Historic Moment: Abadikan perjalanan di Yerusalem, pewarta foto ANTARA gelar pameran tunggal berjudul Urysalim

Mengabadikan Jejak Perjalanan di Yerusalem: Pameran Foto Tunggal ANTARA Muhammad Adimaja dengan Judul Urysalim

Historic Moment – Pada hari Jumat, 22 Mei 2026, pengunjung berdatangan ke ANTARA Heritage Center di Jakarta untuk menyaksikan karya-karya fotografi yang dipamerkan dalam acara Urysalim. Pameran ini menjadi ajang menampilkan kreativitas pewarta foto ANTARA, Muhammad Adimaja, yang menggambarkan perjalanan spiritual dan sejarah kota suci Yerusalem melalui 100 foto eksklusif. Acara ini tidak hanya sebagai bentuk penghargaan terhadap karya Adimaja, tetapi juga sebagai wujud komitmen ANTARA dalam memperkaya dunia fotografi nasional melalui kisah-kisah yang terkait dengan wilayah bersejarah ini.

Urysalim adalah karya yang memadukan seni fotografi dengan narasi historis dan budaya, menciptakan pengalaman visual yang mendalam bagi para pengunjung. Muhammad Adimaja, sebagai fotografer yang telah lama merangkai kisah-kisah dari lokasi-lokasi strategis, menjelaskan bahwa eksplorasi Yerusalem menjadi inspirasi utama bagi proyek ini. “Saya ingin mengungkapkan keunikan Yerusalem melalui lensa, bukan hanya sebagai kota yang bersejarah, tetapi sebagai tempat pertemuan budaya dan agama,” katanya. Pameran ini berlangsung hingga 29 Mei 2026, memberi kesempatan bagi publik untuk menyelami berbagai sudut pandang dari kota yang dikenal sebagai pusat peradaban manusia.

Dalam rangkaian acara pembukaan, Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Al-Sattari, turut hadir dan menandatangani poster untuk Urysalim. Turut serta dalam prosesi ini adalah kurator acara, Oscar Motuloh, dan pemilik karya, Muhammad Adimaja. Tindakan tersebut dilakukan di hadapan pengunjung dan tim organisasi, menunjukkan dukungan diplomatik serta kebudayaan terhadap upaya menyampaikan keindahan Yerusalem melalui seni visual. “Kota ini memiliki makna universal yang patut dihargai, dan fotografi menjadi sarana yang tepat untuk menyampaikannya,” tutur Al-Sattari dalam wawancara singkat.

Lihat Juga :   What Happened: Pelita Jaya tekuk Rans Simba 87-58

Karya-karya dalam Urysalim dibagi ke dalam beberapa seri, mulai dari momen sehari-hari di jalanan Yerusalem hingga simbol-simbol agama yang terkait dengan lokasi tersebut. Foto-foto ini menggambarkan keseimbangan antara kehidupan modern dan tradisi yang terus bertahan di tengah kota yang penuh dengan sejarah. Adimaja mengatakan bahwa pameran ini juga merupakan bentuk pengejaran visi kreatifnya untuk menginspirasi generasi muda terhadap nilai-nilai kebersamaan dan keragaman.

ANTARA Heritage Center, sebagai pusat konservasi budaya dan seni, menjadi tempat ideal untuk menghadirkan karya ini. Pameran ini tidak hanya menampilkan foto-foto berkualitas tinggi, tetapi juga menyertakan peluncuran buku fotografi dengan judul sama. Buku ini dilengkapi dengan narasi mendalam, latar belakang teknis, serta refleksi Adimaja mengenai perjalanan fotografinya. “Setiap foto adalah cerita yang belum terungkap, dan buku ini menjadi media untuk mengembangkan kesan tersebut,” jelasnya.

Di antara serangkaian karya, beberapa foto menyoroti kehidupan sehari-hari warga Yerusalem, sementara yang lain menggambarkan keajaiban arsitektur dan keindahan alam kota. Adimaja mengakui bahwa proses dokumentasi membutuhkan kesabaran dan kepekaan tinggi, terutama dalam menghadapi dinamika lingkungan yang terus berubah. “Saya selalu mencoba merangkai emosi pengunjung melalui setiap bidikan, sehingga mereka bisa merasakan jiwa Yerusalem dalam detail yang menggambarkan nyata,” ujarnya.

Peluncuran buku fotografi ini menjadi bagian integral dari pameran, yang dirancang untuk menyajikan kisah-kisah di balik setiap bidikan. Dalam buku tersebut, pembaca akan menemukan catatan jurnal tentang kunjungan Adimaja ke Yerusalem, serta analisis tentang bagaimana kota ini menjadi simbol keberagaman dan persatuan dunia. Oscar Motuloh, sebagai kurator, mengatakan bahwa pameran ini memiliki nilai pendidikan tinggi, karena mengajak penonton untuk melihat kota yang sering diperdebatkan melalui perspektif seni dan budaya.

Lihat Juga :   New Policy: Reog Ponorogo ramaikan HBKB Bogor

Para pengunjung antusias menyambut acara ini, dengan banyak dari mereka menghabiskan waktu untuk mengeksplorasi detail karya-karya yang dipamerkan. Beberapa pengunjung mengatakan bahwa pameran ini memberikan pemahaman baru tentang Yerusalem, terutama terkait peran kota ini dalam sejarah dunia. “Saya belum pernah mengunjungi Yerusalem, tetapi melalui foto-foto ini, saya merasa seperti berada di sana,” ungkap seorang pengunjung.

Dalam proses menciptakan karya-karya ini, Adimaja menggambarkan Yerusalem bukan hanya sebagai tempat yang dikenang dalam buku-buku sejarah, tetapi juga sebagai ruang yang hidup dan dinamis. “Kota ini memiliki berbagai lapisan, dan saya berusaha mengungkapkan itu dalam setiap bidikan,” katanya. Dengan menggunakan teknik kamera yang berbeda, dari pengambilan gambar langsung hingga editing digital, Adimaja berhasil menyajikan narasi yang komprehensif tentang Yerusalem.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ANTARA, pameran ini juga dilengkapi dengan diskusi dan sesi interaktif, di mana para pengunjung bisa berbagi pengalaman atau pengetahuan mereka tentang kota tersebut. Al-Sattari menekankan bahwa pameran ini menjadi bentuk diplomasi budaya yang berbasiskan seni. “Fotografi adalah bahasa universal, dan melalui karya ini, kita bisa membangun kesadaran bersama tentang pentingnya melindungi warisan budaya,” katanya dalam wawancara.

Peluncuran buku fotografi Urysal