Karhutla Meluas Saat El Nino Menguat, Faktor Manusia Jadi Sorotan
Pondokkebaikan.com – Indonesia menghadapi peningkatan serius kebakaran hutan dan lahan sepanjang tujuh bulan pertama 2026. Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan mencatat area terdampak mencapai 202.004,30 hektare pada Januari hingga Juli. Angka itu naik 69 persen dibandingkan rentang waktu yang sama pada tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah penguatan El Nino, fenomena iklim yang kerap membawa kondisi lebih kering di sejumlah wilayah. Namun, ilmuwan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yuli Hastin, menekankan bahwa penjelasan atas karhutla tidak cukup jika hanya berhenti pada El Nino.
Cuaca ekstrem memang menciptakan kondisi yang lebih rentan terhadap api, terutama ketika kelembapan menurun dan musim kering berlangsung lebih berat. Akan tetapi, kondisi lahan, pembukaan kawasan, serta aktivitas industri ekstraktif juga perlu dilihat sebagai bagian dari persoalan yang memperbesar risiko di tingkat lokal.
El Nino Sangat Kuat dan Perubahan Pola Iklim
Dalam Kelas Iklim bertajuk “El Nino 101: Kenapa Kebakaran Hutan dan Lahan Begitu Besar Tahun Ini?” yang diselenggarakan 350 Indonesia secara daring pada Jumat, 11 September, Erma memaparkan perkembangan indikator El Nino terkini. Pengamatan satelit menunjukkan indeks Nino 3,4 telah melewati level 2,5, yang menandakan fase El Nino sangat kuat.
Penguatan fenomena ini juga tergambar dalam pembaruan Climate Prediction Center (CPC) milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada 10 September 2026. El Nino disebut sedang meningkat intensitasnya dan memiliki peluang lebih dari 90 persen untuk mencapai kategori sangat kuat pada musim gugur serta musim dingin Belahan Bumi Utara 2026–2027.
NOAA mencatat anomali temperatur permukaan laut pada Agustus sebesar 1,8 derajat Celsius di kawasan Niño-3.4. Di wilayah Niño-3, anomali mencapai 2,5 derajat Celsius. Perubahan suhu laut di Pasifik ini memiliki pengaruh luas terhadap sirkulasi atmosfer dan pola hujan di berbagai belahan dunia.
Erma menjelaskan bahwa El Nino masa kini tidak selalu bergerak mengikuti gambaran siklus alami yang sederhana. Emisi gas rumah kaca dan perubahan iklim telah mengusik keseimbangan di Samudra Pasifik. Situasi tersebut dapat membuat kejadian El Nino lebih kerap muncul dan berpotensi lebih kuat dibandingkan proyeksi klimatologi konvensional.
“El Nino memberikan dampak skala global yang mengubah pola iklim, tetapi aktivitas manusia turut memperparah dampaknya secara lokal,” ujar Erma.
Api Tidak Hanya Berkaitan dengan Cuaca
Skala karhutla yang luas perlu dibaca melalui lebih dari satu lapisan persoalan. El Nino dapat memperpanjang kekeringan atau mengurangi curah hujan di wilayah tertentu, tetapi api juga membutuhkan kondisi lapangan yang memungkinkan kebakaran muncul, menyebar, dan sulit dipadamkan. Karena itu, karakter lahan dan penggunaan kawasan di lokasi terdampak menjadi unsur penting dalam memahami kejadian tersebut.
SiPongi memperlihatkan kebakaran terjadi di berbagai daerah dengan bentuk pemanfaatan lahan yang beragam. Gambaran ini memperkuat kebutuhan untuk menilai kondisi ekosistem, pola aktivitas di sekitarnya, dan tata kelola kawasan secara bersamaan. Cuaca kering dapat menjadi pemicu yang memperbesar kerentanan, sedangkan tindakan manusia dapat memperburuk konsekuensinya.
Erma menyampaikan bahwa pengaruh setiap faktor sebenarnya dapat ditelaah melalui analisis pembobotan dampak. Pendekatan itu diperlukan agar perdebatan mengenai penyebab kebakaran tidak berakhir pada klaim sepihak. Pemahaman yang lebih terukur penting untuk menentukan bentuk pencegahan yang sesuai, baik dalam menghadapi ancaman iklim maupun dalam mengendalikan praktik penggunaan lahan berisiko tinggi.
Dalam sesi tanya jawab, isu pembukaan lahan dengan kearifan lokal dan cuaca ekstrem turut dibahas. Erma kembali menggarisbawahi perbedaan skala dampak kedua hal tersebut: El Nino bekerja pada sistem iklim global, sementara pembukaan lahan dan kegiatan ekstraktif dapat memperparah dampak yang dirasakan di daerah.
Ribuan Titik Panas dan Masalah Tata Kelola
Pemantauan Forest Watch Indonesia (FWI) menggunakan satelit MODIS Terra/Aqua mendeteksi 8.918 titik panas di Indonesia hingga Agustus 2026. Titik panas tidak serta-merta menggambarkan seluruh area yang terbakar, tetapi data ini menjadi penanda penting untuk melihat lokasi yang memerlukan perhatian dan pemeriksaan lebih lanjut.
Data tersebut dipakai koalisi #ResetKehutanan untuk menyoroti isu pengelolaan hutan dan pemanfaatan ruang. Koalisi yang beranggotakan lebih dari 30 organisasi masyarakat sipil, termasuk Transparency International Indonesia, menilai kebakaran tahun ini tidak bisa diperlakukan semata-mata sebagai akibat fenomena alam. Tata kelola kehutanan dan perizinan penggunaan lahan juga menjadi bagian dari perhatian mereka.
Persoalan ini memiliki dampak yang langsung terasa bagi masyarakat. Karhutla dapat menurunkan kualitas udara, mengganggu kegiatan harian, dan menambah tekanan terhadap hutan maupun lahan yang telah rentan. Saat kondisi kering meningkat, pencegahan menjadi jauh lebih penting karena kebakaran yang telah meluas membutuhkan penanganan lebih besar dan lebih rumit.
Karena itu, respons terhadap musim kering tidak cukup hanya mengandalkan pemantauan cuaca. Pengawasan titik rawan, perlindungan kawasan yang mudah terbakar, serta evaluasi atas aktivitas pemanfaatan lahan perlu berjalan beriringan. Data iklim dapat membantu memperkirakan periode risiko, sementara tata kelola yang baik menentukan seberapa jauh risiko tersebut dapat dicegah menjadi bencana luas.
Ancaman Fase Iklim Berikutnya
Di akhir pemaparannya, Erma menilai Indonesia masih belum berhasil memitigasi dampak El Nino hingga kebakaran meluas secara masif. Penilaian ini menjadi pengingat bahwa kesiapan menghadapi cuaca ekstrem harus diperkuat sebelum kondisi mencapai titik kritis.
Ia juga memperkirakan El Nino kuat yang sedang berlangsung dapat disusul oleh La Nina kuat sebagai bagian dari mekanisme keseimbangan alam berikutnya. Perubahan fase iklim tersebut membawa tantangan berbeda. Jika El Nino identik dengan risiko kekeringan yang meningkat, perubahan pola hujan pada fase berikutnya juga memerlukan kesiapan tersendiri.
Lonjakan karhutla hingga lebih dari 202 ribu hektare menunjukkan bahwa krisis kebakaran tidak dapat dijelaskan dengan satu penyebab. El Nino menjadi konteks iklim yang besar, tetapi pilihan manusia dalam mengelola hutan dan lahan tetap menentukan berat-ringannya dampak yang muncul di lapangan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Karhutla Indonesia Tembus 202 Ribu Hektare?
Karhutla Indonesia Tembus 202 Ribu Hektare is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Karhutla Indonesia Tembus 202 Ribu Hektare matter?
Karhutla Indonesia Tembus 202 Ribu Hektare matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.



