mengembalikan produktivitas pertanian daerah itu. Kebocoran dan gangguan pada sistem irigasi, misalnya, berpotensi mengurangi hasil panen dan mengganggu keberlanjutan pertanian. Dengan adanya ekskavator, pihaknya yakin material longsor yang menumpuk di sawah dapat diangkut lebih cepat, sehingga lahan bisa segera dipakai kembali.
Manfaat Bantuan untuk Petani dan Masyarakat
Penggunaan ekskavator dan proyek rehabilitasi lainnya diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang. “Bantuan ini tidak hanya membersihkan lahan, tetapi juga mengembalikan optimisme petani dalam menghadapi masa pemulihan,” kata Benni. Ia menegaskan bahwa keseriusan pemerintah dalam menangani dampak banjir bandang adalah bentuk komitmen terhadap keberlanjutan sektor pertanian.
Persiapan bantuan alat berat dianggap sangat vital karena material longsor yang menimbun sawah bisa mengakibatkan kehilangan produktivitas dan kerusakan struktur tanah. Benni menekankan bahwa tanpa alat seperti ekskavator, upaya pembersihan akan memakan waktu lama dan membutuhkan tenaga yang besar. “Maka, peran Kementerian Pertanian dalam memberikan bantuan teknis sangat berarti bagi keberhasilan pemulihan,” jelasnya.
Target Pemulihan Infrastruktur di Tahun 2026
Kebutuhan pemulihan lahan sawah yang terdampak banjir bandang akan terus ditingkatkan. Proyek tahap dua mencakup optimalisasi lahan seluas 93 hektare, serta rehabilitasi jalan usaha tani dua unit. Selain itu, ada rencana untuk memperluas optimalisasi lahan non-rawa hingga 1.000 hektare, yang merupakan bagian dari upaya memperluas cakupan pertanian yang tidak terganggu oleh bencana.
Bupati Agam Benni Warlis mengatakan bahwa proyek ini membawa harapan baru bagi masyarakat yang terdampak. “Dengan bantuan yang diberikan, kita yakin proses pemulihan akan lebih cepat dan efektif,” tambahnya. Ia juga menyoroti pentingnya perbaikan jaringan irigasi tersier, karena sistem tersebut menjadi fondasi penyaluran air yang menghubungkan lahan pertanian dengan sumber air utama.
Proyek pembangunan infrastruktur pertanian akan memperkuat kapasitas petani menghadapi musim hujan dan kemungkinan bencana lain. Benni menyatakan bahwa anggaran yang dialokasikan memungkinkan pengembangan berbagai jenis alat dan infrastruktur, sehingga kerusakan yang terjadi tidak hanya dipulihkan, tetapi juga dihindari di masa mendatang. “Kami berharap bantuan ini mampu menjaga keberlanjutan pertanian Agam, yang merupakan tulang punggung perekonomian daerah ini,” tut