Peneliti UGM Tamatkan Misteri Rumah Api di Sleman: Bukan Dipicu Gas Alam atau Medan Elektromagnetik

Share: X Facebook
72546-koordinator-tim-pkpe-ft-ugm-alva-edy-tontowi

Peneliti UGM Tamatkan Misteri Rumah Api di Sleman: Bukan Dipicu Gas Alam atau Medan Elektromagnetik

Peneliti UGM Tamatkan Misteri Rumah Api – Tim dari Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) telah menyelesaikan penyelidikan atas fenomena kebakaran misterius di Seyegan, Sleman, yang terjadi pada 13 Juni 2026. Hasil riset menunjukkan tidak ada bukti kuat bahwa api muncul akibat kondisi lingkungan alami, seperti rembesan gas bumi atau medan elektromagnetik ekstrem.

Kesimpulan Utama: Resin Plastik Jadi Penyebab Utama

Penelitian menyimpulkan bahwa faktor penyebab utama api yang meledak di dalam bangunan adalah keberadaan bahan kimia spesifik, yaitu resin plastik Polyvinyl Chloride (PVC). Bahan ini ditemukan dalam sisa-sisa material yang terbakar, menunjukkan kemungkinan besar api terjadi karena reaksi kimia lokal, bukan faktor eksternal.

Koordinator tim, Alva Edy Tontowi, menjelaskan bahwa kesimpulan ini dibangun berdasarkan Prinsip Teori Segitiga Api. Prinsip ini menekankan bahwa tiga komponen—oksigen, bahan bakar, dan sumber panas—perlu hadir bersamaan untuk memicu pembakaran. Dalam kasus ini, meskipun medan elektromagnetik di lokasi diukur dalam tingkat normal, tim tetap menemukan indikasi bahwa resin PVC berperan sebagai bahan bakar yang mudah terbakar.

“Tim PKPE FT UGM dan mengacu pada Prinsip Teori Segitiga Api menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik terukur pada level aman yang berarti bukan pemantik nyala api,” tutur Alva saat memberikan keterangan kepada awak media, Sabtu (13/6/2026).

Alva menambahkan, tidak ditemukan bukti mengenai keberadaan gas alam bumi yang memicu kebakaran. Suhu lingkungan juga tidak menunjukkan anomali termal, sehingga memperkuat gagasan bahwa api berasal dari sumber internal. “Sumber api bukan dari rembesan gas alam dari bawah permukaan (lantai), tidak ada anomali termal dan tidak ditemukan gas yang dapat menyala sendiri (self-ignition) pada suhu kamar,” lanjutnya.

Proses Investigasi: Metode Ilmiah dan Hipotesis Awal

Dalam upaya mencari akar masalah, tim mengumpulkan data melalui berbagai teknik penelitian. Mulai dari pengukuran medan elektromagnetik, pemetaan bawah tanah menggunakan georadar dan geolistrik, hingga analisis kandungan gas di lokasi. Hasil pengukuran menunjukkan medan listrik serta medan magnetik berada dalam kisaran normal, mengurangi kemungkinan api diakibatkan oleh faktor lingkungan.

Tim juga mengambil sampel residu kebakaran dari berbagai permukaan, seperti dinding kayu, tembok, tanah, dan abu hasil pembakaran. Sampel tersebut kemudian diuji menggunakan metode Headspace Gas Chromatography (GC) dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Hasil analisis menunjukkan adanya konsentrasi tinggi resin PVC yang mudah terbakar.

Sebelumnya, tim sempat menyusun hipotesis bahwa api mungkin berasal dari gas hidrogen dan fosfin yang terbentuk secara alami dari limbah pemotongan ayam. Namun, setelah pengujian lanjutan, dugaan ini tidak mendapat dukungan bukti kuat. Alva mengatakan, meskipun beberapa variabel diperiksa, semua indikator mengarah pada kesimpulan bahwa bahan kimia lokal menjadi faktor utama.

“Tim PKPE FT UGM menemukan data lanjutan bahwa api yang membakar material pada kasus rumah api Seyegan kemungkinan berasosiasi dengan adanya resin poly vinyl chloride yang mudah terbakar jika bertemu sumber api (ignition),” jelas Alva.

Penelitian ini juga mengungkap keunikan kasus kebakaran di Seyegan. Meski munculnya api secara tiba-tiba menimbulkan pertanyaan, tim menganggap fenomena ini lebih tepat disebut “kasus langka” daripada “misteri tak terpecahkan.” Dengan memadukan analisis kimia dan fisika, tim berhasil mengisolasi penyebab spesifik, yaitu resin PVC.

Kesimpulan akhir penelitian membuka wawasan baru tentang cara api bisa muncul di lingkungan tertentu. Alva menyatakan bahwa masyarakat sering kali mengaitkan kebakaran dengan faktor eksternal, seperti perangkat elektronik atau alam. Namun, dalam kasus ini, bahan kimia dalam material bangunan berperan sebagai penyebab utama.

Berbagai metode ilmiah yang digunakan, termasuk FTIR dan GC, memberikan data yang konsisten. Analisis FTIR membantu mengidentifikasi struktur kimia resin PVC, sementara GC memperjelas komponen gas yang terlibat. Kombinasi kedua teknik ini memberikan bukti yang jelas bahwa api tidak terjadi secara spontan, melainkan karena reaksi kimia pada bahan lokal.

Alva menekankan pentingnya memahami hubungan antara bahan bakar dan sumber panas. Dalam banyak kasus kebakaran, faktor seperti kelembapan, suhu tinggi, atau keberadaan bahan mudah terbakar menjadi kunci. Kebakaran di Seyegan menunjukkan bahwa bahan kimia yang tersembunyi dalam material bangunan bisa menjadi “pemicu” dalam kondisi tertentu.

Kasus ini menjadi contoh bagaimana faktor lokal bisa menyebabkan fenomena yang tampaknya aneh. Meski masyarakat awam sering mengira kebakaran terjadi karena kekuatan alam atau teknologi, penelitian UGM membuktikan bahwa kombinasi bahan kimia dan kondisi lingkungan bisa menciptakan situasi yang memicu api. Hasilnya tidak hanya menjelaskan kasus tertentu, tetapi juga memberikan wawasan untuk menghindari kejadian serupa di masa depan.

Dengan menyelesaikan misteri kebakaran di Seyegan, Tim PKPE FT UGM membuka jalan bagi lebih banyak investigasi serupa. Kebakaran yang tampak misterius bisa saja memiliki akar masalah yang sederhana, selama tidak ada faktor eksternal yang memicu. Pemahaman ini penting untuk meningkatkan keselamatan dan mencegah kejadian serupa di tempat lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *