Key Discussion: Dubes Palestina: Karya foto M Adimaja hadirkan esensi kerukunan agama

Key Discussion: Dubes Palestina dan Karya Foto M. Adimaja Tampilkan Esensi Kerukunan Agama

Key Discussion – Dubes Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari, secara langsung menyampaikan kebanggaannya terhadap karya foto jurnalistik Muhammad Adimaja yang berjudul “Ursyalim.” Dalam Key Discussion yang diselenggarakan di ANTARA Heritage Center, Jakarta Pusat, pada Jumat malam, beliau menjelaskan bahwa karya ini mengeksplorasi nilai-nilai harmoni antaragama di Palestina. “Kami hidup bersama seperti satu keluarga besar, sama seperti masyarakat di Indonesia,” ujarnya dalam pidato yang disampaikan dalam bahasa Inggris. Key Discussion ini menjadi wadah untuk menjelaskan bagaimana budaya damai dan sistem sosial Palestina membentuk kerukunan lintas agama yang kuat.

Kerukunan Agama dalam Struktur Sosial Palestina

Kebudayaan toleransi di Palestina, menurut Abdalfatah Alsattari, terbentuk melalui struktur birokrasi dan institusi keluarga. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Palestina menghargai keberagaman agama sebagai bagian dari identitas nasional. Contohnya, dalam sistem pemerintahan, semua individu diakui tanpa memandang latar belakang keimanannya. Bahkan, dalam misi diplomatiknya di Ghana, ia didampingi oleh diplomat Kristen. Situasi ini memperkuat Key Discussion bahwa kerukunan agama bisa terwujud di tengah keberagaman.

“Penting untuk memahami bahwa penghormatan terhadap situs suci keagamaan menjadi fondasi harmoni di Palestina,” tutur Dubes Palestina, menyoroti pentingnya Masjid Al-Aqsa bagi umat Islam, Gereja Kelahiran (Nativity Church) untuk umat Kristiani, serta Tembok Ratapan sebagai tempat ibadah umat Yahudi. Foto-foto dalam karya M. Adimaja menggambarkan keharmonisan tersebut dengan sudut pandang yang mendalam.

Pameran dan Buku Foto: Visualisasi Nilai Kerukunan

Pameran fotografi “Ursyalim” yang digelar di ANTARA Heritage Center, Pasar Baru, Jakarta, tidak hanya memperlihatkan keindahan kota suci tetapi juga menggambarkan kehidupan masyarakat Palestina yang damai. Dalam Key Discussion, Dubes Palestina menegaskan bahwa kerukunan lintas agama bukan hanya simbol, tetapi juga praktik nyata yang diwariskan melalui generasi. Buku foto ini mencakup sekitar 100 karya hasil liputan langsung M. Adimaja pada Februari 2026, dengan tema yang memadukan historisitas dan kekinian.

Lihat Juga :   Solving Problems: Grup Purple Tea rilis enam lagu soundtrack Night Shift for Cuties

Dubes Palestina juga menekankan bahwa kolaborasi antara jurnalistik dan seni bisa menjadi alat efektif untuk memperkuat Key Discussion tentang perdamaian. “Karya ini ingin menyampaikan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan penghalang,” imbuhnya. Pameran ini diperkirakan menarik minat publik Indonesia untuk mengenal lebih dekat budaya dan kehidupan masyarakat Palestina. Selain itu, Acara Diskusi Taman Langit yang diadakan pada Jumat (29/5) pukul 19.00 WIB di lokasi yang sama akan membahas lebih lanjut tentang esensi kerukunan yang diangkat dalam karya M. Adimaja.

Key Discussion ini juga menyoroti peran media dalam menyebarkan nilai-nilai kerukunan. Foto-foto yang ditampilkan menggambarkan bagaimana masyarakat Palestina menjunjung tinggi keharmonisan di tengah dinamika sosial dan politik. “Dengan media visual, kita bisa menyampaikan pesan yang lebih kuat dan mudah dipahami,” kata Dubes Palestina. Ia menambahkan bahwa pameran ini memberikan gambaran konkret tentang bagaimana keagamaan menjadi bagian dari kehidupan sosial yang dinamis, bukan hanya sekadar ritual.

Peluncuran buku foto “Ursyalim” disediakan dalam bentuk fisik, dengan pemindahan kode batang (barcode) dari Dompet Dhuafa. Pengunjung bisa mengaksesnya secara gratis dan membeli kopya yang telah dijual di lokasi pameran. Pameran ini berlangsung dari 22 Mei hingga 29 Mei 2026, dengan pameran dan Key Discussion sebagai dua komponen utama untuk mengajak masyarakat berpikir lebih luas tentang kerukunan lintas agama. M. Adimaja, sebagai pewarta ANTARA, berharap karya-karyanya bisa menjadi saksi bisu perjalanan kemanusiaan di Palestina.