Key Strategy: Zulkifli Hasan: Rakyat sebagai pilar pembangunan ekonomi nasional
Zulkifli Hasan: Rakyat sebagai pilar pembangunan ekonomi nasional
Key Strategy – Kupang menjadi tempat untuk menyampaikan gagasan penting Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang menekankan peran rakyat sebagai fondasi utama dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam sebuah pidato di Kampus Stikom Uyelindo, ia menyoroti bahwa sektor pertanian harus dikelola dengan memprioritaskan keterlibatan masyarakat kecil. “Pengelolaan sawit yang besar perlu dimulai dari plasma rakyat, dan proporsi itu seharusnya mencapai 80 persen,” ujarnya pada Jumat. Pernyataan tersebut disampaikan selama memberikan ceramah umum sebagai bagian dari rangkaian kunjungan kerjanya ke Kota Kupang.
Penguatan Ekonomi Rakyat dalam Era Reformasi
Menurut Zulkifli Hasan, perubahan sistem ekonomi selama era reformasi memperkenalkan kebebasan pasar yang memberikan keuntungan besar kepada perusahaan besar. “Sistem ini membuat pemilik modal dominan, sehingga bisnis di berbagai sektor cenderung dikontrol oleh konglomerasi,” katanya. Hal ini, menurutnya, sering kali menyebabkan rakyat kecil menjadi pihak yang dirugikan. Dalam pidatonya, ia menjelaskan bahwa salah satu tujuan kunjungan kerjanya adalah untuk memperbaiki kondisi ini. “Presiden Prabowo sedang berupaya memperbaikinya dengan menekankan kepemilikan usaha yang lebih terpusat pada masyarakat,” tambahnya.
“Pengelolaan Sawit yang kebun besar, dibuat inti plasma rakyat harus 80 persen. Pengusaha besar tidak boleh semua. Usaha rakyat, ownership itu rakyat, bukan konglomerasi,”
Dalam upaya mendorong kesejahteraan petani dan peternak, Zulkifli Hasan mengatakan bahwa penguatan ekonomi rakyat harus dilakukan secara bertahap. “Tujuannya agar mereka bisa meraih swasembada pangan dan meningkatkan kemandirian ekonomi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa dengan memperkuat sektor pertanian, rakyat akan memiliki daya tahan terhadap krisis ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan.
Peran Teknologi dalam Pertanian
Zulkifli Hasan juga menyoroti pentingnya teknologi dalam meningkatkan efisiensi sektor pertanian. “Teknologi mampu mengurangi biaya produksi dan meningkatkan produktivitas,” katanya. Contohnya, dalam pemotongan padi, teknologi mampu menggantikan tenaga manusia yang sebelumnya dibutuhkan oleh 24 orang dalam satu hari. “Dengan teknologi, luas lahan yang bisa dikelola mencapai 24 hektare dalam waktu yang sama,” ujarnya. Teknologi, menurutnya, tidak hanya digunakan untuk panen, tetapi juga mencakup proses seperti pemupukan dan penyiraman tanaman menggunakan drone serta alat modern lainnya.
“Kalau panen padi itu memerlukan tenaga manusia 24 orang satu hari, kalau teknologi satu hari 24 hektare,”
Ia menjelaskan bahwa adopsi teknologi tidak hanya efektif dalam mengoptimalkan produksi, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup petani. “Dengan mengurangi beban kerja, mereka bisa fokus pada pengembangan usaha yang lebih berkelanjutan,” tambah Zulkifli Hasan. Ia berharap program pemerintah bisa memfasilitasi akses teknologi bagi masyarakat pedesaan, sehingga tidak hanya pengusaha besar yang mengambil manfaat.
Kebijakan Kredit Usaha Rakyat
Dalam konteks pemberdayaan ekonomi, Zulkifli Hasan menyoroti kebijakan kredit usaha rakyat (KUR) yang saat ini diarahkan dengan bunga yang lebih rendah. “Saat ini, arahan Presiden membatasi bunga maksimal hingga 8 persen, sementara sebelumnya hampir di setiap perkampungan ada kredit Mekar dengan bunga 24 persen,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan upaya pemerintah untuk membuat pembiayaan lebih mudah dicapai oleh masyarakat kecil. “Dengan bunga yang lebih terjangkau, rakyat bisa mengembangkan usaha tanpa tekanan besar,” jelasnya.
Pelatihan dan Kebutuhan Ahli Gizi
Dalam rangkaian kegiatan kunjungan kerjanya, Zulkifli Hasan juga memberikan ceramah di STIKES Kupang. Ia menekankan bahwa kehadiran ahli gizi sangat dibutuhkan di seluruh Indonesia. “Lulusan STIKES sangat penting karena kebutuhan akan tenaga ahli gizi saat ini masih kurang,” katanya. Pernyataan ini didukung oleh fakta bahwa setiap Satuan Pemberdayaan Produksi Gizi (SPPG) wajib memiliki tenaga ahli gizi. Namun, jumlah lulusan yang tersedia masih terbatas.
“Hampir di setiap perkampungan ada kredit Mekar dengan bunga 24 persen. Saat ini arahan Presiden, pengajuan kredit oleh rakyat maksimal 8 persen bunga,”
Menurut Zulkifli Hasan, kebutuhan tenaga gizi akan terus meningkat seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, yang merupakan salah satu prioritas pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. “Program ini berdampak langsung pada kebutuhan akan ahli gizi di setiap daerah,” ujarnya. Dengan adanya program tersebut, peluang kerja bagi lulusan gizi diperkirakan akan semakin luas. Ia juga menyarankan bahwa institusi pendidikan seperti STIKES harus terus berperan dalam melahirkan tenaga ahli yang berkualitas.
Kunjungan Kerja dan Pengukuhan DPW PAN NTT
Kunjungan kerja Menko Pangan dimulai dengan penyaluran 1.000 paket sembako kepada umat Gereja Bethel Indonesia (GBI) NTT di Kupang. Aktivitas ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendukung masyarakat yang membutuhkan. Selanjutnya, Zulkifli Hasan memberikan ceramah kepada mahasiswa STIKES Kupang, Universitas Muhamadyah, dan Stikom Uyelindo. Dalam kesempatan terakhirnya, ia melakukan pengukuhan pengurus DPW dan DPD PAN NTT, yang disaksikan oleh sejumlah kader partai, relawan, serta Gubernur dan Wakil Gubernur NTT serta Ketua DPRD NTT.
Dalam pidato penutupannya, Zulkifli Hasan menyatakan bahwa peran rakyat tidak hanya terbatas pada sektor pertanian. “Kesejahteraan rakyat harus dilihat secara menyeluruh, termasuk dalam peningkatan kualitas hidup mereka melalui akses pendidikan, kesehatan, dan teknologi,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa pemerintah harus terus berupaya memperkuat kemandirian rakyat, agar ekonomi nasional tidak bergantung sepenuhnya pada faktor eksternal.
Kehadiran Zulkifli Hasan di Kupang menegaskan komitmen untuk men