Investasi Rp1 Triliun Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan
Pondokkebaikan.com – Dalam rangka memperkuat ketahanan pangan bagi masyarakat Jakarta, sebuah kawasan peternakan sapi terintegrasi sedang dikembangkan di wilayah Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Proyek strategis ini mencakup lahan seluas 20 hektare yang akan dikelola secara profesional oleh Perumda Dharma Jaya, sebuah badan usaha milik daerah (BUMD) yang menjadi bagian dari pemerintah DKI Jakarta. Kawasan yang dikenal dengan nama Ciangir ini dirancang untuk menjadi pusat produksi daging sapi yang modern dan efisien. Dengan Investasi Rp1 Triliun Jakarta Kembangkan kawasan ini, diharapkan pasokan daging segar dapat meningkat secara signifikan.
Proyek Infrastruktur dengan Nilai Investasi Rp1 Triliun
Pembangunan infrastruktur di kawasan Ciangir ini dijadwalkan akan dimulai secara resmi pada bulan November 2026. Total nilai investasi yang dialokasikan untuk proyek ini mencapai satu triliun rupiah. Fokus utama pada tahap pertama pembangunan akan diarahkan khusus untuk pengembangan peternakan sapi, meskipun rencana ke depan mencakup diversifikasi usaha ternak lainnya. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, telah menyatakan bahwa peternakan sapi merupakan langkah awal dari pengembangan kawasan yang lebih luas. Proyek ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah DKI dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor peternakan.
“Kemudian juga untuk ayam, ikan, dan sebagainya,” ujar Pramono Anung, yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Kabinet. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kawasan Ciangir akan berkembang menjadi pusat peternakan multi-ternak di masa depan.
Dasar Hukum dan Pengelolaan Lahan
Penggunaan lahan seluas 20 hektare tersebut merupakan tindak lanjut dari persetujuan Barang Milik Daerah (BMD) yang telah diterbitkan oleh Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD) Provinsi DKI Jakarta. Persetujuan resmi ini tertuang dalam Surat Nomor 1880/UD.02.01 yang dikeluarkan pada tanggal 23 Juni 2026. Dokumen hukum ini menjadi landasan penting bagi Perumda Dharma Jaya dalam mengelola dan mengembangkan kawasan peternakan di wilayah Banten tersebut. Dengan dasar hukum yang kuat, proyek ini dapat berjalan sesuai rencana tanpa hambatan signifikan.
Direktur Utama Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, menjelaskan bahwa kawasan ini akan difungsikan sebagai pusat penggemukan sapi modern. Tujuannya jelas, yaitu untuk mendukung ketersediaan pasokan daging sapi yang stabil bagi masyarakat Jakarta. Pernyataan ini disampaikan pada hari Jumat, tanggal 31 Juli 2026, saat melakukan kunjungan kerja ke lokasi proyek. Raditya juga menambahkan bahwa teknologi modern akan diintegrasikan dalam seluruh proses operasional kawasan.
“Kawasan ini akan dikelola sebagai pusat penggemukan sapi modern yang mendukung ketersediaan pasokan daging sapi bagi masyarakat Jakarta,” jelas Raditya Endra Budiman. Dengan konsep ini, efisiensi produksi dapat ditingkatkan secara optimal.
Konsep Terintegrasi dari Hulu hingga Hilir
Kawasan peternakan Ciangir dirancang dengan konsep terintegrasi yang mencakup seluruh rantai produksi dari hulu hingga hilir. Pada sisi hulu, berbagai fasilitas akan dibangun untuk mendukung proses penggemukan sapi. Fasilitas tersebut meliputi kandang penggemukan sapi, kandang karantina, gudang pakan, bunker silase, laboratorium, jembatan timbang, serta area loading dan unloading yang memadai. Semua fasilitas ini dirancang untuk memastikan kualitas sapi yang dihasilkan sesuai standar pasar.
Sementara itu, di sisi hilir kawasan akan dilengkapi dengan rumah potong hewan (RPH), cold storage, dan fasilitas pengolahan daging (meat processing). Kawasan ini juga memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk menjaga lingkungan, perkantoran operasional, serta cadangan lahan hijauan pakan ternak. Pasokan pakan ternak di kawasan ini rencananya akan diproduksi secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi modern untuk memastikan kualitas dan efisiensi produksi. Konsep terintegrasi ini menjadikan kawasan Ciangir sebagai model peternakan modern yang komprehensif.
Dampak bagi Ketahanan Pangan Jakarta
Pengembangan kawasan peternakan terintegrasi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang DKI Jakarta dalam memastikan ketersediaan daging sapi yang cukup bagi warganya. Dengan lokasi yang strategis di Banten, dekat dengan Jakarta, proses distribusi daging segar dapat dilakukan dengan lebih efisien. Infrastruktur senilai satu triliun rupiah ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap pasokan daging dari luar daerah. Investasi Rp1 Triliun Jakarta Kembangkan kawasan ini menjadi langkah konkret dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Proyek ini juga membuka peluang bagi pengembangan sektor peternakan lainnya di masa depan, sesuai dengan visi Gubernur Pramono Anung untuk diversifikasi usaha. Dengan konsep terintegrasi dan dukungan teknologi, kawasan Ciangir berpotensi menjadi model peternakan modern yang dapat ditiru di wilayah lain. Selain itu, proyek ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar, sehingga memberikan dampak ekonomi positif bagi wilayah Banten dan DKI Jakarta secara keseluruhan.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Proyek Kawasan Peternakan Ciangir
Kapan pembangunan kawasan peternakan Ciangir dimulai? Pembangunan dijadwalkan akan dimulai secara resmi pada bulan November 2026, dengan fokus utama pada pengembangan peternakan sapi pada tahap pertama.
Berapa luas lahan yang digunakan untuk proyek ini? Lahan yang digunakan untuk kawasan peternakan Ciangir seluas 20 hektare, yang telah mendapat persetujuan dari BPAD DKI Jakarta.
Apa saja fasilitas yang akan dibangun di kawasan ini? Fasilitas yang akan dibangun meliputi kandang penggemukan sapi, kandang karantina, gudang pakan, bunker silase, laboratorium, jembatan timbang, RPH, cold storage, dan fasilitas pengolahan daging.
Siapa yang mengelola kawasan peternakan Ciangir? Kawasan peternakan Ciangir dikelola oleh Perumda Dharma Jaya, sebuah badan usaha milik daerah (BUMD) yang menjadi bagian dari pemerintah DKI Jakarta.




