Ahli: Jangan abaikan diare berdarah dan kram perut berulang

Ahli: Jangan abaikan diare berdarah dan kram perut berulang

Peringatan Khusus untuk Gejala Gangguan Pencernaan

Ahli – Dalam sebuah wawancara di Tangerang, Prof Murdani Abdullah, konsultan gastroenterologi dan hepatologi dari Eka Hospital MT Haryono, menekankan bahwa masalah pencernaan yang tidak membaik meskipun sudah diobati, termasuk tanda-tanda penyakit radang usus kronis atau Inflammatory Bowel Disease (IBD). Ia mengingatkan bahwa gejala seperti diare berdarah dan nyeri perut yang berulang perlu mendapat perhatian lebih, karena bisa mengindikasikan kondisi yang serius.

“Selain itu peradangan pada penyakit Crohn dapat menembus seluruh ketebalan dinding usus secara acak,” kata Prof Murdani di Tangerang, Selasa.

Perbedaan IBD dan IBS: Penyebab serta Dampak

Menurut Prof Murdani, IBD berbeda secara mendasar dengan Irritable Bowel Syndrome (IBS), yang hanya merupakan gangguan fungsi pencernaan tanpa kerusakan jaringan. IBD adalah kondisi peradangan yang mengakibatkan gangguan pada usus, seperti luka dan perdarahan. Dalam penjelasannya, ia menyoroti bahwa penyakit ini tidak bisa diatasi hanya dengan obat maag biasa, melainkan memerlukan pengobatan spesifik.

Kelainnya, Prof Murdani menjelaskan bahwa IBD memiliki dua bentuk utama: Kolitis ulseratif (ulcerative colitis) dan Crohn’s disease. Kolitis ulseratif terbatas pada usus besar dan rektum, dengan ciri utama munculnya luka yang merata di dinding saluran pencernaan. Sementara itu, Crohn’s disease bisa menyerang bagian mana pun dari usus, dari mulut hingga anus, dan menyebabkan peradangan yang melibatkan seluruh lapisan dinding usus. Kedua jenis ini memerlukan diagnosis yang akurat untuk menentukan pengobatan yang tepat.

Lihat Juga :   Visit Agenda: Gubernur Sumut pastikan penanganan korban kecelakaan Bus ALS di Sumsel

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Prof Murdani menguraikan gejala yang mengarah pada IBD, termasuk buang air besar cair yang berlangsung lebih dari dua minggu, seringkali disertai darah segar, lendir, atau nanah. Nyeri perut yang terjadi di area bawah atau sekitar pusar juga menjadi tanda yang signifikan, terutama jika rasa sakit muncul setelah konsumsi makanan. Tanda lain yang tidak boleh diabaikan adalah penurunan berat badan drastis tanpa perubahan pola makan, karena usus yang meradang tidak mampu menyerap nutrisi secara efektif.

“Jangan abaikan gejala diare berdarah atau kram perut yang berulang. Penanganan IBD sejak dini menggunakan prosedur diagnostik modern, seperti kolonoskopi, sangat krusial untuk menyelamatkan jaringan usus dari kerusakan permanen,” katanya.

Gejala lain yang sering muncul adalah rasa lelah yang tidak hilang meskipun sudah istirahat cukup. Hal ini disebabkan oleh tubuh yang kehabisan energi untuk melawan peradangan, atau akibat anemia yang diakibatkan oleh kehilangan darah berulang. Selain itu, demam ringan dan kebiasaan berkeringat berlebihan bisa muncul akibat respons sistem imun terhadap infeksi atau peradangan aktif di dalam tubuh.

Penyebab serta Faktor Pemicu

Dalam wawancaranya, Prof Murdani menyebutkan bahwa penyebab pasti IBD belum diketahui secara lengkap. Namun, para ahli memastikan bahwa kondisi ini berkaitan dengan gangguan sistem kekebalan tubuh. “Sistem imun pasien mengalami gangguan, bukannya melawan virus atau bakteri, mereka justru menyerang sel-sel sehat di saluran pencernaan sendiri secara agresif,” kata Prof Murdani.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengidap IBD meliputi riwayat genetik, usia, gaya hidup yang tidak sehat, dan penggunaan obat anti-nyeri secara terus-menerus. Faktor-faktor ini bisa memperparah kondisi atau memicu peradangan di usus. Menunda pengobatan IBD, lanjutnya, dapat menyebabkan komplikasi fatal, bahkan ancaman nyawa.

Lihat Juga :   782 calon haji Pamekasan masuk kategori berisiko tinggi

Penanganan dan Prospek Pengobatan

Prof Murdani menjelaskan bahwa meskipun IBD merupakan penyakit yang bersifat kronis dan belum bisa disembuhkan secara total, terapi medis dapat menekan peradangan hingga pasien mencapai fase remisi. Kombinasi obat-obatan, pengaturan pola makan, dan tindakan bedah jika diperlukan menjadi langkah utama dalam pengelolaan penyakit ini.

Pasien yang mengalami kebocoran atau penyumbatan usus mungkin memerlukan intervensi bedah untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Dalam hal ini, pengobatan dini sangat penting karena memungkinkan diagnosis lebih cepat dan tindakan yang tepat sebelum kondisi memburuk. “Penyebab pasti IBD belum diketahui. Namun, para ahli memastikan bahwa kondisi ini melibatkan gangguan sistem kekebalan tubuh,” ujarnya.

Pentingnya Deteksi Dini

Prof Murdani menggarisbawahi bahwa gejala awal IBD seringkali diabaikan karena dianggap sebagai masalah kecil. Namun, jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi penyakit yang mengancam organ pencernaan. Ia menyarankan masyarakat segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami gejala seperti diare berdarah, nyeri perut berulang, atau penurunan berat badan tanpa alasan jelas.

Diagnosis modern, seperti kolonoskopi dan endoskopi, menjadi alat penting untuk mengidentifikasi kerusakan pada usus. Prof Murdani menekankan bahwa teknik ini tidak hanya membantu mengetahui jenis IBD, tetapi juga memungkinkan dokter merencanakan pengobatan yang tepat. “Dengan penanganan yang tepat, pasien bisa menjalani kehidupan normal, meskipun penyakitnya bersifat jangka panjang,” katanya.

Menurut ahli tersebut, IBD memerlukan pendekatan komprehensif karena sifatnya yang kompleks. Selain obat, penyesuaian pola makan untuk menghindari makanan yang memicu peradangan juga dianjurkan. Pemantauan berkala dan pengendalian stres berperan besar dalam mencegah flare-up penyakit. Prof Murdani menegaskan bahwa setiap gejala yang mengganggu kehidupan sehari-hari harus mendapat perhat

Lihat Juga :   439 calon haji asal Ciamis gelombang pertama diberangkatkan